Ilustrasi--Pexels
Ilustrasi--Pexels

Mengapa Banyak Orang Suka Bergosip?

Rona komunikasi
Raka Lestari • 04 September 2019 13:06
Membicarakan orang lain adalah naluri manusia yang mendasar karena kehidupan manusia berakar dalam kelompok. Dalam jurnal Social Psychological and Personality Science menemukan bahwa seseorang biasanya menghabiskan sekitar 52 menit per hari untuk bergosip.
 

Jakarta: Banyak orang suka bergosip atau membicarakan orang lain. Menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science menemukan bahwa seseorang biasanya menghabiskan sekitar 52 menit per hari untuk bergosip.
 
Dilansir dari health, definisi sederhana dari bergosip menurut penelitian tersebut adalah membicarakan tentang seseorang yang sedang tidak ada di sekitarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lalu mengapa banyak orang rela menghabiskan waktu mereka untuk membicarakan kehidupan orang lain? Mark Leary, PhD, seorang profesor psikologi dan ilmu saraf di Duke University yang berspesialisasi dalam psikologi sosial dan pribadi, menjelaskan bergosip adalah naluri manusia yang mendasar karena kehidupan manusia berakar dalam kelompok.
 
"Manusia tidak hanya hidup dalam kelompok, tetapi juga bergantung pada orang-orang dalam kelompok lain untuk bertahan hidup," terang Leary.
 
Mengingat hal itu, mereka perlu memiliki informasi sebanyak mungkin tentang orang-orang di sekitar mereka untuk mengetahui bagaimana sifat-sifat orang lain, yang bisa dan tidak bisa dipercaya, siapa yang melanggar aturan kelompok, siapa berteman dengan siapa, bagaimana sudut pandang orang lain, dan sebagainya.
 
Bergosip untuk bertahan hidup sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Setiap manusia prasejarah mengandalkan anggota suku mereka yang lain untuk hal-hal seperti makanan, tempat tinggal, dan perlindungan.
 
Jika anggota yang biasanya berburu untuk makanan Anda tiba-tiba sakit dan tidak bisa berburu, Anda mungkin kelaparan jika tidak ada yang memberi tahu Anda bahwa orang itu sakit. Dan dengan adanya bergosip, Anda jadi tahu untuk mencari sumber makanan lain.
 
Gosip tidak hanya mengajarkan Anda tentang orang yang menjadi subjek pembicaraan, tetapi juga tentang orang yang berbicara, kata Leary. "Saya bisa belajar hal-hal tentang sikap, kepercayaan, dan cara Anda berurusan dengan orang-orang dengan melihat siapa dan apa yang Anda gosipkan."
 
Gosip juga dapat berfungsi sebagai cara mengidentifikasi dan mengucilkan anggota kelompok yang tidak dapat dipercaya.
 
"Namun tentu saja, gosip juga bisa menjadi hal yang negatif "Bergosip bisa memiliki konsekuensi negatof bagi target," ujar Leary. "Misalnya saja jika target mengetahui bahwa mereka sedang dijadikan bahan gosip atau pendengar gosip menyimpulkan bahwa Anda merupakan orang yang tidak dapat dipercaya karena menggosipkan orang lain," paparnya.
 

 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif