Gunawan, mantan penjual bakso yang telah beralih menjadi pengrajin anyaman bambu membantu para penyandang disabilitas. (Foto: Dok. Metrotvnews.com)
Gunawan, mantan penjual bakso yang telah beralih menjadi pengrajin anyaman bambu membantu para penyandang disabilitas. (Foto: Dok. Metrotvnews.com)

kisah

Kisah Mantan Penjual Bakso Membantu Penyandang Disabilitas

Rona kisah
Sunnaholomi Halakrispen • 21 Juli 2020 15:52
Jakarta: Adalah Gunawan, mantan penjual bakso yang telah beralih menjadi pengrajin anyaman bambu. Tidak hanya soal mencari keuntungan, ia juga memberdayakan penyandang disabilitas serta ibu-ibu pengrajin bambu tradisional.
 
Pria yang tinggal di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ini dulunya pekerja serabutan. Gunawan akhirnya memilih menjadi pengrajin anyaman bambu yang kini telah menghasilkan banyak kreativitas barang.
 
Mulai dari toples kue hingga lampion dengan beragam motif ciamik. Hasil kerajinannya pun diminati sejumlah pasar di Jawa Timur. Beberapa pasar di antaranya ialah Tulung Agung, Ponorogo, Malang, dan Surabaya. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kisah Mantan Penjual Bakso Membantu Penyandang Disabilitas
(Konsumen dari anyaman bambu yang diprakarsi oleh Gunawan mulai dari rumahan, cafe, hotel berbintang, hingga wilayah-wilayah di luar pulau Jawa. Foto: Dok. medcom.id)

Merangkul penyandang disabilitas

Gunawan merangkul para penyandang disabilitas dalam proses produksi piranti rumah tangga ayaman bambu. "Karena teman-teman itu kreatif dan telaten. Jadi untuk kualitas dan produksinya bagus-bagus," ujar Gunawan dalam tayangan Newsline di Metro TV.
 
Para penyandang disabilitas yang dibantunya menjadi pengrajin ayaman bambu tidak hanya berasal dari Kediri. Akan tetapi, lebih banyak yang berasal dari luar daerah Kediri.
 
Perkenalan berawal dari pertemuan di suatu tempat pameran, lalu Gunawan berteman. Kemudian, terlintas ide untuk bergabung membuat produksi dari bambu. Komunikasi mereka berjalan hingga terjalin perkenalan dari satu teman ke teman lainnya.
 
"Akhirnya kita cari teman-teman yang lain, terus kita kasih materi, bisa sedikit demi sedikit. Teman yang sudah bisa, kita ajak bina, Alhamdulillah berjalan lancar," kenangnya.
 
Kisah Mantan Penjual Bakso Membantu Penyandang Disabilitas
(Gunawan merangkul para penyandang disabilitas dalam proses produksi piranti rumah tangga ayaman bambu. Foto: Dok. medcom.id)
 
Setidaknya, ada 5-6 orang pengrajin yang merupakan penyandang disabilitas yang berada di Kediri, bekerja bersama Gunawan. Selebihnya, justru tinggal di luar Kediri.
 
Namun, lokasi yang berjauhan tidak menyurutkan niat penyandang diabilitas untuk bekerja sekaligus berkreasi. Jarak bukan penghalang bagi mereka, maka Gunawan mengirimkan bahan baku ke alamat mereka yang jauh dari Kediri.
 
Memang tidak semua orang memperoleh karunia keuletan, kesabaran, dan dan kreativitas, untuk bisa menjadi pengrajin. Pekerjaan yang tidak mudah itu ditekuni para penyandang disabilitas, baik yang sudah ahli menganyam maupun yang belum mahir.
 
"Sebagian teman-teman ada yang sudah ahli dan ada yang belum. Jadi kalau teman-teman belum bisa, kita kumpul bareng-bareng dan belajar bersama," tambah pria yang ramah ini.
 
Kisah Mantan Penjual Bakso Membantu Penyandang Disabilitas
(Kondisi fisik difabel yang dibina oleh Gunawan tak mengurangi kualitas anyaman bambu buatannya. Foto: Dok. medcom.id)

Kreativitas tanpa batas

Kondisi fisik yang tidak sempurna bukan penghalang. Sebab, kemampuan dan ketelitian dalam menjalankan pekerjaan sebagai pengrajin ayaman bambu, terus ditekuni. Meskipun, kata Gunawan, mayoritas merupakan tunadaksa. 
 
"Ada yang kakinya satu, ada yang di kursi roda, ada yang lumpuh. Jadi kita lihat kalau difabelnya itu kaki, bagian tangannya bisa gerak, itu kita minta untuk gergaji atau apa. Kalau yang tangan, kita kasih untuk finishing atau pernis atau mendata. Dilihat-lihat difabelnya bagaimana," tambahnya.
 
Di era modern dengan teknologi yang semakin canggih ini, Gunawan memanfaatkan YouTube. Namun, bukan untuk menyamakan hasil karya kerajinan anyaman orang lain.
 
"Kita di YouTube cuma untuk perbandingan saja. Kalau orang sudah ada bentuk yang ini, kita buat bentuk yang lain. Kita modif jadi hasilnya juga lumayan," paparnya.
 
Modifikasi dibuat dari bahan yang ada, yakni dibeli dari pedagang sekitar Kediri, merupakan produk lokal. Meskipun ketersediaan bahan dan jumlah pengrajin tidak banyak, namun pesanan selalu berlebih bahkan terkadang ada pesanan yang ditolak.
 
"Kita jarang target (membuat berapa banyak anyaman bambu). Jadi kalau teman-teman ada pesan segini, kita bagi ke teman-teman, nanti per hari dapat berapa. Biasanya 5-10 (produk anyaman)," ucapnya.
 
Pelanggannya, adalah konsumen rumahan, cafe, hotel berbintang, hingga wilayah-wilayah di luar pulau Jawa. Tidak sedikit pula orang yang menjadi reseller atau membeli produk mereka untuk dijual kembali. "Selama pandemi pesanan kita malah banyak, alhamdulillah," pungkasnya.
 

(TIN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif