Tema Khusus Rona

Ketika Calon Dokter Coba Narik Ojek

Raka Lestari 20 November 2018 13:08 WIB
kisah inspiratif
Ketika Calon Dokter Coba <i>Narik</i> Ojek
Ini cerita seorang mahasiswa kedokteran menyambi sebagai pengendara ojek daring. Ahmad Nabhan namanya. Mahasiswa kedokteran di Universitas Muhammadiyah Palembang. (Foto: Dok. Cody/Instagram @nabhancody)
Jakarta: "Selamat siang ibu? Sudah di mana?" ketik pengendara ojek daring. "Saya menunggu di depan mie ayam pas seberang Bareskrim ya bu? Sahut-sahutan jawaban pesan singkat. Interaksi biasa penumpang dan pengedara ojek daring (ojol). 

Nomor polisi sekian sudah siap menunggu penumpang di meeting point yang sudah dijanjikan. Perbekalan seperti masker, penutup rambut, dan helm disiapkan. Dalam gerimis, hujan, atau panas terik tak pernah absen mengantar penumpang. Di sini perjuangan di atas aspal diuji. 

Jika bicara prestise, profesi ini memang sering dianggap tidak bergengsi. Namun, terbukti cukup menarik buat siapapun. Motivasi mereka yang menggelutinya pun beragam.


Ini cerita seorang mahasiswa kedokteran menyambi sebagai pengendara ojek daring. 

Kali ini bukan memakai mobil, melainkan motor. Ahmad Nabhan namanya. Mahasiswa kedokteran di Universitas Muhammadiyah Palembang yang namanya sempat viral beberapa waktu yang lalu.

Selidik punya selidik, Cody, sapaan akrabnya, ia juga merupakan cucu dari pengusaha martabak terkenal di Palembang. Martabak HAR namanya.


(Ini cerita seorang mahasiswa kedokteran menyambi sebagai pengendara ojek daring. Ahmad Nabhan namanya. Mahasiswa kedokteran di Universitas Muhammadiyah Palembang. Foto: Dok. Cody/Instagram @nabhancody)

Senang bisa menghasilkan uang sendiri

Sosok Cody yang mapan tak membuatnya malu untuk mencari uang sendiri. Ia mengakui, malah senang mempunyai pendapatan sendiri.

"Jadi pertama kali saya mendaftarkan diri sebagai tukang ojek daring itu pada bulan Juli tahun 2017 lalu. Alasannya adalah karena saya itu kebetulan senang mencari uang dan menghasilkan uang sendiri," ujar Cody kepada Medcom.id saat diwawancara.

"Sebelum menjadi tukang ojek daring memang saya sudah senang berwirausaha, dari mulai jualan pomade, baju, bahkan pernah juga usaha tambak lele," ujar pria berkaca mata ini. 

Cody mengaku bahwa ia memang senang kalau bisa menghasilkan uang sendiri dan mencari uang sendiri. Meskipun sebenarnya Cody sendiri berasal dari keluarga yang cukup mampu secara finansial. Tetapi menurutnya, ada kesenangan tersendiri yang bisa ia dapatkan jika bisa menghasilkan uang sendiri tanpa meminta ke orang tuanya. 

"Kebetulan waktu itu pada saat mendaftar menjadi pengemudi Go-Jek, saya tidak menceritakannya kepada keluarga dan orang tua saya. Sehingga mereka tidak mengetahui bahwa saya menjadi pengemudi ojek daring tersebut," ucapnya sambil tertawa. 

"Teman-teman saya juga banyak yang nanya sama saya dan akhirnya mereka juga jadi banyak yang ikutan menjadi tukang ojek daring. Mereka nanya-nanya sama saya, 'enak enggak jadi pengemudi ojek daring?' Dan saya pun menjelaskan bahwa jadi pengemudi ojek daring itu enak, apalagi waktunya juga fleksibel.'"


(Cody bersama teman-teman. Foto: Dok. Cody/Instagram @nabhancody)

Tetap mengutamakan kuliah 

Meskipun bekerja sebagai tukang ojek daring, pria berusia 23 tahun ini tetap tidak melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa kedokteran yang memang terkenal cukup berat. 

"Biasanya saya sih mengambil orderan ojek daring setiap habis selesai kuliah. Waktu itu sih biasanya saya selesai kuliah jam 2 atau 3 sore. Jadi setelah pulang kuliah itu, saya mengambil orderan dan biasanya hanya sampai magrib atau paling malam sekitar jam 9 lalu pulang ke rumah."

Cody sendiri mengaku untuk saat ini, dirinya memang sudah tidak begitu aktif seperti dulu. Hal ini karena saat ini dirinya sedang melaksanakan koas di rumah sakit sehingga dirinya sudah jarang mengambil penumpang. 

"Kebetulan kalau sekarang sudah jarang aktif ya, kalau pas kuliah memang masih sering. Sekarang kan saya sedang menjalani koas sehingga sangat sibuk, jadi kalau sudah pulang ke rumah inginnya langsung tidur saja. Ditambah lagi, helm dan motor saya untuk mengojek sedang disita sama ibu saya agar saya fokus studi saja dulu," kenangnya sambil tersenyum. 

(Baca juga: Suka Duka Menjadi Pengemudi Ojek Online di Bandung)


(Foto kolase yang dibuat Cody ini sempat viral sampai dirinya dipanggil sebuah acara di tevelisi. Foto: Dok. Cody/Instagram @nabhancody)

Viral di media sosial 

Beberapa waktu yang lalu, postingan Cody sempat menjadi viral di media sosial. Hal ini karena postingannya yang pada saat itu membuat kolase foto di akun instagramnya ketika dirinya menggunakan seragam Go-Jek dan juga ketika dirinya sedang menggunakan jas dokter. 

"Sebenarnya waktu itu saya lagi iseng membuat foto seperti itu. Jadi kan waktu itu maksud fotonya weekdays pakai jas dokter, weekend pakai jaket Go-Jek. Kemudian saya posting di Instagram ternyata viral," tutur Cody. 

Dirinya tidak menyangka bahwa postingannya tersebut diposting ulang oleh salah satu akun gosip. Setelah diposting ulang oleh salah satu akun gosip tersebut, Cody menjadi terkenal bahkan sampai diundang ke salah satu acara talkshow di televisi. 

Karena hal tersebut juga, kedua orang tua dan keluarganya jadi mengetahui bahwa selama ini dirinya bekerja sebagai pengemudi ojek daring.

"Awalnya kena marah, terutama oleh ibu saya karena menurut dia ngapain sih harus jadi tukang ojek daring. Semenjak viral, ibu saya menjadi tahu bahwa selama ini menjadi pengemudi ojek daring dan saya tidak diperbolehkan ngojek lagi. Tetapi kalau bapak saya sih tidak apa-apa, tidak melarang karena toh yang saya lakukan juga merupakan sesuatu yang halal dan lebih santai saja menanggapinya," jelasnya. 


(Saat Cody bertugas menjadi ojol. Foto: Dok. Cody/Instagram @nabhancody)

Suka duka jadi pengemudi ojek daring

Menjadi pengemudi ojek daring, cukup menantang. Apalagi bersinggungan dengan ojek pangkalan. 

"Jadi waktu itu saya pernah ngambil penumpang di daerah yang sebenarnya tidak boleh ngambil di situ. Pada saat itu sekitar jam 9 malam karena kebetulan searah dengan jalan pulang sehingga saya ambil. Tetapi pas sampai di sana, saya diteriakin oleh opang di sana, kemudian saya pun takut dan langsung menelepon pelanggan saya untuk membatalkan pesanannya. Untungnya pelanggan saya itu mau mengerti."

"Kemudian waktu itu juga pernah saya mendapat penumpang untuk mengantar ke tempat yang sangat jauh dan saya tidak tahu daerah mana. Bahkan jalanannya pun masih tanah merah dan masuk ke gang-gang kecil. Saya sempat merasa khawatir kalau saya akan dibegal tetapi untungnya tidak," kenang Cody.

"Pada waktu itu saya bahkan berjanji kalau saya selamat sampai tujuan, tidak akan kembali ngojek lagi," tutur Cody sambil tertawa.

Meskipun ada berbagai macam kesulitan yang dihadapi selama menjadi pengemudi ojek daring, Cody mengaku bahwa dirinya tidak pernah merasa ingin menyerah. 

Cody mengaku dengan menjadi pengemudi ojek daring, dirinya menjadi tahu bahwa untuk mendapatkan uang perjuangannya sangatlah susah. 

"Perbedaannya sekarang saya sudah bisa mendapatkan uang sendiri dengan perjuangan yang tidak mudah. Meskipun kadang dihina-hina tetapi saya sekarang lebih bersyukur bisa mendapatkan uang meskipun kecil. Karena kan untuk mendapatkan Rp10 ribu rupiah saja saya harus berpanas-panasan dulu mengantar penumpang."

Dengan perjuangan yang tidak mudah seperti itu, Cody mengaku bahwa dirinya menjadi lebih hemat dan tidak menghambur-hamburkan uang seenaknya. 

"Dengan menjadi pengemudi ojek daring itu mengajarkan saya untuk lebih bersyukur dan menyadari bahwa mencari uang tidaklah gampang. Jadi uang yang saya dapatkan pun harus dihemat-hemat. Dan rasanya pun merasa bahagia sekali meskipun uang yang didapatkan tidaklah banyak."


(Cody bersama dengan kedua orang tuanya. Foto: Dok. Cody/Instagram @nabhancody)

Terinspirasi dari sang kakek

Cody mengaku bahwa kegigihannya dalam mencari uang sendiri memang terinspirasi dari sang kakek yang merintis usaha dari awal dan bisa menjadi pengusaha martabak yang paling terkenal di Palembang. 

"Saya terinspirasi oleh kakek saya, kebetulan beliau berjuang semuanya dari nol. Jadi kakek saya itu berasal dari India kemudian menjadi imigran gelap di Singapura. Di Singapura itu kakek saya bekerja sebagai tukang sampah, kemudian pindah lagi ke Indonesia dan mulai usaha sampai akhirnya berhasil membuka gerai martabak yang paling terkenal di Palembang," ucap Cody sambil malu-malu.

Menurut Cody, jika kakeknya saja bisa melakukannya dan berhasil mencapai kesuksesan mengapa dirinya harus malu untuk mencari uang sendiri. "Kakek saya saja sudah pernah melakukannya dan sukses, jadi kenapa saya harus malu?" aku Cody yakin.

Meskipun memang, Cody mengaku bahwa terkadang rasa malu ketika sedang 'bertugas' menjadi tukang ojek datang menghampirinya sesekali. 

"Pernah beberapa kali bertemu dengan teman-teman ketika saya sedang mengambil penumpang, ya malu juga sih kadang-kadang. Kalau sama teman cowok-cowok sih biasanya lebih santai, tapi kalau sama teman perempuan biasanya malu. Jadi waktu itu pernah ketemu teman cewek, saya sih lihat dia tapi kebetulan dia enggak melihat saya, jadinya saya enggak menyapa dia sih karena malu," tutur Cody. 

Meskipun begitu, Cody merasa bahwa yang dia lakukan adalah pekerjaan yang halal sehingga rasa malu yang dimiliki harus dilawan. Selain itu, pekerjaan yang dilakoninya pun merupakan pekerjaan yang halal. 

"Pernah waktu itu saya sedang berada di lampu merah, di sana saya merasa sedih banget karena harus berpanas-panas. Di situ saya sadar bahwa mencari uang itu susah, enggak gampang." Dan pelajaran berharga Cody adalah ia kini lebih menghargai hasil kerja kerasnya walau terpaan cuaca tak menentu bisa saja menerjangnya di lapangan.






(TIN)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id