medcom.id, Bengkulu: Pendap atau ikan pais yang biasa disebut masyarakat kota Bengkulu merupakan salah satu makanan khas yang dimasak di atas bara api kayu selama delapan jam. Di bulan Ramadan, menu satu ini banyak diburu masyarakat sebagai santapan berbuka puasa.
Pendap sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu di Bengkulu. Salah satu pembuatnnya adalah Fatmawati, warga kelurahan Pasar Bengkulu, Kecamatan Sungai Serut. Fatimah menuturkan dirinya sudah mulai membuat pendap sejak 36 tahun silam.
Fatimah biasanya menggabungkan bahan masakan seperti parutan kelapa muda, jahe, lengkuas, kunyit, kemiri, ketumbar, bawang putih, bawang merah, daun jeruk purut, kelapa rendang, dan cabai yang kemudian dibungkus menggunakan daun pisang bersama ikan gabus, ikan kerapu atau ikan kakap merah.
Setelah semua bahan dicampur, pendap yang sudah terbungkus daun talas atau daun pisang itu kemudian dikukus hingga delapan jam lamanya. Untuk memperkuat aroma dan rasa, fatimah biasanya mengukus pendap itu menggunakan tungku dan kayu bakar secara tradisional.
Fatimah rupanya membuat Pendap tak hanya untuk konsumsi pribadi melainkan untuk dijual. Dia biasa menjajakan Pendap hasil masakannya dengan harga Rp12.500 hingga Rp15.000 per bungkus. Selama bulan ramadan, Fatimah kerap kebanjiran order untuk membuat Pendap. Permintaan makanan khas pesisir Bengkulu ini bahkan meningkat hingga 50 persen selama bulan suci Ramadan.
medcom.id, Bengkulu: Pendap atau ikan pais yang biasa disebut masyarakat kota Bengkulu merupakan salah satu makanan khas yang dimasak di atas bara api kayu selama delapan jam. Di bulan Ramadan, menu satu ini banyak diburu masyarakat sebagai santapan berbuka puasa.
Pendap sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu di Bengkulu. Salah satu pembuatnnya adalah Fatmawati, warga kelurahan Pasar Bengkulu, Kecamatan Sungai Serut. Fatimah menuturkan dirinya sudah mulai membuat pendap sejak 36 tahun silam.
Fatimah biasanya menggabungkan bahan masakan seperti parutan kelapa muda, jahe, lengkuas, kunyit, kemiri, ketumbar, bawang putih, bawang merah, daun jeruk purut, kelapa rendang, dan cabai yang kemudian dibungkus menggunakan daun pisang bersama ikan gabus, ikan kerapu atau ikan kakap merah.
Setelah semua bahan dicampur, pendap yang sudah terbungkus daun talas atau daun pisang itu kemudian dikukus hingga delapan jam lamanya. Untuk memperkuat aroma dan rasa, fatimah biasanya mengukus pendap itu menggunakan tungku dan kayu bakar secara tradisional.
Fatimah rupanya membuat Pendap tak hanya untuk konsumsi pribadi melainkan untuk dijual. Dia biasa menjajakan Pendap hasil masakannya dengan harga Rp12.500 hingga Rp15.000 per bungkus. Selama bulan ramadan, Fatimah kerap kebanjiran order untuk membuat Pendap. Permintaan makanan khas pesisir Bengkulu ini bahkan meningkat hingga 50 persen selama bulan suci Ramadan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)