Muslim di Islandia Berpuasa Lebih dari 20 Jam
Matahari di Islandia hanya terbenam lebih kurang dua jam di puncak musim panas. (Foto: REDA&CO / AFP / Getty Images)
Reykjavik: Perbedaan waktu memengaruhi durasi berpuasa di berbagai negara saat Ramadan. Muslim di negara dengan matahari yang 'jarang' tenggelam, harus berpuasa dalam durasi yang sangat panjang.

Hal ini dirasakan di Islandia. Muslim di negara tersebut harus rela berpuasa hingga lebih dari 20 jam. Tahun ini di puncak musim panas, durasi terlama berpuasa di Islandia adalah 21 jam 51 menit di hari-hari terakhir Ramadan.


Matahari di negara dekat lingkar Arktika itu baru terbenam sekitar pukul 23.57 malam wajtu setempat. Matahari kemudian akan terbit lagi dua jam setelahnya.

Dilansir dari Laman CNBC, Rabu 30 Mei 2018, terdapat sejumlah pendapat ulama mengenai Muslim yang tinggal di wilayah lingkar Arktika. Muslim di sana boleh memilih tiga pilihan. 

Pertama adalah berpuasa mengikuti jadwal negara terdekat yang mataharinya terbit dan terbenam dalam durasi yang relatif normal. Pilihan kedua adalah mengikuti jadwal negara mayoritas Muslim terdekat, dan terakhir mengikuti waktu di Arab Saudi.

Namun, Direktur Eksekutif  Yayasan Islam Islandia Karim Askari mengatakan mayoritas Muslim di negaranya mengikuti waktu lokal.

"Saya akan berpuasa sesuai waktu Reykjavik, yaitu selama 20 jam. Meski pun itu waktu yang sangat lama bagi kami, namun kami bisa melakukannya," ucap dia.

Askari menuturkan ada dua masjid di ibu kota yang sepakat mengikuti jadwal puasa setempat. Namun, beberapa masjid lain mengikuti waktu puasa di negara Eropa lain seperti Prancis.

Ia menuturkan 2.500 Muslim di Islandia bebas memutuskan sikap mengenai durasi berpuasa. Menurut dia, 20 jam berpuasa mudah dilalui karena Islandia merupakan negara bertemperatur dingin.




(WIL)