Tina Donvito memberi pencerahan, walaupun terjebak di rumah, rumah adalah tempat yang paling aman dengan orang tercinta. (Foto: Dok. Tina Donvito/RD)
Tina Donvito memberi pencerahan, walaupun terjebak di rumah, rumah adalah tempat yang paling aman dengan orang tercinta. (Foto: Dok. Tina Donvito/RD)

kisah

Tina Donvito, Penulis Lepas yang Berusaha Bersyukur di Tengah Pandemi

Rona keluarga kisah
Sunnaholomi Halakrispen • 16 Juni 2020 12:45
Jakarta: Pandemi covid-19 membuat semua orang belajar terbiasa berada di dalam rumah. Tina Donvito selaku Penulis di Reader's Digest pun menceritakan kisahnya. Baginya, tinggal di rumah memberikan kesempatan emas untuk merangkul perhatian dan bersyukur.
 
Pada hari Jumat, 13 Maret, putranya yang berusia enam tahun pulang ke rumah dengan satu paket besar lembar kerja di ranselnya. Lalu ia menantikan email yang ditakuti, yakni tentang apakah sekolah akan ditutup atau tidak setidaknya untuk dua minggu ke depan. 
 
Ya, lockdown atau pembatasan wilayah akibat covid-19 telah dimulai, dan orang diwajibkan isolasi mandiri di rumah. Reaksi awal, ia merasa lega karena sekolah ditiadakan. Setidaknya ia tahu anaknya aman berada di rumah bersamanya. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menghabiskan akhir pekan dengan bersembunyi di rumah bagaikan kutu tanah di halaman belakang. Ia mendirikan ruang kelas bagi anaknya yang berada di meja ruang makan, mengumpulkan pensil, krayon, dan kertas. Awalnya, ia pikir tidak akan ada masalah dan bisa tetap waras selama isolasi di rumah.
 
Tina Donvito, Penulis Lepas yang Berusaha Bersyukur di Tengah Pandemi
(Awalnya semua terasa berat. Melakukan semua hal dalam satu waktu. Foto: Pexels.com)

Kenyataan yang mengejutkan selama isolasi di rumah

Namun ketika isolasi dimulai, kenyataan pun muncul. Pada hari pertama dari apa yang disebut belajar dari jarak jauh, ia menyadari bahwa ia hanya memiliki satu anak untuk diajari yang memiliki gangguan pendengaran dan memakai alat bantu dengar. 
 
Jadi, di luar kelas utama sekolahnya, si kecil biasanya mendapatkan layanan khusus dari seorang guru tuna rungu. Kemudian, pelatihan atau kelas khusus dari terapis wicara, terapis okupasi, dan terapis fisik. 
 
Lalu, ada kelas musik, kelas seni, pendidikan komputer, perpustakaan, dan pendidikan jasmani. Ia pun menyadari sedang menjadi 10 guru mata pelajaran sekaligus dan pekerjaan mulai menumpuk.
 
Kenyataannya lainnya, keluarganya tidak akan dapat makan malam mingguan di rumah orang tuanya atau pergi melihat sang ibu mertua. Anaknya juga tidak akan bisa bersama dengan teman-teman atau sepupunya atau bermain sepak bola pada musim semi.
 
Muncullah rasa bersalah yang karena memiliki anak tunggal, yakni apakah suaminya dan dirinya akan cukup menjadi teman sang buah hati. Kemudian tentang bagaimana si kecil melakukannya tanpa ada orang seusianya yang bisa bermain dengannya.
 
Tina Donvito, Penulis Lepas yang Berusaha Bersyukur di Tengah Pandemi
(Situasi pandemi dan karantina, terkadang membuat ibu karier yang melakukan semua hal merasa begitu berlebihan. Foto: Pexels.com)

Badai pesimis datang

Meskipun pekerjaannya sebagai penulis lepas memungkinkan dirinya fleksibel, hari sekolah yang biasanya harus dijalani justru sekarang dihabiskan dengan hari sekolah di rumah. Ini berarti beralih dari satu pekerjaan sebagai guru di pagi hari ke pekerjaan lain sebagai penulis pada sore hari. 
 
Banyak hari tidak terasa melambat, bahkan hingga waktu tidur tiba. Kemudian, kembali saat bangun pagi di keesokan harinya. Ini adalah kenormalan baru yang cukup intens yang harus dilaluinya sebagai wanita pekerja beranak satu.
 
Bahkan dengan semua hak istimewa yang dimilikinya dengan pekerjaan yang bisa dilanjutkan dari rumah, situasinya kini terasa luar biasa. Ketika melihat rumah yang cukup besar dengan halaman belakang, makanan berantakan di atas meja, dan lainnya.
 
Sistem pendukung seakan hilang, karena teman dan keluarga tidak ada yang bisa ditemui secara fisik. Hanya kunjungan virtual yang bisa dijangkau. Di sisi lain, perjalanan belanjaan tanpa proses dekontaminasi selama dua jam, hilang. Begitu banyak hal negatif, sulit untuk melihat yang positif.
 
Tina sendiri mengakui bahwa rasa terima kasih sulit ia temukan. Ia merupakan seorang perfeksionis yang terlalu sering berpikir tentang apa saja yang ia lewatkan. Sedangkan suaminya, kebalikannya, karena selalu mendorong Tina untuk menghargai hidup dalam segala ketidaksempurnaannya. 
 
Sang suami senang dengan apa yang dimilikinya, sementara Tina terlalu sering fokus pada apa yang tidak ia miliki. Jadi, orang akan berpikir bahwa karantina akan melemparkan dirinya lebih jauh ke dalam spiral negatif, semakin tidak bersyukur dalam hidup.
 
Tina Donvito, Penulis Lepas yang Berusaha Bersyukur di Tengah Pandemi
(Sebuah titik balik yang memberikan Tina pemahaman positif. Foto: Pexels.com)

Titik balik

Awalnya memang terasa begitu bagi Tina. Ada air mata dan penyesuaian besar dan tekanan dari seluruh rutinitas yang terganggu, kehidupan yang terganggu. Tetapi, suatu hari ketika mencoba mencetak semua lembar kerja kelas yang dibutuhkan, ia menyadari dirinya berteriak pada printer di depan putranya. 
 
"Mengapa printer ini tidak bisa mencetak hal bodoh ini?" Tina berteriak, nyaris tidak bisa menahan amarahnya dan berusaha untuk tidak mengutuk, meski kata bodoh yang diucapkannya bukan ungkapan baik. 
 
Putranya pun menghampiri Tina dengan tenang sambil berkata, "Tenang, Bu. Mungkin jika Ibu tidak berteriak pada printer, itu akan berhasil. Ibu harus memiliki kesabaran."
 
Tina pun tersadar, si kecil benar. Tina memang membutuhkan kesabaran dengan seluruh situasi yang tengah dihadapinya. 
 
Ia pun berhenti, menyadari ini perilaku yang tidak ingin anaknya lihat. Seperti yang sering kali ia suruh kepada anaknya, ia pun menarik napas dalam-dalam dan berjalan menjauh dari printer itu. 
 
Kemudian pada hari itu, ketika keduanya berada di luar, Tina mencoba mempertahankan rasa tenang yang telah ia raih. Suatu kali ia menghilangkan semua kecemasan tentang penyebaran virus, sekolah, dan pekerjaan. Terasa begitu damai dan menyenangkan.
 
Ia pun bermain frisbee dengan anaknya, hanya menikmati kebersamaan satu sama lain ditemani kicauan burung di sekitar rumahnya. Itu adalah momen setiap hari tidak akan pernah ia terima begitu saja di lain waktu.
 
Tina Donvito, Penulis Lepas yang Berusaha Bersyukur di Tengah Pandemi
(Geser perhatian kepada yang lebih positif. Foto: Pexels.com)

Memberi rahmat

Sejak saat itu, segalanya menjadi sedikit lebih mudah. Ia mulai memberi rahmat pada dirinya sendiri dan semua orang di sekitarnya. "Kita semua melakukan yang terbaik yang kita bisa sekarang, dan tidak ada lagi yang bisa kita lakukan," tuturnya. 
 
Ia berhenti memegang standar perfeksionis dalam dirinya dengan semua hal kecil yang dilalui sejak saat itu. 
 
Sebab, Tina menyadari bahwa kesempurnaan dari segala sesuatu merupakan hal yang mustahil untuk digapai dan hanya menyebabkan kekecewaan jika tidak sesuai harapan.
 
Dengan rahmat itu, ia pun menggeser perhatian utamanya. Menyelesaikan setiap lembar kerja sekolah si kecil dengan menikmatinya. Kemudian tugas membersihkan rumah, menghabiskan waktu bersama keluarga, serta tetap sehat secara emosional dan fisik.
 
Dengan berfokus satu sama lain, ia juga menyadari, mungkin untuk pertama kali dalam hidupnya, ia benar-benar membiarkan dirinya hadir mengikuti berjalannya waktu. Sebab, masa depan adalah satu tanda tanya besar, jadi tidak mungkin untuk membayangkan apa pun yang belum terjadi. 
 
Penekanannya, seseorang yang mengkhawatirkan setiap situasi yang akan datang, tidak tahu apa yang akan terjadi sebenarnya. Kondisi isolasi di rumah karena covid-19 ini membuat Tina sadar dengan cara yang tak pernah bisa dilakukan sebelumnya. Seperti memerhatikan setiap suara alam dan setiap bunga yang muncul saat musim semi. 
 
Juga setiap hal kecil yang bisa ia habiskan bersama anaknya yang sebelumnya ia anggap remeh, kini menjadi berharga. Si kecil terkadang masih membuatnya terasa gila, karena tidak ada yang bisa menjadi orang tua sepanjang waktu tanpa frustrasi. Tetapi, ia telah menemukan lebih banyak kepuasan untuk menyeimbangkan kegilaan itu.
 
Tina Donvito, Penulis Lepas yang Berusaha Bersyukur di Tengah Pandemi
(Tempat teraman adalah bersama keluarga. Foto: Pexels.com)

Tumbuh rasa syukur

Tina telah menemukan penghargaan atas waktu ekstra yang di miliki bersama keluarga kecilnya selama berada di rumah saja. Ia pun bisa menerima keadaan di tengah pandemi ini. Sikap sadar yang mulai ia kembangkan itu menuntunnya ke sesuatu yang lain, yang sebelumnya selalu sinis dihadapi, yaitu rasa syukur.
 
Ia menjadi sangat sadar bahwa tidak semua orang mengalami situasi yang sama. Beberapa orang dalam kondisi sakit atau bahkan sekarat, atau mempertaruhkan hidup mereka untuk pekerjaan mereka. Beberapa orang kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki rumah aman yang penuh makanan.
 
Dalam pandemi global yang mengerikan ini, ia sadar bahwa keluarganya cukup beruntung. Ya, ia memang terpisah jarak dari teman dan keluarga besarnya. Tetapi walaupun terjebak di rumah, rumah adalah tempat yang paling aman dengan dua orang di dunia yang paling ia cintai.
 
Perspektif baru ini membuat dirinya lebih sadar dibandingkan sebelumnya, yakni tentang penghargaan yang ia miliki untuk hidupnya. Maka dari itu, meluangkan waktu untuk merenungkan hal ini adalah salah satu hal yang harus Anda lakukan untuk diri sendiri selama isolasi mandiri di rumah.
 
Memang tidak ada yang mau dikarantina, dan tentu saja tidak ada yang suka dengan apapun alasannya. Ini waktu yang sangat sulit, dan semua emosi harus dilalui. 
 
Hal yang harus disadari adalah, seperti kebanyakan kesulitan dalam hidup. Bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana seseorang menanggapinya. Itu memengaruhi persepsi terhadap peristiwa tersebut. 
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif