Menanti Cheongyechoen River <i>van</i> Kali Malang
Presiden Jokowi (jaket merah) didampingi Walkot Seoul Won-Soon menyeberangi jembatan di atas Cheongyechoen River, Selasa (11/9/2018) pagi. Antara Foto/Joko Susilo
Bekasi: Desain multi fungsi Cheongyechoen River yang membelah Seoul sudah lama menjadi inspirasi komunitas arsitektur dan tata kota, tak terkecuali Presiden Joko Widodo. Mimpi barunya adalah proyek revitalisasi sungai sebagai ruang publik dan terbuka hijau seperti itu dapat diterapkan untuk Ciliwung.

"Ini ada sungai yang bersih sekali di kota, Cheongyechoen sebuah inspirasi yang bagus. Di Jakarta ada Ciliwung bisa jadi bersih seperti ini," kata Presiden usai menyusuri Sungai Cheongyecheon bersama Walikota Seoul Won-Soon, Selasa (11/9/2018).



Presiden Jokowi ingin proyek suksesnya proyek revitalisasi Cheongyechoen River ini bisa diterapkan di Jakarta. Khusus di Kali Malang, revitalisasinya telah dimulai sejak era Gubernur Sutiyoso dalam proyek pembangunan Kanal Banjir Timur. Antara Foto/Joko Susilo

Mimpi yang Presiden Jokowi ungkapkan dalam kunjungan kerjanya ke Korea Selatan itu langsung 'disambar' Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Melalui akun instragramnya, gubernur yang sekaligus arsitek ini mengunggah foto Kali Malang dan Sungai Cheongyecheon.

"Warga Bekasi tercinta, minggu depan sudah dimulai desain dan perencanaan revitalisasi Kalimalang. Semoga bisa sekeren Sungai Cheongyecheon di Seoul," tulisnya.



Cheongyechoen pernah kumuh

Tak banyak yang tahu, jika sungai tersebut sebelumnya pemukiman liar yang kumuh. Bahkan aliran sungai tersebut dimatikan dan di atasnya dibangun jalan layang yang menghubungkan dua sisi Seoul. Kini disulap menjadi tujuan wisata dan inspirasi dari banyak negara.

Revitalisasi sungai tersebut memang berlangsung singkat, 2003 hingga 2005. Namun, pembangunan sungai 'beton' ini bukan tanpa perjuangan panjang dan melelahkan. Sebelum diubah menjadi sebuah ruang terbuka untuk publik, sungai Cheonggyecheon merupakan sebuah pemukiman padat.

baca juga: Cheongyecheon from zero to hero river

Sejak 600 tahun pada masa Dinasti Joseon berkuasa, kota Seoul yang dulu bernama Hanyang merupakan pusat pemerintahan. Saat itu, di kawasan ini masih mengandalkan pada transportasi air.

Setelah Perang Korea (1950 – 1953), Cheonggyecheon menjadi lokasi pemukiman kaum pendatang  sehingga sampah dan limbah menjadi sumber permasalahan kota Seoul saat itu. Pada 1958, pemerintah kota Seoul kemudian merelokasi warga dan menutup sungai.


Cheonggyecheon River pada malam hari tetap jadi tempat favorit warga dan wisatawan. Baik untuk melepas lelah, menikmati instalasi seni dan bercengkrama bersama. MI/Ferninand

Selama 20 tahun sungai Cheonggyecheon ditutup dan di atasnya dibangun jalan layang pertama di Korel Selatan. Jalan layang Cheonggyecheon akhirnya rampung pada 1976 dengan panjang 5,6 kilometer dan lebar 15 meter. Pada masa ini, Seoul mulai memasuki masa industrialisasi.

Kemudian, pada masa pemerintahan Wali Kota Lee Myung-bak sungai Cheonggyecheon diubah menjadi kawasan hijau. Di malam hari, sepanjang CheonggyeCheon bermandikan lampu-lampu hias nan cantik. Semenjak petang hingga malam, banyak pengunjung yang datang untuk menikmati suasana di pinggir kali.

baca juga: Dari jalan layang, jadi taman layang

Lee Myung-bak juga membangun sebuah museum khusus tentang Cheonggyecheon. Terletak di pinggir aliran CheonggyeCheon, museum itu menyimpan semua catatan, gambar dan foto-foto CheonggyeCheon dari masa ke masa.

Untuk mengurangi kekhawatiran kemacetan lalu lintas, pemerintah berinvestasi dalam transportasi umum seperti busway. Arus lalu-lintas di area-area yang terkena dampak dan perubahan ditata ulang. Dampaknya kegiatan bisnis di area koridor Cheonggyecheon meningkat dan harga properti di kawasan tersebut meningkat dua kali lipat.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id