NEWS
KEK Industropolis Batang Kembangkan Ruang Publik di Tengah Kawasan Industri
Rizkie Fauzian
Selasa 22 September 2026 / 22:40
- KEK Industropolis Batang mulai mengembangkan ruang publik sebagai bagian dari kawasan industri.
- Sendratari Wanara Alas Roban digelar di Taman Tematik dengan mengangkat cerita dan kearifan lokal Batang.
- Taman Tematik dan Bukit Srawung diperkenalkan sebagai ruang untuk kegiatan seni, rekreasi, dan komunitas.
Jakarta: Pengembangan kawasan industri tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas untuk kegiatan usaha. Ruang publik dan aktivitas sosial juga mulai menjadi bagian dari pengembangan kawasan, salah satunya terlihat di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah.
Salah satu kegiatan yang digelar adalah Sendratari Wanara Alas Roban di Taman Tematik KEK Industropolis Batang pada 20 September 2026. Pertunjukan tersebut mengangkat cerita dan kearifan lokal Alas Roban melalui seni pertunjukan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengenalan Taman Tematik dan Bukit Srawung sebagai ruang publik di kawasan. Kedua area tersebut dikembangkan untuk mendukung kegiatan masyarakat, termasuk aktivitas seni, rekreasi, dan komunitas.
Pertunjukan Wanara mengangkat sejumlah nilai yang dikaitkan dengan tokoh tersebut, seperti kesetiaan, keberanian, kebijaksanaan, serta hubungan manusia dan alam. Cerita lokal tersebut kemudian dikemas melalui pertunjukan seni yang melibatkan sejumlah komunitas budaya.
“Kami tidak hanya membangun kawasan industri, tetapi juga membangun peradaban kota yang tak lepas dari seni dan budaya. Ruang-ruang di sini didedikasikan sebagai panggung berekspresi bagi seniman Jawa Tengah dan Indonesia, yang ke depannya akan terus kami hidupkan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan ruang publik menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang menghubungkan aktivitas industri dengan lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Pementasan Sendratari Wanara Alas Roban melibatkan sejumlah komunitas budaya lokal, antara lain Sanggar Sekar Jangkep, Sanggar Sahitya, Sanggar Jagadhita, Sanggar Merti Desa, Komunitas Gandewa, Sanggar Putra Budaya, dan Sanggar Prastikasmara.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, termasuk Direktur Utama Danareksa, perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Kebudayaan, Anggota DPR RI Komisi VII, Bupati Batang, serta Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Selain menjadi lokasi kegiatan seni, Taman Tematik dan Bukit Srawung diharapkan dapat menjadi ruang yang mendukung aktivitas masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Pengembangan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk lingkungan kawasan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas industri.
Pementasan yang mengangkat cerita Alas Roban juga menunjukkan bagaimana unsur budaya lokal dapat dimasukkan dalam aktivitas kawasan. Bagi pengembangan KEK Industropolis Batang, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan aspek industri, lingkungan, masyarakat, dan budaya dalam satu kawasan.
(KIE)
Salah satu kegiatan yang digelar adalah Sendratari Wanara Alas Roban di Taman Tematik KEK Industropolis Batang pada 20 September 2026. Pertunjukan tersebut mengangkat cerita dan kearifan lokal Alas Roban melalui seni pertunjukan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengenalan Taman Tematik dan Bukit Srawung sebagai ruang publik di kawasan. Kedua area tersebut dikembangkan untuk mendukung kegiatan masyarakat, termasuk aktivitas seni, rekreasi, dan komunitas.
Pertunjukan Wanara mengangkat sejumlah nilai yang dikaitkan dengan tokoh tersebut, seperti kesetiaan, keberanian, kebijaksanaan, serta hubungan manusia dan alam. Cerita lokal tersebut kemudian dikemas melalui pertunjukan seni yang melibatkan sejumlah komunitas budaya.
Ruang publik jadi bagian pengembangan kawasan
Direktur Utama PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) Marfan Trihartiko mengatakan pengembangan kawasan industri perlu berjalan bersama dengan penyediaan ruang bagi kegiatan sosial dan budaya.“Kami tidak hanya membangun kawasan industri, tetapi juga membangun peradaban kota yang tak lepas dari seni dan budaya. Ruang-ruang di sini didedikasikan sebagai panggung berekspresi bagi seniman Jawa Tengah dan Indonesia, yang ke depannya akan terus kami hidupkan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan ruang publik menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang menghubungkan aktivitas industri dengan lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.
Pementasan Sendratari Wanara Alas Roban melibatkan sejumlah komunitas budaya lokal, antara lain Sanggar Sekar Jangkep, Sanggar Sahitya, Sanggar Jagadhita, Sanggar Merti Desa, Komunitas Gandewa, Sanggar Putra Budaya, dan Sanggar Prastikasmara.
Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan, termasuk Direktur Utama Danareksa, perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Kebudayaan, Anggota DPR RI Komisi VII, Bupati Batang, serta Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Selain menjadi lokasi kegiatan seni, Taman Tematik dan Bukit Srawung diharapkan dapat menjadi ruang yang mendukung aktivitas masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Pengembangan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk lingkungan kawasan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas industri.
Pementasan yang mengangkat cerita Alas Roban juga menunjukkan bagaimana unsur budaya lokal dapat dimasukkan dalam aktivitas kawasan. Bagi pengembangan KEK Industropolis Batang, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan aspek industri, lingkungan, masyarakat, dan budaya dalam satu kawasan.
(KIE)