Ilustrasi--Pexels
Ilustrasi--Pexels

Stres Orang Tua saat Kehamilan Pengaruhi Perilaku Balita

Rona kehamilan ibu dan anak psikologi
Anda Nurlaila • 08 Agustus 2019 11:54
Para peneliti juga menemukan bahwa anak berusia dua tahun lebih cenderung menunjukkan masalah emosional. Termasuk khawatir, tidak bahagia dan menangis, penakut, gugup di situasi baru jika orang tua mereka memiliki masalah hubungan pascakelahiran dini.
 
 
 
Jakarta: Calon orang tua yang mengalami gangguan emosional bakal mempengaruhi perkembangan mental bayi. Sebuah studi terbaru menemukan, pasangan dengan masalah emosi pada masa kehamilan akan memengaruhi perilaku dan emosional anak mereka pada usia dua tahun.
 
Tim peneliti dari Universitas Cambridge, Birmingham, New York dan Leiden mengatakan temuan mereka menyoroti kebutuhan mendesak akan dukungan yang lebih besar bagi pasangan sebelum, selama dan setelah kehamilan. Penelitian ini adalah yang pertama untuk menguji pengaruh kesejahteraan ibu dan ayah sebelum dan sesudah kelahiran pada pada usia 14 dan 24 bulan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sudah terlalu lama pengalaman para ayah disejajarkan atau diperlakukan secara terpisah dari ibu. Ini perlu diubah karena kesulitan hubungan pada anak-anak dengan ibu dan ayah di awal kehidupan mereka dapat memiliki efek jangka panjang," kata penulis utama, Profesor Claire Hughes dari Pusat Penelitian Keluarga Cambridge, seperti dikutip sciencedaily.
 
Penelitian yang dipublikasikan di Development & Psychopathology, mengacu pada pengalaman 438 ibu dan ayah hamil pertama yang ditindaklanjuti pada 4, 14 dan 24 bulan setelah lahir. Orang tua ini direkrut di Inggris Timur, Negara Bagian New York dan Belanda.
 
Periset menemukan kesejahteraan prenatal ibu pertama kali berdampak langsung pada perilaku anak-anak mereka saat berusia dua tahun. Ibu yang menderita stres dan kecemasan saat hamil lebih cenderung memiliki anak dengan masalah perilaku seperti amarah, kegelisahan dan dengki.
 
Para peneliti juga menemukan bahwa anak berusia dua tahun lebih cenderung menunjukkan masalah emosional, termasuk khawatir, tidak bahagia dan menangis, penakut, gugup di situasi baru jika orang tua mereka memiliki masalah hubungan pascakelahiran dini. Hal ini berkisar dari kurangnya kebahagiaan dalam hubungan hingga jenis konflik lainnya.
 
"Temuan kami menyoroti perlunya dukungan yang lebih awal dan lebih efektif bagi pasangan untuk mempersiapkan mereka selama masa transisi menjadi orang tua," ujar Hughes.
 
Hubungan antara hasil anak dan kesejahteraan orang tua telah ditunjukkan dalam penelitian lain. Tetapi ini adalah yang pertama melibatkan pasangan dan melacak kesejahteraan orang tua selama periode waktu yang lama. Serta fokus pada perilaku anak dalam dua tahun pertama kehidupan.
 
Ada bukti pentingnya dukungan kesehatan mental bagi calon ibu. Sehingga penelitian menyoroti perlunya memperluas dukungan kepada ayah dan untuk meningkatkan kualitas hubungan ibu dan ayah baru.
 
Para peneliti mengakui bahwa faktor genetik cenderung berperan. Tetapi mereka menyumbang kesulitan kesehatan mental orang tua sebelum kehamilan pertama dan setelah kelahiran anak mereka.
 
Rory Devine, seorang psikolog perkembangan di University of Birmingham, mengatakan, berdasarkan data menunjukkan masalah kesehatan mental selama kehamilan memiliki dampak unik pada masalah perilaku anak-anak.
 
Rekan penulis, Dr Sarah Foley, juga dari Pusat Penelitian Keluarga Cambridge mengatakan jika ibu memiliki kelahiran yang sulit, itu bisa menjadi pengalaman yang berpotensi traumatis bagi para ayah.
 
Menurut peneliti kedua menekankan perlu dukungan lebih inklusif dan memberikan ibu dan ayah alat untuk berkomunikasi satu sama lain. Dan lebih baik dalam mempersiapkan mereka untuk transisi besar ini.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif