Penting memilih lingkungan yang sehat serta belajar memahami antara kebutuhan dan keinginan, belajar mengontrol diri. (Foto Ilustrasi: (Pexels)
Penting memilih lingkungan yang sehat serta belajar memahami antara kebutuhan dan keinginan, belajar mengontrol diri. (Foto Ilustrasi: (Pexels)

Cara Menangani Arus Gaya Hidup yang Berlebihan

Rona psikologi
Sunnaholomi Halakrispen • 13 Juli 2019 11:00
Gaya hidup memang dapat dipengaruhi oleh orang lain juga tidak lepas dari perkembangan zaman dan teknologi. Untuk itu kita harus pintar-pintar mengontrol nafsu kita agar tak melulu mengikuti gaya hidup orang lain.
 
Jakarta: Tren gaya hidup semakin berkembang. Baik dari sisi gadget dan alat elektronik lainnya, tas, sepatu, perlengkapan make up, lokasi makan, hingga gaya nongkrong atau bermain. Segalanya membutuhkan uang.
 
Semakin berusaha mengikuti tren gaya hidup yang terkini, semakin banyak juga uang yang dikeluarkan untuk memenuhinya. Tak khayal, orang di sekitar pun bisa memengaruhi gaya hidup Anda.
 
Sederhananya, gaya hidup memang dapat dipengaruhi oleh orang lain juga tidak lepas dari perkembangan zaman dan teknologi. Hal tersebut dibenarkan oleh Meriyati Budiman, M.Psi, Psi. Gaya hidup sendiri bisa dikatakan sebagai gambaran diri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Gaya hidup adalah gambaran tingkah laku, pola, dan cara hidup yang ditunjukkan seseorang dari bagaimana dirinya beraktivitas, minat, dan ketertarikannya, serta apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri," ujar Meriyati kepada Medcom.id.
 
Psikolog di RS Pondok Indah itu menyatakan, gaya hidup bisa saja berpengaruh pada kepuasan diri sendiri. Namun, pada akhirnya kembali pada diri masing-masing atau setiap orang berbeda.
 
"Apabila dirinya berpikir keinginannya akan prestise itu besar baginya, maka gaya hidupnya cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis. Biasanya apabila keinginan seseorang semakin meningkat, maka kepuasan pun akan semakin menjauh," tuturnya.
 
Dengan kata lain, tidak akan ada habisnya. Maka dari itu, Meriyati menekankan bahwa rasa syukur dan rasa cukup berkaitan erat dengan rasa puas. Apabila kurang merasa bersyukur dengan kondisi gaya hidup yang dimiliki, maka cenderung tidak puas dan terus mengikuti gaya hidup orang lain.
 
Selain berpengaruh pada kepuasan pribadi, gaya hidup juga menjadi upaya untuk membuat diri menjadi eksis dengan cara tertentu. Begitu pula untuk menunjukkan dirinya berbeda dari kelompok lain.
 
"Hal ini pun dipengaruhi oleh faktor kepribadian dan konsep dirinya, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya akan memengaruhi minatnya terhadap sesuatu. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya," papar dia.
 
Penanganan yang tepat ketika keinginan mengikuti tren memuncak berlebihan hanya satu caranya. Yakni, komitmen pada diri sendiri untuk tetap pada porsi yang mampu ditempuh dan selalu merasa cukup.
 
Penting memilih lingkungan yang sehat serta belajar memahami antara kebutuhan dan keinginan, belajar mengontrol diri, lebih memaknai apa yang dimiliki, lebih banyak bersyukur, serta menghargai sesuatu yang ada. Penting juga untuk memahami diri sendiri atau kenal diri, mengetahui potensi apa yang dimiliki.
 
Praktikkan potensi tersebut sehingga memancarkan semangat positif dan menjadi inspirasi bagi lingkungan. Bukannya mengikuti tren demi mendapat pengakuan diri dari lingkungan.
 
"Demikian halnya dengan menyadari kekurangan diri agar kita dapat mengubahnya ke arah yang lebih baik. Selain itu, tentunya dapat juga konsultasi psikologis ke psikolog agar mendapatkan bimbingan yang tepat secara psikologis untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih baik," pungkas Meriyati.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif