Ilustrasi (Foto: Getty Images)
Ilustrasi (Foto: Getty Images)

Permintaan Maaf Setengah Hati

Rona tips keluarga
Dhaifurrakhman Abas • 05 Juni 2019 13:17
Jakarta: Bowie melakukan pertemuan yang intens dengan bosnya tepat sebelum dia meninggalkan kantor. Percakapan terus mengalir di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.
 
Ketika sampai di depan rumah, Bowie datang dengan tangan hampa. Istrinya Sarah yang membukakan pintu lantas bertanya pada suaminya itu.
 
"Lho, kamu kok enggak bawa camilan?" ujar Sarah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertanyaan itu mengagetkan Bowie dari lamunannya yang masih saja memikirkan soal urusan kantor. Kemudian dia baru ingat bahwa tamu akan datang esok siang untuk bersilaturahmi, dan dia seharusnya membeli beberapa camilan.
 
"Aku akan pergi lagi, sebentar, dan membeli beberapa camilan," Bowie menawarkan.
 
Tetapi ekspresi wajah Sarah terlihat tidak tenang. Tawaran Bowie itu dianggap sudah terlambat. Walhasil, Bowie benar-benar merasa perlu membela diri.
 
"Sungguh, apa masalahnya dengan itu? Dan mengapa kamu selalu memberi Aku waktu yang sulit dengan ekspresi wajahmu itu?" ujar Bowie.
 
Merasa taktik itu tidak membantu, Bowie lantas memutar otak. Kehabisan ide, dia menyerah, kemudian menawarkan permintaan maaf setengah hati.
 
"Ya ampun, aku minta maaf," ucapnya.
 
Tapi Sarah tidak berminat untuk memaafkan. Jadi dia mengangkat bahu dan keluar dari pintu. Tak lupa Sarah mengambil kunci mobil dari tangan suaminya, lalu berangkat ke toko untuk mendapatkan beberapa camilan ringan.
 
Dalam hubungan dengan orang lain, tidak dapat dihindari bahwa Anda mungkin akan menyakiti mereka dari waktu ke waktu. Meskipum barangkali Anda tidak bermaksud demikian.
 
Maka tantangannya adalah menemukan cara untuk memperbaikinya lagi. Penelitian menunjukkan, permintaan maaf yang tulus biasanya sangat efektif untuk memperbaiki hubungan yang telah dirusak oleh pelanggaran atau kesalahan yang diperbuat.
 
Namun jika terlalu sering meminta maaf, orang lain mungkin akan dengan tegas menolak permintaan maaf Anda. Sebabnya, mereka berpendapat bahwa selalu berulang melakukan kesalahan, berarti, Anda tidak benar-benar meminta maaf. Apalagi jika permintaan maaf dilontarkan dengan setengah hati.
 
Psikolog University of Pittsburgh Karina Schumann membenarkan permintaan maaf setengah hati menunjukkan bahwa Anda tidak benar-benar ingin menyelesaikan masalah. Psikolog yang mempelajari resolusi konflik interpersonal ini menyatakan dalam tiga alasan besar.
 
"Pertama, mereka memiliki tingkat kepedulian yang rendah dalam menjalin hubungan dengan korban mereka," ujar Schumann dikutip Psychology Today.
 
Menurut Schumann, permintaan maaf merupakan upaya dari pihak pelanggar untuk memperbaiki kerusakan yang telah mereka lakukan pada suatu hubungan. Untuk melakukan ini, Anda harus menunjukkan empati terhadap rasa sakit yang Anda sebabkan pada korban.
 
"Dan karena meminta maaf adalah tindakan yang tidak menonjolkan diri, Anda harus menghargai hubungan Anda dengan orang lain agar cukup termotivasi untuk membuat permintaan maaf," sambung dia.
 
Mengutip dari hasil kajiannya, Schumann menunjukkan bahwa orang-orang yang mendapat nilai tinggi pada sifat kepribadian narsisme umumnya tidak perlu meminta maaf ketika mereka menganiaya orang lain. Narsisis memiliki tingkat empati yang rendah, sehingga sulit bagi mereka untuk memahami apa yang sedang dipikirkan orang lain.
 
Selain itu, pribadi narsisme melihat semua hubungan hanya dalam hal keuntungan pribadi mereka sendiri. Seolah-olah jika orang lain tidak menyukai cara Anda berperilaku, itu bukanlah sebuah persoalan.
 
"Jadi, Anda menganggap pelanggaran itu sepele dan tidak layak meminta maaf. Anda bahkan mungkin tergoda untuk menyalahkan orang lain karena membuat masalah besar dari ketiadaan," kata Shumann
 
Selain itu, kata Shumann, permintaan maaf setengah hati menunjukkan bahwa Anda tak mau disalahkan. Sebabnya disalahkan orang lain justru membuat citra diri Anda rusak.
 
"Ini adalah salah satu alasan mengapa kita cenderung meremehkan dampak pelanggaran yang kita lakukan. Anda merasa bahwa Anda orang yang baik, jadi kesalahan yang Anda lakukan tidak seburuk itu," ungkapnya.
 
Kata Schumann, orang yang tak mau disalahkan menganggap permintaan maaf dari hati yang terdalam akan merusak harga diri mereka. Apalagi jika dilakukan di muka umum. Mereka takut dianggap sebagai orang yang keliru.
 
"Sehingga eminta maaf kepada korban di depan umum akan membuat mereka terlihat lemah di mata orang lain," beber dia.
 
Selain itu, Scumann juga membeberkan alasan lain mengapa seseorang enggan meminta maaf sepenuh hati. Hal ini karena mereka percaya bahwa permintaan maaf tidak akan membantu menyelesaikan masalah.
 
"Terkadang orang tidak meminta maaf karena mereka tidak percaya itu akan ada gunanya. Setelah apa yang saya lakukan, apa bedanya permintaan maaf?" ujar dia.
 
Biasanya, perasaan Ini bisa muncul dari keyakinan bahwa beberapa pelanggaran tidak termaafkan. Tetapi, yang perlu diingat, meminta maaf bukan perkara Anda harus diberikan maaf atau tidak.
 
Sebabnya, menurut Schumann, sebuah permintaan maaf membuka kemungkinan pengampunan. Terutama ketika si pelanggar mengungkapkan penyesalan dan empati yang sebenarnya atas apa yang dia lakukan terhadap korban.
 
"Selalu ada kemungkinan orang lain akan tetap memilih untuk tidak memaafkan, tetapi setidaknya Anda telah melakukan bagian Anda untuk menebus kesalahan," tandas Scumann.
 
 
 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif