NEWS
KEK Industropolis Batang Andalkan Ekosistem Industri untuk Tarik Investasi
Rizkie Fauzian
Selasa 15 September 2026 / 15:20
- Jawa Tengah memperkuat daya saing investasi melalui pengembangan sektor manufaktur, industri berorientasi ekspor, energi hijau, dan infrastruktur digital.
- KEK Industropolis Batang dikembangkan di atas masterplan 4.300 hektare dengan konsep Smart, Green, and Sustainable untuk mendukung kebutuhan industri.
- Masuknya investasi teknologi tinggi, termasuk pengembangan hyperscale data center AI, menjadi salah satu perkembangan baru di KEK Industropolis Batang.
Semarang: Jawa Tengah terus memperkuat daya saing sebagai salah satu tujuan investasi strategis di Indonesia. Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah 2026 yang berlangsung di Semarang pada 8–9 September 2026.
Forum yang mengusung tema “Powering Sustainable Growth: Investing in Central Java’s Green Industrial Future through Advanced Manufacturing and Digital Infrastructure” tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, pengelola kawasan industri, dan calon investor.
Pembahasan investasi Jawa Tengah tidak hanya mencakup sektor manufaktur, tetapi juga industri berorientasi ekspor, energi hijau, hingga infrastruktur digital. Rangkaian kegiatan turut dilanjutkan dengan kunjungan ke KEK Industropolis Batang pada 9 September 2026 untuk melihat langsung kesiapan kawasan dan peluang investasi.
"Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, investor, dan perguruan tinggi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan investasi. Investor yang telah beroperasi juga didorong melakukan ekspansi, sementara investor baru diharapkan melihat Indonesia, termasuk Jawa Tengah, sebagai salah satu tujuan investasi," jelas dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 15 September 2026.
Plt. Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, mengatakan investasi memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian daerah, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan UMKM, dan penguatan rantai pasok.
“Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar capaian statistik. Di baliknya terdapat perluasan lapangan kerja, aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, tumbuhnya UMKM, serta semakin kuatnya rantai pasok ekonomi daerah," ujar dia.
Jawa Tengah memiliki sejumlah faktor pendukung investasi, mulai dari konektivitas Trans-Jawa, pelabuhan dan bandara, kawasan industri dan KEK, hingga ketersediaan tenaga kerja produktif.
Ke depan, arah investasi juga didorong menuju sektor yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, seperti advanced manufacturing, elektronik, komponen otomotif dan kendaraan listrik (EV), semikonduktor, industri berorientasi ekspor, serta hilirisasi.
Staff Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Ricky Kusmayadi, menilai investasi memiliki peran penting dalam memperkuat perekonomian nasional.
“Investasi menjadi salah satu pendorong utama melalui peningkatan kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja, penguatan daya saing nasional, serta mendukung prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.”
Konsep tersebut mencakup integrasi infrastruktur industri, digital, utilitas, konektivitas logistik, serta fasilitas pendukung investasi.
Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang, Angga Brahmana Sukma atau Bram, mengatakan kesiapan kawasan tidak hanya dilihat dari luas lahan yang tersedia.
“Fokus kami bukan hanya pada luasan kawasan. Ada dua parameter utama kami dalam menyiapkan tempat untuk berinvestasi, yaitu efisiensi dari sisi investasi dan efisiensi dari sisi produksi.”
Menurut Bram, kesiapan ekosistem kawasan mulai terlihat dari masuknya investasi berteknologi tinggi. Salah satunya melalui pengembangan hyperscale data center AI oleh Zankore, perusahaan yang didirikan oleh Ooredoo Group, Indosat Ooredoo Hutchison, NVIDIA, dan Nokia. Zankore ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
“Kita sebagai warga Jawa Tengah patut berbangga hati karena investasi high-tech saat ini sudah masuk ke Jawa Tengah,” ujar Bram.
Ia mengatakan KEK Industropolis Batang tidak hanya diarahkan menjadi kawasan yang dipenuhi fasilitas industri, tetapi juga membentuk ekosistem yang dapat mendukung aktivitas ekonomi di dalam kawasan.
“Kami tidak hanya ingin mengembangkan deretan pabrik. Kami meyakini kawasan ini harus menjadi satu ekosistem yang hidup. Bukan hanya sekadar deretan pabrik, tetapi juga ada kehidupan di dalamnya.”
Pengalaman tenant juga menjadi bagian dari perkembangan kawasan tersebut. PT Rumah Keramik Indonesia, salah satu tenant di KEK Industropolis Batang, menilai dukungan pemerintah dan pengelola kawasan berperan dalam perjalanan investasinya di Jawa Tengah.
Direktur PT Rumah Keramik Indonesia, Surya Handoko, mengatakan dukungan tersebut dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan sejak tahap awal pembangunan hingga operasional.
“Kami hanya punya satu keyakinan: pemerintah tidak akan meninggalkan kami sendirian.”
Menurut Surya, keberadaan investasi juga perlu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok lokal.
“Jangan dilihat dari angkanya. Mungkin angka kami kecil, tetapi kami ingin melakukan sesuatu untuk daerah sekitar kami.”
Kunjungan ke KEK Industropolis Batang dalam rangkaian Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah 2026 diharapkan memberikan gambaran langsung mengenai perkembangan kawasan, infrastruktur, serta peluang investasi yang tersedia.
Dengan dukungan pemerintah dan dunia usaha, pengembangan kawasan industri di Jawa Tengah diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan jumlah investasi, tetapi juga membangun ekosistem industri yang mampu mendukung manufaktur bernilai tambah, teknologi tinggi, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
(KIE)
Forum yang mengusung tema “Powering Sustainable Growth: Investing in Central Java’s Green Industrial Future through Advanced Manufacturing and Digital Infrastructure” tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, pengelola kawasan industri, dan calon investor.
Pembahasan investasi Jawa Tengah tidak hanya mencakup sektor manufaktur, tetapi juga industri berorientasi ekspor, energi hijau, hingga infrastruktur digital. Rangkaian kegiatan turut dilanjutkan dengan kunjungan ke KEK Industropolis Batang pada 9 September 2026 untuk melihat langsung kesiapan kawasan dan peluang investasi.
Investasi Jawa Tengah didorong lebih bernilai tambah
Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Saribua Siahaan, mengatakan pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang memberikan kepastian dan kemudahan bagi investor."Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, investor, dan perguruan tinggi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan investasi. Investor yang telah beroperasi juga didorong melakukan ekspansi, sementara investor baru diharapkan melihat Indonesia, termasuk Jawa Tengah, sebagai salah satu tujuan investasi," jelas dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 15 September 2026.
Plt. Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, mengatakan investasi memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian daerah, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan UMKM, dan penguatan rantai pasok.
“Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar capaian statistik. Di baliknya terdapat perluasan lapangan kerja, aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, tumbuhnya UMKM, serta semakin kuatnya rantai pasok ekonomi daerah," ujar dia.
Jawa Tengah memiliki sejumlah faktor pendukung investasi, mulai dari konektivitas Trans-Jawa, pelabuhan dan bandara, kawasan industri dan KEK, hingga ketersediaan tenaga kerja produktif.
Ke depan, arah investasi juga didorong menuju sektor yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, seperti advanced manufacturing, elektronik, komponen otomotif dan kendaraan listrik (EV), semikonduktor, industri berorientasi ekspor, serta hilirisasi.
Staff Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Ricky Kusmayadi, menilai investasi memiliki peran penting dalam memperkuat perekonomian nasional.
“Investasi menjadi salah satu pendorong utama melalui peningkatan kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja, penguatan daya saing nasional, serta mendukung prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.”
KEK Industropolis Batang siapkan ekosistem industri
Salah satu kawasan yang diproyeksikan mendukung perkembangan industri tersebut adalah KEK Industropolis Batang. Kawasan ini dikembangkan dengan masterplan seluas 4.300 hektare dan mengusung konsep Smart, Green, and Sustainable.Konsep tersebut mencakup integrasi infrastruktur industri, digital, utilitas, konektivitas logistik, serta fasilitas pendukung investasi.
Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang, Angga Brahmana Sukma atau Bram, mengatakan kesiapan kawasan tidak hanya dilihat dari luas lahan yang tersedia.
“Fokus kami bukan hanya pada luasan kawasan. Ada dua parameter utama kami dalam menyiapkan tempat untuk berinvestasi, yaitu efisiensi dari sisi investasi dan efisiensi dari sisi produksi.”
Menurut Bram, kesiapan ekosistem kawasan mulai terlihat dari masuknya investasi berteknologi tinggi. Salah satunya melalui pengembangan hyperscale data center AI oleh Zankore, perusahaan yang didirikan oleh Ooredoo Group, Indosat Ooredoo Hutchison, NVIDIA, dan Nokia. Zankore ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
“Kita sebagai warga Jawa Tengah patut berbangga hati karena investasi high-tech saat ini sudah masuk ke Jawa Tengah,” ujar Bram.
Ia mengatakan KEK Industropolis Batang tidak hanya diarahkan menjadi kawasan yang dipenuhi fasilitas industri, tetapi juga membentuk ekosistem yang dapat mendukung aktivitas ekonomi di dalam kawasan.
“Kami tidak hanya ingin mengembangkan deretan pabrik. Kami meyakini kawasan ini harus menjadi satu ekosistem yang hidup. Bukan hanya sekadar deretan pabrik, tetapi juga ada kehidupan di dalamnya.”
Pengalaman tenant juga menjadi bagian dari perkembangan kawasan tersebut. PT Rumah Keramik Indonesia, salah satu tenant di KEK Industropolis Batang, menilai dukungan pemerintah dan pengelola kawasan berperan dalam perjalanan investasinya di Jawa Tengah.
Direktur PT Rumah Keramik Indonesia, Surya Handoko, mengatakan dukungan tersebut dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan sejak tahap awal pembangunan hingga operasional.
“Kami hanya punya satu keyakinan: pemerintah tidak akan meninggalkan kami sendirian.”
Menurut Surya, keberadaan investasi juga perlu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok lokal.
“Jangan dilihat dari angkanya. Mungkin angka kami kecil, tetapi kami ingin melakukan sesuatu untuk daerah sekitar kami.”
Kunjungan ke KEK Industropolis Batang dalam rangkaian Forum Pemasaran Investasi Jawa Tengah 2026 diharapkan memberikan gambaran langsung mengenai perkembangan kawasan, infrastruktur, serta peluang investasi yang tersedia.
Dengan dukungan pemerintah dan dunia usaha, pengembangan kawasan industri di Jawa Tengah diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan jumlah investasi, tetapi juga membangun ekosistem industri yang mampu mendukung manufaktur bernilai tambah, teknologi tinggi, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
(KIE)