NEWS
Dari Kisah Sang Putri, Iwan Sunito Bangun One Muse di Sydney
Rizkie Fauzian
Senin 24 Agustus 2026 / 12:32
- One Muse hadir di Sydney sebagai kafe, bar, galeri seni, sekaligus platform social enterprise yang mendukung individu dengan kebutuhan belajar khusus.
- Terinspirasi dari Hannah Sunito, One Muse menjadi bagian dari visi Sunito Foundation untuk membuka peluang dan membangun kepercayaan diri melalui seni.
- One Muse Art Street disiapkan sebagai pengembangan berikutnya dengan menghadirkan seni, musik, pertunjukan, dan kegiatan komunitas di ruang publik.
Jakarta: One Global Resorts Green Square, hotel bintang lima di Australia memperkenalkan One Muse. Nama One Muse berasal dari kata muse, yang berarti seseorang atau kekuatan yang menjadi sumber inspirasi bagi kreativitas dan ekspresi seni.
Berada di kawasan One Global Resorts Green Square, One Muse menjadi bagian dari visi Sunito Foundation untuk membuka ruang bagi anak-anak, generasi muda, dan orang dewasa dengan kebutuhan belajar khusus agar dapat mengembangkan potensi, membangun kepercayaan diri, serta memperoleh kesempatan yang bermakna.
"Visi utama Sunito Foundation sebenarnya sederhana: setiap orang berhak dilihat berdasarkan apa yang dapat mereka capai, bukan dari hal-hal yang menjadi tantangan bagi mereka," ujar Iwan Sunito, Founder dan CEO One Global Resorts dalam keterangan tertulis, Senin, 24 Agustus 2026.
Bagi Iwan, inspirasi tersebut berasal dari putri keduanya, Hannah Sunito. Hannah merupakan individu dengan kebutuhan belajar khusus yang tumbuh melalui berbagai tantangan dengan dukungan keluarga serta kecintaannya terhadap seni.
Seiring waktu, ia mengembangkan karakter dan kemampuan kreatifnya hingga menjadi seorang seniman yang meraih berbagai pencapaian.
Karya Hannah telah dipamerkan di sejumlah lokasi di Sydney, termasuk universitas, kegiatan amal, pameran kelompok, dan Randwick Art Society Annual Art Show. Pada 2021, Hannah juga memenangkan kategori lukisan minyak/akrilik dalam Randwick Art Society Annual Exhibition.
Kini, Hannah menjabat sebagai CEO One Muse dan terlibat langsung dalam membentuk, mengembangkan, serta mengarahkan bisnis sekaligus misi sosial platform tersebut.
"One Muse memang berawal dari Hannah, tetapi kami tidak ingin One Muse hanya tentang Hannah," kata Iwan.
"Perjalanannya memberi kami keberanian untuk membayangkan sebuah platform yang dapat membuka pintu bagi lebih banyak anak, generasi muda, dan orang dewasa dengan kebutuhan belajar khusus. Hannah mungkin merupakan muse pertama, tetapi kami berharap ia dapat menginspirasi ribuan muse lainnya," sambungnya.
Terinspirasi konsep art street dan piazza di Eropa dan Italia, kawasan tersebut dirancang sebagai ruang publik yang dapat menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan kreatif, seperti live painting, pameran seni, musik, pertunjukan, workshop, outdoor dining, hingga kegiatan komunitas.
Konsep ini diharapkan dapat menciptakan kawasan kreatif yang inklusif. Seniman, musisi, penampil, pengunjung, serta masyarakat dari berbagai latar belakang dan kemampuan dapat berpartisipasi di dalamnya.
Saat ini, One Muse bersama Pemerintah Kota Sydney tengah mendiskusikan peluang pemanfaatan jalan dan ruang publik sebagai ruang seni dengan tetap mengikuti regulasi yang berlaku.
"Jalan memiliki arti penting karena seni tidak seharusnya tersembunyi di dalam satu ruangan," ujar Iwan.
"Kami ingin kreativitas dan kesempatan menjadi bagian dari kehidupan publik sehari-hari. One Muse Art Street akan memungkinkan visi Sunito Foundation melampaui dinding galeri dan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dan didukung oleh seluruh komunitas," tambahnya.
Dalam jangka panjang, One Muse dan One Muse Art Street diharapkan dapat menjadi bagian penting dari Sunito Foundation dalam mempertemukan seniman, keluarga, sekolah, dunia usaha, warga, pengunjung, serta berbagai organisasi kreatif.
Melalui platform tersebut, Sunito Foundation ingin memberikan ruang dan apresiasi kepada individu dengan kebutuhan belajar khusus berdasarkan kemampuan dan potensi mereka. Mereka diharapkan dapat berkembang sebagai seniman, pekerja, entrepreneur, penampil, maupun anggota masyarakat yang memiliki talenta dan kontribusi.
"Ini baru permulaan. Harapan kami adalah membangun sebuah platform jangka panjang, di mana talenta berkembang menjadi kepercayaan diri untuk membuka peluang, dan pada akhirnya mengantar kepada sebuah kemandirian," kata Iwan.
"Itulah yang ingin kami hadirkan melalui One Muse—dan nantinya melalui seluruh kawasan di sekitarnya," lanjutnya.
Tujuannya bukan sekadar memamerkan karya seni. One Muse juga ingin membantu individu membangun kepercayaan diri, kemampuan, identitas profesional, penghasilan, serta rasa memiliki terhadap komunitas.
Platform ini juga diharapkan dapat berjalan bersama keluarga sehingga mereka dapat melihat potensi dan peluang masa depan bagi anak-anak mereka.
"Inklusi atau pemerataan sosial tidak dapat berhenti pada kata-kata atau kegiatan yang hanya dilakukan sesekali. Dia juga harus menciptakan platform yang nyata, tanggung jawab yang sesungguhnya, penghasilan yang memadai, serta kepercayaan diri untuk ikut berpartisipasi," ujar Iwan.
"Tujuan kami agar banyak keluarga melihat bahwa kreativitas dan kontribusi anak-anak mereka memiliki nilai," sambungnya.
Berdasarkan laporan STR (Smith Travel Research), One Global Resorts Green Square juga tercatat sebagai market leader di kelasnya.
Hotel tersebut turut menerima Tripadvisor Travelers' Choice Best of the Best 2026, penghargaan tahunan Tripadvisor yang diberikan kepada kurang dari 1 persen properti di seluruh dunia. Saat ini, One Global Resorts Green Square berada di peringkat ke-12 dari 196 hotel di Sydney berdasarkan Tripadvisor.
"Bagi kami, keberhasilan komersial dan tujuan sosial seharusnya bisa saling mengisi. Bisnis yang berkelanjutan memberikan kemampuan bagi sebuah visi untuk bertahan, berkembang, dan menciptakan peluang dari tahun ke tahun," kata Iwan.
Peluncuran One Muse dilakukan ketika sektor pariwisata dan hospitality Sydney masih menunjukkan permintaan yang kuat. Dalam periode satu tahun hingga Maret 2026, Sydney mencatat 67,5 juta kunjungan wisatawan dengan total belanja mencapai AUD34,7 miliar. Dari jumlah tersebut, AUD13,9 miliar berasal dari wisatawan internasional.
One Global Resorts Green Square juga memiliki akses langsung ke jaringan kereta Sydney melalui Green Square Station. Hotel tersebut menjadi satu-satunya hotel bintang lima di Sydney yang memiliki akses langsung ke jaringan kereta kota.
Dengan keunggulan tersebut, One Global Resorts Green Square tidak hanya memosisikan diri sebagai destinasi hospitality, tetapi juga sebagai ruang bagi kreativitas dan kegiatan komunitas.
Melalui One Muse, visi Sunito Foundation mulai diwujudkan dalam sebuah platform yang mempertemukan seni, peluang, dan inklusi. Ke depan, pengembangan One Muse Art Street diharapkan dapat membawa semangat tersebut keluar dari ruang galeri dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
(KIE)
Berada di kawasan One Global Resorts Green Square, One Muse menjadi bagian dari visi Sunito Foundation untuk membuka ruang bagi anak-anak, generasi muda, dan orang dewasa dengan kebutuhan belajar khusus agar dapat mengembangkan potensi, membangun kepercayaan diri, serta memperoleh kesempatan yang bermakna.
"Visi utama Sunito Foundation sebenarnya sederhana: setiap orang berhak dilihat berdasarkan apa yang dapat mereka capai, bukan dari hal-hal yang menjadi tantangan bagi mereka," ujar Iwan Sunito, Founder dan CEO One Global Resorts dalam keterangan tertulis, Senin, 24 Agustus 2026.
Bagi Iwan, inspirasi tersebut berasal dari putri keduanya, Hannah Sunito. Hannah merupakan individu dengan kebutuhan belajar khusus yang tumbuh melalui berbagai tantangan dengan dukungan keluarga serta kecintaannya terhadap seni.
Seiring waktu, ia mengembangkan karakter dan kemampuan kreatifnya hingga menjadi seorang seniman yang meraih berbagai pencapaian.
Karya Hannah telah dipamerkan di sejumlah lokasi di Sydney, termasuk universitas, kegiatan amal, pameran kelompok, dan Randwick Art Society Annual Art Show. Pada 2021, Hannah juga memenangkan kategori lukisan minyak/akrilik dalam Randwick Art Society Annual Exhibition.
Kini, Hannah menjabat sebagai CEO One Muse dan terlibat langsung dalam membentuk, mengembangkan, serta mengarahkan bisnis sekaligus misi sosial platform tersebut.
"One Muse memang berawal dari Hannah, tetapi kami tidak ingin One Muse hanya tentang Hannah," kata Iwan.
"Perjalanannya memberi kami keberanian untuk membayangkan sebuah platform yang dapat membuka pintu bagi lebih banyak anak, generasi muda, dan orang dewasa dengan kebutuhan belajar khusus. Hannah mungkin merupakan muse pertama, tetapi kami berharap ia dapat menginspirasi ribuan muse lainnya," sambungnya.
One Muse Art Street
One Muse menjadi langkah awal dari visi Sunito Foundation yang lebih besar. Ke depan, yayasan tersebut berencana mengembangkan One Muse Art Street di sekitar One Global Resorts dan Green Square Library.Terinspirasi konsep art street dan piazza di Eropa dan Italia, kawasan tersebut dirancang sebagai ruang publik yang dapat menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan kreatif, seperti live painting, pameran seni, musik, pertunjukan, workshop, outdoor dining, hingga kegiatan komunitas.
Konsep ini diharapkan dapat menciptakan kawasan kreatif yang inklusif. Seniman, musisi, penampil, pengunjung, serta masyarakat dari berbagai latar belakang dan kemampuan dapat berpartisipasi di dalamnya.
Saat ini, One Muse bersama Pemerintah Kota Sydney tengah mendiskusikan peluang pemanfaatan jalan dan ruang publik sebagai ruang seni dengan tetap mengikuti regulasi yang berlaku.
"Jalan memiliki arti penting karena seni tidak seharusnya tersembunyi di dalam satu ruangan," ujar Iwan.
"Kami ingin kreativitas dan kesempatan menjadi bagian dari kehidupan publik sehari-hari. One Muse Art Street akan memungkinkan visi Sunito Foundation melampaui dinding galeri dan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dan didukung oleh seluruh komunitas," tambahnya.
Dalam jangka panjang, One Muse dan One Muse Art Street diharapkan dapat menjadi bagian penting dari Sunito Foundation dalam mempertemukan seniman, keluarga, sekolah, dunia usaha, warga, pengunjung, serta berbagai organisasi kreatif.
Melalui platform tersebut, Sunito Foundation ingin memberikan ruang dan apresiasi kepada individu dengan kebutuhan belajar khusus berdasarkan kemampuan dan potensi mereka. Mereka diharapkan dapat berkembang sebagai seniman, pekerja, entrepreneur, penampil, maupun anggota masyarakat yang memiliki talenta dan kontribusi.
"Ini baru permulaan. Harapan kami adalah membangun sebuah platform jangka panjang, di mana talenta berkembang menjadi kepercayaan diri untuk membuka peluang, dan pada akhirnya mengantar kepada sebuah kemandirian," kata Iwan.
"Itulah yang ingin kami hadirkan melalui One Muse—dan nantinya melalui seluruh kawasan di sekitarnya," lanjutnya.
Mendorong kemandirian lewat seni
Sunito Foundation memiliki visi untuk merangkul masyarakat dari berbagai latar belakang dan kemampuan dengan menciptakan kesempatan yang nyata. Melalui One Muse, visi tersebut diwujudkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari pameran dan penjualan karya seni hingga workshop, kolaborasi kreatif, akses lapangan pekerjaan, serta penyewaan karya seni untuk perkantoran, hotel, proyek properti, dan berbagai acara.Tujuannya bukan sekadar memamerkan karya seni. One Muse juga ingin membantu individu membangun kepercayaan diri, kemampuan, identitas profesional, penghasilan, serta rasa memiliki terhadap komunitas.
Platform ini juga diharapkan dapat berjalan bersama keluarga sehingga mereka dapat melihat potensi dan peluang masa depan bagi anak-anak mereka.
"Inklusi atau pemerataan sosial tidak dapat berhenti pada kata-kata atau kegiatan yang hanya dilakukan sesekali. Dia juga harus menciptakan platform yang nyata, tanggung jawab yang sesungguhnya, penghasilan yang memadai, serta kepercayaan diri untuk ikut berpartisipasi," ujar Iwan.
"Tujuan kami agar banyak keluarga melihat bahwa kreativitas dan kontribusi anak-anak mereka memiliki nilai," sambungnya.
Didukung kinerja One Global Resorts
Pengembangan One Muse juga didukung kinerja komersial One Global Resorts Green Square. Pada Januari hingga Juni 2026, hotel bintang lima tersebut mencatat rata-rata tingkat okupansi 95,07 persen dengan pendapatan kotor sekitar AUD5,6 juta.Berdasarkan laporan STR (Smith Travel Research), One Global Resorts Green Square juga tercatat sebagai market leader di kelasnya.
Hotel tersebut turut menerima Tripadvisor Travelers' Choice Best of the Best 2026, penghargaan tahunan Tripadvisor yang diberikan kepada kurang dari 1 persen properti di seluruh dunia. Saat ini, One Global Resorts Green Square berada di peringkat ke-12 dari 196 hotel di Sydney berdasarkan Tripadvisor.
"Bagi kami, keberhasilan komersial dan tujuan sosial seharusnya bisa saling mengisi. Bisnis yang berkelanjutan memberikan kemampuan bagi sebuah visi untuk bertahan, berkembang, dan menciptakan peluang dari tahun ke tahun," kata Iwan.
Peluncuran One Muse dilakukan ketika sektor pariwisata dan hospitality Sydney masih menunjukkan permintaan yang kuat. Dalam periode satu tahun hingga Maret 2026, Sydney mencatat 67,5 juta kunjungan wisatawan dengan total belanja mencapai AUD34,7 miliar. Dari jumlah tersebut, AUD13,9 miliar berasal dari wisatawan internasional.
One Global Resorts Green Square juga memiliki akses langsung ke jaringan kereta Sydney melalui Green Square Station. Hotel tersebut menjadi satu-satunya hotel bintang lima di Sydney yang memiliki akses langsung ke jaringan kereta kota.
Dengan keunggulan tersebut, One Global Resorts Green Square tidak hanya memosisikan diri sebagai destinasi hospitality, tetapi juga sebagai ruang bagi kreativitas dan kegiatan komunitas.
Melalui One Muse, visi Sunito Foundation mulai diwujudkan dalam sebuah platform yang mempertemukan seni, peluang, dan inklusi. Ke depan, pengembangan One Muse Art Street diharapkan dapat membawa semangat tersebut keluar dari ruang galeri dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
(KIE)