Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ. (Foto: Raka Lestari/Medcom.id)
Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf SpKJ. (Foto: Raka Lestari/Medcom.id)

Peran Orang Tua demi Menghindari Upaya Bunuh Diri pada Anak

Rona bunuh diri psikologi remaja
Raka Lestari • 12 Juli 2019 10:58
Sebagai orang tua, sudah seharusnya untuk bisa memerhatikan perilaku anak-anak mereka. Orang tua sangat bertanggung jawab untuk pay attention-nya, demi menghindari percobaan bunuh diri di kalangan remaja.
 
Jakarta:
Ide bunuh diri, ancaman, dan percobaan bunuh diri merupakan hal serius yang harus segera ditangani. Sehingga dibutuhkan langkah preventif untuk menurunkan angka kejadiannya.
 
Untuk kasus bunuh diri pada remaja, salah satu hal penting yang dapat dilakukan yaitu deteksi dini yang bertujuan untuk menemukan faktor risiko penyebab bunuh diri pada remaja. Salah satunya adalah peran orang tua untuk memerhatikan perilaku anak-anak mereka dalam kesehariannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Untuk mencegah upaya bunuh diri pada remaja, penting sekali bagi orang tua untuk perhatian terhadap anak-anaknya. Orang tua sangat bertanggung jawab untuk pay attention,” ujar Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, dokter spesialis kedokteran jiwa, di Universitas Indonesia.
 
Dr. dr. Riyanti juga menjelaskan jika orang tua memerhatikan adanya perubahan pada diri anak mereka, perlu dilakukan tindakan preventif. Seperti dengan membawa anak-anaknya tersebut ke psikolog atau psikiater.
 
"Yang penting jangan sampai anak tersebut didiamkan begitu saja. Artinya orang tua sudah menunjukkan perannya sebagai orang tua," ujar Dr. dr. Riyanti.
 
Menurutnya, orang tua bisa memilih cara penanganan. Baik melalui psikiater atau psikolog yang bisa memberikan kenyamanan. Kalau dirasa diperlukan obat, bisa dirujuk ke psikiater. Begitupun sebaliknya.
 
Pada akhirnya, menurut Dr. dr. Riyanti, orang tua harus mengikuti perkembangan zaman. Orang tua harus mau mengedukasi dirinya untuk mengikuti pola asuh yang mengikuti zaman.
 
"Hal tersebut mau tidak mau harus dilakukan karena akan selalu ada pergeseran. Akan terus ada pergeseran-pergeseran bukan hanya budaya tapi juga value, dan pergerakan-pergerakan yang ada di masyarakat," terangnya.
 
Menurut data WHO Global Estimates tahun 2017, kematian global akibat bunuh diri yang tertinggi berada pada usia 20 tahun. Terutama terjadi di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.
 
Sedangkan pada 2016, WHO mencatat bahwa kematian pada remaja laki-laki usia 15-19 tahun disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, kekerasan interpersonal dan menyakiti diri sendiri. Sementara pada perempuan disebabkan oleh kondisi maternal, dan menyakiti diri sendiri.
 

(FIR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif