Penyakiat autoimun (seperti psoroasis, penyakit Crohn, dan arhritis rheumatoid) terjadi ketika sistem imun tubuh menyerang diri sendiri sehingga timbul reaksi berlebih dan memenuhi tubuh dengan protein yang merangsang.
Peradangan jangka pendek dan lokal bisa disembuhkan, namun jika terlalu banyak dan lama, maka akan membahayakan sel dan sistem organ.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
(Baca juga: 8 Penyakit yang Muncul Akibat Gangguan Autoimun)
Saat ini, para peneliti yang meneliti alasan mengapa wanita lebih rentan pada penyakit ini sedang berfokus pada hormon jenis kelamin, seperti estrogen dan testosteron. Studi terbaru telah membuahkan hasil dari sudut pandang yang berbeda.
Secara terperinci, tim yang dipimpin oleh Johann Gudjonsson dari Univeristy of Michigan tersebut telah mengidentifikasi ratusan perbedaan khusus tentang bagaimana gen mengekspresikan diri mereka.
Penelitian tersebut berfokus pada penyakit autoimun kulit, yaitu psoriasis dan lupus. Meskipun lupus menyerang seluruh tubuh, empat dari 11 doagnosis penyakit ini berhubungan dengan kulit.
Studi tersebut menganalisa sampel materi genetik kulit dari 82 pria dan wanita sehat. Tak ada satu pun partisipan yang memiliki penyakiit autoimun. Namun, mereka memiliki perbedaan mencolok dalam ekspesi gen.
"Secara total, para peneliti menemukan 661 gen yang berekspresi secara berbeda antara pria dan wanita dimana kebanyakan berkaitan dengan fungsi imun dan penyakit autoimun," ujar peneliti pertama Yun Liang, seorang penyelidik penelitian dermatologi dalam sebuah pernyataan.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa gen seksual yang dibiaskan berkontribusi cukup tinggi pada peningkatan kerentanan dan aktivitas penyakit.
"Dalam konteks ini, kami mencatat bahwa wanita memiliki faktor risiko tertinggi untuk mengembangkan autoimun dan hal tersebut mengerdilkan varian risiko genetik autoimun yang terindentifikasi," jelas para peneliti.
Tim bajlan telah mengidentifikasi satu protein, bernama VGLL3 sebagai regulator penguasa dari peradangan dan autoimunitas. Dalam analisis sampel kulit sehat, VGLL3 hanya aktif pada wanita. Namun, pada biopsi dari pasien autoimun, protein tersebut juga aktif pada penderita lupus pria.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
