Jakarta: Role model atau panutan biasanya tercetus nama dari luar Indonesia. Apalagi untuk kategori perempuan, bisa jadi yang muncul seperti nama Celine Dion, Katy Perry, J. K. Rowling, Emma Watson, atau Taylor Swift.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Abigail Limuria, 24, sempat berpikir demikian di tiga tahun lalu. Ia tidak pernah mengasosiasikan perempuan Indonesia yang layak sebagai role model kebanyakan anak muda.
"Karena aku anggap orang dari luar negeri yang lebih berhasil. Oleh karena itu aku enggak pernah merasa bangga menjadi orang Indonesia," ujar Abigail di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis, 8 Agustus 2019.
Saat masih kuliah, ia pun berbincang dengan Grace Kadiman yang juga satu kampus dengannya. Jawaban untuk siapa role model, tidak terpikirkan nama perempuan Indonesia. Begitu juga ketika menanyakan hal yang sama ke teman lain.
"Lalu, kami kepikiran pekerjaan perempuan apa yang paling unik atau enggak masuk akal dan kami sebut astronot. Pas cari tahu di google ternyata perempuan astronot pertama se-ASIA itu Ibu Pratiwi Sudarmono, orang Indonesia," tuturnya.
.jpeg)
(Abigail Limuria, 24 dan Grace Kadiman, 21, mengeluarkan sebuah buku berjudul "Lalita". Buku tersebut berisi tentang 51 kisah dari 51 perempuan hebat. Foto: Dok. Medcom.id/Sunnaholomi Halakrispen)
Keduanya pun sadar, Indonesia memiki banyak tokoh perempuan yang hebat dan layak dijadikan role model. Abigail pun menyampaikan kepada Grace bahwa seharusnya ada wadah yang menampung cerita prempuan hebat Indonesia ke dalam buku. Namun, belum ada.
"Kami ketemu ide ngumpulin cerita perempuan Indonesia yang inspiratif karena banyak perempuan Indonesia yang hebat. Supaya nantinya anak-anak di Indonesia khususnya perempuan, sadar bahwa perempuan Indonesia layak dijadikan role model, bukan cuma perempuan dari luar negeri saja," akunya.
Berawal dari pertanyaan iseng, keduanya melakukan riset dan menemui satu per satu perempuan Indonesia yang masuk dalam daftar. Totalnya ada 51 kisah dari 51 perempuan hebat yang berasal dari beragam latar belakang pendidikan, sosial, budaya, dan profesi.
Kisah itu disatukan ke dalam sebuah buku, Lalita. Grace memaparkan, kata Lalita diambil dari bahasa sansekerta yang memiliki arti cantik, jelita, senang bermain, berharga. Tapi di kamus Indonesia, kata Grace, Lalita berarti cantik, jelita, mencirikan rupa fisik yang menawan.
"Kami ingin merepresentasikan Lalita itu sebagai perempuan indonesia yang enggak cuma cantik secara fisik tapi juga cerdas, berani, tangguh, dan tidak terbatas. Kami ingin mendefinisikan ulang apa yg dianggap cantik dan menarik di budaya kami," tutur dia.
Meski dipertemukan di universitas yang sama di Los Angeles, California, tapi buku tersebut bukan merupakan tugas untuk kepentingan kuliah. Melainkan, project pribadi keduanya yang idenya muncul saat mereka menempuh pendidikan tinggi.
"Kami bersyukur ada banyak sponsor yang bantu mendonasikan buku-buku kami ke banyak lokasi terutama tempat terpencil. Harapan kami, buku ini bisa membawa inspirasi kepada anak-anak dan di daerah Indonesia bisa mencapai hal-hal hebat. Kita ingin mereka mendapat inspirasi," pungkas Abigail.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News(TIN)
