Kiri ke kanan: Barry Joseph, ayahnya Paul Joseph, dan adiknya Debby Joseph. (Foto: Dok. Barry Joseph/Thehealthy)
Kiri ke kanan: Barry Joseph, ayahnya Paul Joseph, dan adiknya Debby Joseph. (Foto: Dok. Barry Joseph/Thehealthy)

kisah

Kesedihan Barry Joseph Usai Kehilangan Orang Tercinta Akibat Covid-19

Rona Virus Korona frank sinatra kisah virus corona covid-19 Barry Joseph Billy Collins
Sunnaholomi Halakrispen • 17 Mei 2020 12:00
Jakarta: Kedua orang ini kehilangan ayah mereka karena covid-19. Barry Joseph, seorang ahli pembelajaran digital yang berbasis di Forest Hills, New York, menguburkan ayahnya di sebidang tanah pemakaman Long Island di sebelah makam ibunya. Sang ayah, meninggal di rumah sakit karena covid-19. 
 
"Ketika saya mengingat pemakaman ibu saya pada tahun 1990, saya masih bisa merasakan cinta yang datang dari kerumunan di sekitar kami, dan dukungan yang saya dapatkan dari doa-doa yang mereka semua nyanyikan," kenang Joseph. 
 
"Namun, kali ini, berdiri di depan makamnya yang terbuka, berdekatan dengan ibuku, ketidakhadiran mereka sepenuhnya memekakkan telinga," tambahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Joseph pun mengatur handphone-nya di atas tripod agar saudara perempuannya dan orang-orang terkasih lainnya dapat berpartisipasi dalam pemakaman sang ayah. Tapi itu tidak sama rasanya.

Kesedihan yang terasa rumit

"Dengan kasus covid-19, Anda tidak bisa berada di dekat seseorang jika mereka berada di rumah sakit, Anda tidak bisa menyentuh mereka, dan Anda tidak bisa mengucapkan selamat tinggal," tutur Evan Imber-Black, PhD, direktur program Perkawinan dan Program Master Terapi Keluarga di Mercy College di Dobbs Ferry, New York dengan tuturan sedih. 
 
"Sejak awal ada perbedaan besar dari cara kita biasa mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang dicintai yang pergi, dan tidak ada cara ajaib untuk menggantikan itu," ucap Imber-Black, yang juga direktur Pusat Keluarga dan Kesehatan di Ackerman Institute for the Family di New York City.
 
Sifat menular dari covid-19 membuat individu-individu menghadapi kesedihan yang rumit, ambigu, dan ekstrem, kata Sherry Cormier, PhD, seorang psikolog yang berspesialisasi dalam pendampingan kesedihan.
 
"Sebagian besar dari kita kehilangan orang karena covid-19 dan kita tidak hadir ketika orang itu meninggal yang membuatnya jauh lebih sulit untuk mendapatkan penutupan (yang terakhir)," kata Cormier, yang juga profesor emeritus di departemen konseling, konseling rehabilitasi, dan psikologi konseling. di Universitas Virginia Barat di Morgantown.
 
Brettschneider berbagi bahwa dia masih tidak tahu apa yang terjadi dalam beberapa menit terakhir kehidupan ayahnya. 
 
Ada begitu banyak pasang surut diagnosisnya untuk dirawat di rumah sakit, tetapi tampaknya dia sedang dalam penyembuhan dan akan keluar dari rumah sakit. 
 
"Dokter pribadinya memanggil saya dan mengatakan dia terdengar sempurna penyembuhannya. Yang kita tahu adalah dia meninggal karena korona (covid-19), tetapi kita masih tidak tahu persis apa yang terjadi," akunya.
 
Dalam keadaan normal kehilangan orang tua adalah patah hati yang tak terlukiskan. 
 
Tetapi di dunia, ketika ayahmu yang berusia hampir 90 tahun hidup sendirian, sakit, dan tidak menjawab teleponnya, apakah kamu tidak segera memeriksanya?
 
Keadaan sulit seperti itu meningkatkan kemungkinan seseorang akan menderita gangguan kesedihan yang berkepanjangan. Rasa bersalah yang terbayang dan dapat bertahan setidaknya 12 bulan, menurut American Psychological Association.
 
Kesedihan Barry Joseph Usai Kehilangan Orang Tercinta Akibat Covid-19
(Barry Joseph memberikan sang ayah handphone agar tetap terhubung selama pengobatan covid-19. Foto: Dok. Barry Joseph/Thehealthy)

Terhubung secara online

Namun, ada beberapa cara kreatif untuk mengadaptasi ritual dan lebih baik mengatasi kehilangan bahkan di masa-masa yang tidak menentu ini. Ketika Joseph membawa ayahnya untuk membeli alat bantu jalan di toko perlengkapan bedah setempat, dia tidak tahu itu akan menjadi kali terakhir dia melihat ayahnya secara langsung. 
 
Ketika ayahnya terpapar covid-19 dan dirawat di rumah sakit, Joseph memberinya handphone yang menjadi nyawa mereka. Ia bisa melihat ayahnya dan berbicara dengannya setiap hari dan dia menjadi lebih responsif. 
 
Ketika kesehatan ayahnya menurun, Joseph membacakan puisi untuknya dari Picnic, Lightning, kumpulan puisi karya Penyair Amerika, Billy Collins
 
Buku ini sangat berarti bagi ayahnya yang berada di Dewan Asosiasi Tempat Kelahiran Walt Whitman di Huntington, New York, tempat Collins menghabiskan waktu sebagai penyair.
 
"Saya akan membaca, merenungkan, dan menghubungkan puisi-puisi itu dengan hidupnya...," kenangnya. 
 
Ayahnya meninggal dengan tenang karena suara Joseph ketika dia membacakan puisi-puisi ini.

Terima perhatian orang lain

Petugas kesehatan mengisi kekosongan anggota keluarga dengan duduk bersama pasien covid-19 dan memegang tangan mereka.
 
Hillary Fox, pelatih kedokteran fungsional di Port Washington, New York, kehilangan ayahnya yang berusia 91 tahun karena covid-19. 
 
Dia terhibur oleh kenyataan bahwa seorang praktisi perawat ada di sana bersamanya. 
 
"Dia adalah malaikat kita. Dia akan membawa iPad dengannya dan memberi tahu dia bahwa kami ada di sana dan berbicara dengan dokter atas namanya dan dia memegang tangannya," tutur Fox. 
 
Praktisi perawat ini juga memainkan musik favorit ayahnya, dari Frank Sinatra hingga Engelbert Humperdinck di samping tempat tidurnya. Fox sangat ingin mendengar tentang hari-hari terakhir ayahnya.
 
Selain itu, baik Anda yang rutin atau tengah merencanakan bangun pagi, ikutilah tradisi atau ritual keagamaan. Cara ini sangat penting karena kesedihan terasa sangat mengucilkan diri. Walaupun, di tengah covid-19 tidak bisa menghadiri ritual keagamaan secara langsung. 
 
"Dapatkan kreatif dan gunakan teknologi untuk terhubung. Zoom pemakaman menjadi hal baru bagi banyak orang," imbuh Cormier.
 
Kesedihan Barry Joseph Usai Kehilangan Orang Tercinta Akibat Covid-19
(Berbagi kepada sesama dapat membuat perasaan Anda lebih ringan di tengan pandemi covid-19 ini. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)

Beri sumbangan

Sementara itu, jika Anda tidak bisa berada di sana ketika orang yang Anda cintai meninggal dunia, kemungkinan besar Anda akan merasa bersalah, bagaimanapun cara Anda menghibur diri. Sekalipun telah melakukan ritual upacara penghiburan secara online.
 
Tetapi, satu hal yang penting bagi Anda, yakni memberikan pengampunan terhadap diri Anda sendiri. 
 
Meskipun Anda meyakini bahwa tidak ada yang pantas sendirian tanpa keluarga mereka, dan perasaan itu akan sulit untuk diselesaikan. 
 
Selain itu, mengumpulkan uang untuk disumbangkan kepada orang lain sebagai rasa sayang terhadap orang yang meninggal, dapat membantu menghormati ingatan seseorang dengan cara yang bermakna. 
 
Fox meminta orang-orang untuk menyumbang ke sebuah organisasi nirlaba bernama Community Chest of Port Washington karena kota itu memberikan ayahnya banyak kegembiraan selama hidup.
 
Joseph pun menyiapkan kampanye penggalangan dana online untuk membeli iPad untuk rumah sakit, panti jompo, dan pusat rehabilitasi. Sehingga, pasien covid-19 dapat terhubung dengan orang yang dicintai selama mereka jauh dari orang lain karena diisolasi.
 

(TIN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif