Kebanyakan kemarahan timbul akibat rasa tidak nyaman pada orang lain. (Foto: Rawpixel/Unsplash.com)
Kebanyakan kemarahan timbul akibat rasa tidak nyaman pada orang lain. (Foto: Rawpixel/Unsplash.com)

Cara Mengatasi Kemarahan Pasangan

Rona romansa keluarga
Anda Nurlaila • 12 Februari 2019 07:22
Jakarta: Hubungan bersama pasangan pasti mengalami pasangan surut. Rasa bahagia dan nyaman yang dirasakan satu sama lain juga kerap diwarnai masalah. Sehingga menyebabkan salah satu atau keduanya marah.  
 
Tantangan terbesar dalam hubungan yang sehat adalah bagaimana menghadapi pasangan yang sedang kesal atau marah tanpa harus tertular sikap negatifnya. Selain itu tantangan lainnya adalah berusaha membuat pasangan mengubah perilakunya. 
 
Psychology Today menyebut ada empat hal yang perlu diperhatikan untuk mengembalikan emosi suami atau istri agar stabil kembali yaitu identitas korban, menyalahkan kondisi, narsisme sementara dan atribut negatif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


1. Identitas korban
Orang yang sedang marah melihat diri mereka sebagai korban ketidakadilan. Mereka sering tersinggung oleh apa yang mereka anggap sebagai ketidakpekaan terhadap "kebutuhan" mereka. 
 
Akibatnya, mereka cenderung merasa diserang oleh upaya apa pun untuk menunjukkan bahwa cara mereka tidak adil, apalagi dampak perilaku mereka atau orang lain.
 
Standar tinggi tentang apa yang harus mereka dapatkan atau yang harus dilakukan orang lain, membuat orang merasa kecewa dan tersinggung. Dari sudut pandang mereka, harus ada kompensasi atas rasa frustasi yang mereka alami. 
 
(Baca juga: Lima Ide Romantis Ini Bikin Pasangan Anda Tersenyum Setiap Pagi)
 

(Kemarahan dan dendam menonjolkan pemikiran sempit dan kaku, memperbesar aspek negatif dari suatu perilaku atau situasi. Foto: Christian Erfurt/Unsplash.com)
 
2. Kondisi menyalahkan
Kebanyakan kemarahan timbul akibat rasa tidak nyaman pada orang lain. Orang yang marah atau kesal menentukan penyebab keadaan emosional mereka ada pada orang lain dan tidak berdaya mengendalikan diri sendiri. 
 
Sebagai gantinya, mereka menggunakan suntikan energi dan kepercayaan diri, didorong oleh adrenalin melalui kebencian dan amarah. Perilaku agresif ini memiliki efek amfetamin dan analgesik, yakni memberi lonjakan energi dan mematikan rasa sakit. 
 
Marah meningkatkan kepercayaan diri dan kekuasaan. Hal ini terasa lebih baik daripada ketidakberdayaan dan kerentanan. Jika sedang marah, seseorang akan cenderung menyalahkan pasangannya atau kehidupan secara umum. 
 
3. Narsisme sementara
Semua orang akan narsis atau mementingkan diri sendiri ketika sedang marah atau benci. Dalam pengaruh adrenalin, kemarahan kecil pun membuat orang merasa berhak dan lebih penting daripada mereka yang merangsang kemarahan mereka. 
 
Rasa percaya diri yang keliru atau kesombongan juga akan muncul saat marah. Pada saat itu, seseorang termotivasi untuk memanipulasi dan tidak mampu berempati.
 
4. Atribut negatif
Kemarahan dan dendam menonjolkan pemikiran sempit dan kaku, memperbesar aspek negatif dari suatu perilaku atau situasi. Mereka yang sedang marah cenderung meremehkan orang yang menimbulkan kemarahan dan kebencian pada diri mereka. 
 
Hal tersebut membuat negosiasi menjadi sangat sulit. Walaupun marah yang dipendam tanpa dikeluarkan hal negatif ini akan memengaruhi komunikasi dengan orang-orang terdekat. 
 
5. Emosi penyembuhan
Jika kesal atau marah, seseorang akan mudah hidup dalam rasa sakit. Namun, setelah mengetahui dan mengobati luka penyebab kemarahan dan kekecewaan dia akan memiliki sifat welas asih. 
 
Kasih sayang akan mematahkan identitas korban, kebiasaan menyalahkan, narsisme sementara, dan atribusi negatif pada diri seseorang. 
 
6. Ketegasan yang penuh kasih
Agar pasangan berubah, sikap lebih penting daripada kata-kata. Pasangan harus yakin bahwa suami/istri takkan pulih tanpa kasih sayang. 
 
Penting untuk melihat pasangan bukan sebagai musuh, tetapi seseorang yang sedang mengingkari nilai-nilainya sendiri. Pendekatannya harus selalu dengan sikap menghargai dan simpati. 
 
Saat telah memberi contoh dengan empati, simpati dan kasih sayang, pasangan juga akan termotivasi melakukan hal serupa. 
 

 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi