Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Woro Titi Haryanti. (Foto: Istimewa)
Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Woro Titi Haryanti. (Foto: Istimewa)

Cintai Membaca, Tingkatkan Literasi

Rona manfaat membaca
K. Yudha Wirakusuma • 27 Juni 2020 19:13
Jakarta: Kecintaan membaca dapat ditanamkan orangtua kepada anak sedari kecil. Dengan membaca, pengetahuan kita pun akan semakin luas dan meningkatkan literasi.
 
Apalagi kemajuan tekonologi informasi dan komunikasi (TIK) amat pesat. Derasnya perkembangan teknologi tidak terelakkan membuat keluarga dan masyarakat harus siaga mengikutinya.  
 
Sejak virus Covid-29 mewabah, banyak sekali ditemukan berita maupun informasi terkait hal tersebut yang ternyata palsu (hoaks). Keadaan akan semakin buruk jika semua hoaks dapat dipercaya oleh masyarakat. 
 
Penyebaran hoaks dapat dicegah sedini mungkin agar tidak memberikan efek berbahaya, salah satunya dengan membaca.  
 
“Bobotmu ditentukan dari seberapa banyak yang kamu baca,” ujar Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Woro Titi Haryanti, mengutip sebuah filosofi dari Jepang
Lewat kecintaan membaca selanjutnya berkembang pada kemampuan literasi digital yang mencakup pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital secara sehat, cerdas, dan bijak.
 
Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia tidak kurang 43 ribu situs di Indonesia mengklaim sebagai portal berita. Namun, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tidak sampai 300. Artinya, masih ada puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita/informasi hoax yang mesti diwaspadai. 
 
Berlatar belakang itu, Perpustakaan Nasional RI bersama Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, menggelar Webinar “Mencegah Hoaks Dengan Membaca”, pada Jumat, 26 Juni 2020.
 
Webinar ini mengupas bagaimana pentingnya membaca dan menghidupkan aktivitas literasi. Kemampuan membaca yang diawali dengan kecintaan terhadap membaca itu sendiri. 
 
Sementara Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, mengatakan banjir bandang informasi menyebabkan masyarakat sulit membedakan informasi mana yang benar dan bohong. Ini tantangan dalam mengelola informasi.
 
"Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang suka ngobrol. Lebih-lebih di media sosial, dimana pengguna Facebook dan Instagram di Indonesia menyentuh angka puluhan juta," bebernya.
 
Dia mengakui ada beberapa alasan kenapa hoaks bisa beredar cepat. Pertama karakter masyarakat Indonesia yang suka ngobrol, sehingga lebih rentan terkena hoaks. 
 
Kedua, masyarakat Indonesia juga lebih percaya jika mendapatkan informasi dari orang-orang terdekat. Ketiga, situasi yang mempengaruhi terlebih di saat pandemi.  "Ini yang membuat hoaks tumbuh subur karena masyarakat masih sulit mencari referensi Covid-19 yang terhitung baru," tambahnya.
 
Salah satu penyebab hoaks, adalah belum ajegnya budaya baca secara fisik dengan buku-buku, lalu dengan cepat beralih ke budaya baca digital. 
 
Budaya baca digital memerlukan kemampuan literasi yang kuat. Dan masyarakat Indonesia masih rentan karena belum mampu memilih serta memilah informasi yang tepat dan sesuai kebutuhan.
 

 
(YDH)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif