Keberadaan G-spot masih diperdebatkan para ahli bahkan hingga kini. (Foto Ilustrasi: Pexels)
Keberadaan G-spot masih diperdebatkan para ahli bahkan hingga kini. (Foto Ilustrasi: Pexels)

G-Spot, Sebuah Mitos atau Fakta?

Rona seks
Anda Nurlaila • 21 Mei 2019 19:19
Seorang dokter asal Jerman, Ernst Gräfenberg menjadi pencetus G-Spot. Tapi bagian yang disinyalir ada di area sensitif dari dinding anterior vagina itu diyakini masih menjadi bahan perdebatan para ahli.
 
Jakarta:
Pada pria ukuran alat kelamin dan kepuasan seks adalah mitos yang paling populer. Sementara di kalangan wanita, perdebatan panjang terjadi seputar ada tidaknya daerah sensitif di alat kelamin wanita, yakni G-spot.
 
G-spot pertama kali tercetus dari mulut seorang dokter asal Jerman, Ernst Gräfenberg. Ia pertama kali menulis tentang zona sensitif seksual wanita tersebut. Istilah G-sport kian populer setelah sebuah buku yang dirilis pada 1982.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Letak zona kesenangan seksual wanita ini diperkirakan berada di dinding vagina anterior. Area di belakang tulang kemaluan wanita sering dianggap sebagai pemicu orgasme vagina, dan bahkan katalis untuk ejakulasi wanita.
 
Pada saat bersamaan G-spot disebut mitos yang dibuat Sigmund Freud, yaitu, bahwa orgasme klitoris adalah bentuk "klimaks" yang lebih rendah daripada orgasme vagina, yang membutuhkan penetrasi penis. Konsultan seks, Ian Kerner, meringkas, bahwa dalam pandangan Freud, Jika seorang wanita tidak bisa puas dengan seks penetrasi, sesuatu pasti salah dengan dirinya.
 
Keberadaan G-spot masih diperdebatkan para ahli bahkan hingga kini. Konselor seks Seth Prosterman menyatakan, G-spot ada dan sumber orgasme yang kuat pada wanita.
 
Prosterman dan pakar yang menyakini adanya lokasi sesnsitif ini menunjukkan G-spot mungkin merupakan perpanjangan dari anatomi klitoris, yang meluas kembali ke saluran vagina. Kerner menulis bahwa G-spot mungkin tidak lebih dari akar klitoris yang bersilangan dengan spons uretra.
 
Namun, pakar lainnya Profesor Urologi di Universitas California, Ira Sharlip, menyatakan G-spot tidak ada.
 
"Saya kira G-spot itu tidak ada. Sebagai ahli urologi kami beroperasi di daerah itu di mana G-spot harusnya ada dan tidak ada apa-apa di sana - tidak ada struktur anatomi di sana," katanya.
 
Helen O'Connell, MD, kepala unit neurourologi di Departemen Urologi Royal Melbourne Hospital di Australia, mengatakan, G-spot fakta atau fiksi mungkin tidak terlalu penting. O'Connell, yang juga ikut menulis studi Journal of Urology 2005 tentang anatomi klitoris, mengatakan fokus pada G-spot dan mengesampingkan bagian tubuh wanita lainnya
 
"Seperti merangsang testis pria tanpa menyentuh penisnya dan mengharapkan orgasme terjadi dari hanya cinta yang hadir," kata O'Chonnel.
 
Lebih lanjut, Chonnel mengatakan fokus pada bagian dalam vagina dengan mengesampingkan klitoris tidak mungkin menghasilkan orgasme. Yang terbaik adalah memikirkan klitoris, uretra, dan vagina sebagai satu unit karena mereka saling terkait erat.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif