Menyusuri Masjid Peradaban Arab Kuno di Barat Jakarta
Tampak depan masjid An-Nawier di Jakarta Barat. Foto: Medcom.id/Gema Arinda Tanjung
Jakarta: Sebuah bangunan bersejarah terdapat di pemukiman padat di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Bangunan tersebut adalah Masjid Jami An-Nawier, sebuah rumah ibadah yang melambangkan peradaban Arab di abad ke-17. 

Masjid ini dibangun pada tahun 1760 Masehi, saat Islam tengah berkembang di Batavia. Awalnya, bangunan ini hanya berupa musala dengan luas 500 meter. 


Saat ini, masjid Jami An-Nawier memiliki luas 2.000 meter dengan daya tampung 3.000 jamaat. Ketua Pengurus Masjid An Nawier, Dikky Basandid, mengatakan hingga saat ini, belum ada kepastian yang jelas mengenai pendiri masjid tersebut. 

Dalam catatan yang dimiliki oleh para pengurus masjid, pendiri An-Nawier terdiri dari beberapa pewakif, atau pihak yang tidak turut serta dalam membangun, tetapi ikut menyumbangkan serta mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid. 

Baca: Tujuh Alquran Unik Hadir di Jakarta

“Di dalam tanah ini ada beberapa pewakif tadi yang mengamalkannya. Terus, setelah terjadi perluasan ini, yang dibangunnya, yang tercatat yang secara terkenal yaitu di zamannya Mufti Betawi,” jelas Dikky kepada Medcom.id, Kamis, 31 Mei 2018. 

Mufti Betawi atau Habib Ustman bin Yahya dikenal sebagai salah seorang pewakif terkenal di abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Bukan hanya membangun, para pewakif juga berasal dari kelompok atau golongan daripada alawi. 

Alawi sendiri adalah dzzuriat nabi atau anak cucu serta keturunan Nabi Muhammad SAW.  Golongan Alawi ini berasal dari Yaman dan mereka menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru dunia. 

“Beliau berdakwah terus menyebarkan ajaran agama Islam yang mazhab mereka, turunan mereka sampai kepada cucu baginda Nabi Muhammad SAW, yaitu Zainab binti Ali bin Abi Thalib,” jelas Dikky. 

Baca: Lentera Fanoos, Dekorasi Khas Ramadan Asal Mesir

Masjid Jami An-Nawier memiliki desain artsitektur campuran dari budaya Eropa, Tionghoa serta Jawa. Dipercaya, masjid ini dibangun oleh seorang arsitek dari Prancis.

“Artsitektur yang mendesain adalah seorang, yang kami catat, adalah seorang arsitektur Perancis. Namun, kami tidak mendapatka informasi mengenai namanya,” jelasnya.

Sebelumnya, An-Nawier hanya memiliki satu pintu masuk di sebelah Barat. Setelah adanya perluasan, masjid Jami An-Nawier memiliki empat pintu masuk dari segala arah. 

Baca: Cerita Bilal Mogok Azan

Masjid ini juga jadi memiliki pintu dari arah Barat, Selatan, Timur serta Barat. Namun, jamaah biasanya masuk melalui pintu Timur yang merupakan pintu utama dan lebih dekat dengan pemukiman warga.

Makna 33 Pilar Masjid An-Nawier

Salah satu keunikan dari masjid Jami An-Nawier adalah pilar berjumlah 33 yang ada di dalam bangunan. Selain untuk memperkokoh bangunan, pilar tersebut memiliki maknanya sendiri.  Jumlah pilar tersebut memiliki arti atau melambangkan jumlah banyaknya bacaan zikir sehabis salat.

“Bacaan yang biasa dibaca oleh imam dan makmum, ataupun orang yang sholat sendiri. Yaitu bacaan tasbih, subhanallah, tahmit, alhamdulillah dan takbir allahu akbar sebanyak 33 kali,” bebernya.



Masjid ini juga memiliki sebuah mimbar yang memiliki banyak kisah. Ada dua kisah yang diyakini oleh sebagian masyarakat mengenai mimbar tersebut. Versi pertama, mimbar tersebut merupakan hadiah dari kesultanan Pontianak.

Sedangkan versi kedua, mimbar tersebut berasal dari Surakarta. Dikky meyakini bahwa mimbar tersebut berasal dari Surakarta, dikarenakan unsur desain yang memiliki makna budaya Jawa. 

“Jadi, versi yang lebih kuat saya yakin adalah berasal dari kesultanan Surakarta ataupun Solo,” pungkas Dikky. (Gema Arinda Tanjung)





(DMR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id