Berkat kejeniusannya, salah satu penemuan Habibie yang disebut
Berkat kejeniusannya, salah satu penemuan Habibie yang disebut "Crack Progression Theory" (Foto: Rommy Pujianto/MI)

Habibie Jenius Berkat Pola Asuh sang Ayah

Rona Pola Asuh Habibie Meninggal Dunia
Medcom • 12 September 2019 17:07
Jakarta: Bangsa Indonesia kehilangan tokoh negarawan, Presiden ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie. Sang 'Bapak Pesawat' ini tutup usia karena mengalami gagal jantung pada 11 September 2019 sekitar pukul 18.05 WIB.
 
Masyarakat hingga pejabat mengungkapkan rasa bela sungkawa atas wafatnya Bapak Demokrasi tersebut. Sahabat dari negara tetangga pun mengaku sangat kehilangan.
 
Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie sebelumnya pernah menjabat wakil presiden, Menteri Riset dan Teknologi serta berbagai jabatan strategis lainnya semasa pemerintahan Presiden Soeharto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


BJ Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Dalam bidang teknologi penerbangan, kejeniusannya tak diragukan lagi. Ia pun memperoleh gelar doktor di Jerman.
 
Berkat kejeniusannya, salah satu penemuan Habibie yang disebut "Crack Progression Theory" atau faktor Habibie masih digunakan oleh semua pesawat di dunia. Suami almarhumah Hasri Ainun Besari itu pun dikenal sebagai Bapak Teknologi.
 
Ketertarikan Habibie pada ilmu fisika, khususnya sains, sudah tumbuh sejak kecil. Kejeniusan itu juga disebabkan pola asuh Ayahnya, Alwi Abdul Djalil Habibie.
 
Cara Alwi mengasuh Rudy, nama kecil Habibie, membuatnya selalu ingin tahu segala hal dan selalu ingin memecahkan masalah yang ditemuinya. Serumit apapun itu.
 
Seperti dilansir sahabatkeluarga.kemendikbud, saat berusia 2-3 tahun, Rudy adalah anak yang selalu ingin tahu segala sesuatu dan cerewet menanyakan segala sesuatu yang ditemui untuk dilihat pada ayahnya.
 
Salah satunya, kala itu, waktu Rudy berusia tiga tahun, Rudy menanyakan, apa yang dilakukan ayahnya dengan menggabungkan kedua pohon yang berbeda atau tak sejenis.
 
Alwi pun tak kesal dengan pertanyaan Rudy, ia menanggapi dengan jawaban yang serius bukan dengan jawaban sederhana. Tetapi jawaban serius dengan cara sesederhana mungkin, sehingga Rudy kecil mampu memahaminya dengan baik.
 
“Papi sedang melakukan eksperimen, jadi kita bisa menemukan jawaban dari percobaan. Nah, ini namanya setek. Batang yang di bawah itu adalah mangga yang ada di tanah kita, tapi rasanya tidak seenak mangga dari Jawa. Jadi, batang Mangga dari jawa, Papi gabungkan dengan batang yang di bawah ini”, kata Alwi dikutip dari sahabatkeluarga.kemdikbud.
 
Rudy kembali bertanya, “Mengapa Papi gabungkan?” Jawaban ayahnya: “Agar kamu dan teman-teman bisa makan Mangga yang enak”.  Lantas Rudy bertanya lagi: “Kalau gagal bagaimana?”.  Jawaban ayahnya: “ Kita cari cara lain dan pohon Mangga lain agar bisa tumbuh di sini”.
 
Habibie Jenius Berkat Pola Asuh sang Ayah
Foto almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie bersama ibunda RA Habibie di rumah milik ibundanya di Bandung. (Foto: Antara/Novrian Arbi)
 
Rudy pun puas atas jawaban ayahnya dan itulah yang selalu dilakukan ayahnya setiap kali Rudy bertanya segala sesuatu, dijawab dengan cara sesederhana mungkin agar bisa dipahami anak kecil. Dengan cara itulah, keingintahuan Rudy terus tumbuh dan terasa sampai dewasa.
 
Namun demikian, pekerjaan ayahnya sebagai landbouwconsulent atau setara dengan Kepala Dinas Pertanian di Parepare, Sulawesi Selatan, membuatnya tak bisa selalu menjawab keingintahuan Rudy.
 
Dengan keterbatasan waktu, Alwi pun menemukan solusi dengan mengajarkan Rudy kecil membaca. Tujuannya agar Rudy bisa mencari jawaban atas pertanyaannya melalui buku-buku.
 
Dengan cara seperti itu, hasilnya pun sangat memuaskan. Pada usia empat tahun, Rudy sudah lancar membaca dan rajin melahap berbagai macam buku yang disediakan Ayahnya. Buku pun menjadi cinta pertama Rudy dan membaca menjadi bagian hidupnya.
 
Rudy menyukai buku-buku karya Leonardo Da Vinci dan buku fiksi ilmiah karya Jules Verne. Selain itu, ia juga senang sekali membuka buku-buku bahasa Belanda. Ketika ada kata-kata yang sulit Rudy pahami, ia pun tak segan bertanya pada orang tuanya. Sehingga orang tuanya membelikan kamus Indonesia-Belanda agar Rudy bisa belajar sendiri.
 
Namun, karena kegemarannya membaca buku, Rudy jadi terus mengurung dirinya di kamar. Ketika berbicara dengan orang di luar rumah pun ia menjadi gagap karena tidak terbiasa.
 
Dapat kita akui, pola asuh orang tua berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Seperti halnya, metode penanaman literasi sains yang Alwi terapkan di keluarga, membuat Rudy kecil berkembang dengan baik.
 
Budaya membaca di rumah dan menjawab setiap pertanyaan Habibie kecil membuatnya tumbuh menjadi manusia yang gemar mencari setiap masalah dan menemukan solusinya. Termasuk dengan teknologi kedirgantaraan yang membuatnya menjadi pakar ilmu penerbangan yang terkenal di dunia.
 
Sandra Odilifia
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif