Sejarawan teknologi Melvin Kranzberg: Teknologi tidak baik atau buruk; tidak juga netral. (Foto Ilustrasi-Freepik)
Sejarawan teknologi Melvin Kranzberg: Teknologi tidak baik atau buruk; tidak juga netral. (Foto Ilustrasi-Freepik)

3 Alasan Seseorang Kecanduan Smartphone

Rona smartphone psikologi
Medcom • 22 Juli 2020 15:30
Jakarta: Smartphone atau ponsel cerdas telah menjadi bagian dari manusia. Kemana pun atau aktivitas apa pun, ponsel selalu ada dalam genggaman.
 
Jadi apa yang membuat orang-orang tertarik dengan telepon genggam ini? Tentunya, bukan sekadar desain yang inovatif atau hubungan yang dekat dengan komunitas.
 
Menurut buku Growing Down: Theology and Human Nature in the Virtual Age, ponsel merasuk ke dalam kerinduan dasar kita sebagai manusia. Berikut tiga alasan mengapa kita mencintai ponsel kita:

1. Bagian dari extended self

Kesadaran mengenai diri kita mulai terbentuk sejak dalam kandungan. Namun, perkembangan pemahaman kita mengenai diri berkembang dengan cepat setelah kita lahir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seorang bayi yang baru lahir pertama-tama menggantungkan dirinya kepada pengasuh utama. Selanjutnya pada benda-benda,-dengan ini mengembangkan yang disebut 'diri yang diperluas' (extended self).
 
3 Alasan Seseorang Kecanduan Smartphone
Perkembangan pemahaman kita mengenai diri berkembang dengan cepat setelah kita lahir. (Ilustrasi-Freepik)
 
Psikolog terkemuka Amerika abad 20, William James, termasuk orang pertama yang mengajukan adanya konsep diri yang diperluas. Dalam bukunya Principles of Psychology James mengartikan diri sebagai 'keseluruhan dari semua hal yang seseorang bisa sebut sebagai miliknya, tidak hanya tubuh dan kekuatan psikis-nya, tapi juga pakaiannya, rumahnya, istrinya dan anak-anaknya'.
 
Kehilangan satu dari perluasan diri ini—bisa mencakup uang atau benda berharga lainnya—menurutnya bisa menyebabkan rasa kehilangan yang hebat. Pada masa awal kanak-kanak, misalnya, bayi dan balita menangis bila tiba-tiba mereka kehilangan dot atau boneka favorit mereka, benda-benda yang menjadi bagian dari 'diri yang diperluas' mereka.
 
Ponsel memiliki peran serupa. Kita dapat merasa gelisah jika menjatuhkan telepon atau tidak bisa menemukan di mana telepon itu berada. Banyak orang yang merasa demikian. Hal itu juga tercermin dari betapa seringnya kebanyakan dari kita mengecek gawai yang kita punya.
 
Psikolog Larry Rosen dan koleganya di California State University menemukan bahwa, 51% individu yang lahir pada 1980-an dan 1990-an mengalami kecemasan dengan kadar sedang hingga tinggi, ketika mereka dihalangi untuk mengecek gawai mereka selama lebih dari 15 menit.
 
Yang menarik, persentase ini sedikit turun menjadi 42% pada mereka yang lahir antara 1965 hingga 1979.
 
Ini utamanya karena mereka hidup di saat piranti genggam baru saja muncul. Untuk kelompok ini, baru ketika mereka remaja akhir atau dewasa muda telepon menjadi perluasan diri.

2. Mengingatkan hubungan penuh kasih sayang

Menilik teori psikodinamika, yang berpendapat bahwa pengalaman masa kanak-kanak membentuk kepribadian. Dalam artian, hubungan kita dengan teknologi mirip dengan lingkungan yang orang tua kita ciptakan ketika merawat kita.
 
Lingkungan ini, tulis psikiater Inggris, Donald W. Winnicot, bekerja di seputar sentuhan, kesadaran yang tajam mengenai kebutuhan bayi, serta membangun dan memelihara kontak mata.
 
Dengan cara yang sama, kita sebagai orang dewasa, mengalami kembali sentuhan dan rasa memiliki melalui telepon genggam kita. Teknologi memberikan sebuah ruang di mana diri bisa dipuaskan, bermain, dan merasa hidup—ruang yang sebelumnya diberikan oleh pengasuh.
 
3 Alasan Seseorang Kecanduan Smartphone
Hubungan kita dengan teknologi mirip dengan lingkungan yang orang tua kita ciptakan ketika merawat kita. (Ilustrasi: Freepik)
 
Saat kita menggenggam telepon, hal itu mengingatkan kita akan momen intim—entah dari masa kanak-kanak atau kehidupan dewasa kita. Zat kimiawi otak dopamin dan hormon cinta oksitosin, yang berperan dalam menciptakan rasa 'mabuk' candu, menyerbu. Zat-zat kimiawi ini juga menciptakan rasa memiliki dan keterikatan.
 
Menggenggam telepon memiliki efek yang sama seperti ketika orang tua memandang anaknya dengan penuh cinta, atau ketika sepasang kekasih saling bertatapan. Dalam ucapan eksekutif Apple Philip Schiller: iPhone X “mempelajari siapa Anda”.

3. Memenuhi kebutuhan untuk memproduksi dan mereproduksi

Antropolog Michael Taussig mengingatkan kita bahwa dalam diri kita ada 'sifat alamiah untuk menyalin, meniru, membuat model dan mengeksplorasi perbedaan'. Ketika kita mencoba menjadi diri yang lebih baik atau berbeda.
 
Smartphone membantu kita melakukan itu semua. Kita memotret, memanipulasi gambar, bergabung dalam diskusi, memilih selfie untuk dipamerkan, dan menjangkau orang lain. Dengan mengirim pesan bolak balik, kita bersama-sama menjalin percakapan.
 
3 Alasan Seseorang Kecanduan Smartphone
Smartphone membantu kita melakukan itu semua. Kita memotret, memanipulasi gambar, bergabung dalam diskusi, memilih selfie untuk dipamerkan, dan menjangkau orang lain. (Ilustrasi: Freepik)
 

Melalui pencarian, kita jadi berpengetahuan luas (sekali pun kurang bijaksana). Dengan demikian, kita bergabung dengan nenek moyang kita yang melukis pada dinding gua dan bercerita di sekeliling api unggun.
 
Dengan telepon genggam dalam hidup kita, tubuh kita merasakan getaran atau mendengar deringan, meski tak ada notifikasi atau panggilan telepon, sebuah pertanda yang para peneliti hubungkan dengan ketergantungan kita yang semakin besar pada smartphone.
 
Artikel ini telah tayang di laman The Conversation. Artikel dengan judul "3 alasan kita kecanduan ponsel canggih" ini ditulis oleh Jaco J. Hamman (Associate Professor of Religion, Psychology, and Culture, Vanderbilt University).

 
(FIR)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif