Bakat tidak bisa dipengaruhi lingkungan. Kalau pun bisa, pengaruhnya sangat kecil. "Jadi, seorang anak yang berbakat matematis, mekanis, seni atau olahraga misalnya, tidak bakal bakatnya hilang atau turun hanya karena kejadian seperti nilai akademik rendah," begitu ujar Dr. Dono.
(Baca juga: 7 Tips Melancarkan Bicara Batita)
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Siapakah Anak Berbakat Itu?
Dr. Dono menerangkan bahwa semua anak tentu memiliki bakat. Ada yang hanya kuat di satu bidang saja, misalnya bakat ‘seni verbal’ seperti berpidato atau menyanyi. Tetapi ada yang memiliki bakat di beberapa bidang sekaligus.
Anak terakhir ini disebut “multi-talented” alias berbakat darab. Misalnya, ia punya bakat kuat dalam berhitung, memainkan tubuh dan anggota badannya, dan berpikir dalam kata-kata.
Anak ini akan cakap dalam matematika, mengingat banyak nomor telepon, menari, bermain sirkus, bercerita, mendongeng, dan berpidato.
"Dalam khasanah psikologi, ada istilah “gifted child” atau “anak berbakat.” Ini maksudnya bukan sekadar anak yang punya satu atau banyak bakat.
Seorang anak disebut “anak berbakat” jika ia sekaligus memiliki tiga hal: kemampuan umum di atas rata-rata, komitmen kuat terhadap tugas-tugas (yang berkaitan dengan bakatnya) dan kreativitas yang tinggi," ulas Dr. Dono.
"Anak berbakat ditandai dengan sikap kritis, banyak bertanya, agak susah diatur, punya rasa ingin tahu yang besar dan memiliki komitmen dan motivasi yang tinggi. Misalnya, anak yang berbakat tak cuma ingin main ke mal, namun mereka juga memiliki keinginan untuk mengunjungi museum dan berbagai tempat lainnya," tukas Dr. Dono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
