Kegiatan yang berlangsung di Semarang pada 5 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah merumuskan strategi kebijakan luar negeri yang mampu memperkuat posisi Indonesia dalam kemitraan transisi energi bersih di tingkat global.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang yang diproyeksikan menjadi proyek percontohan industri hijau nasional melalui kerja sama Two Countries Twin Parks Indonesia–China.
Sebelumnya, PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan China State Construction Engineering Corporation pada Maret 2025 untuk mengembangkan kemitraan strategis tersebut. Model pengembangannya mengacu pada Shenzhen sebagai salah satu kawasan industri hijau paling maju di dunia.
KEK Batang Jadi Bukti Nyata Komitmen Dekarbonisasi
Indonesia dinilai menghadapi tantangan besar dalam mempercepat transisi energi bersih. Selain harus bersaing dalam rantai pasok global industri hijau, Indonesia juga dituntut membuktikan implementasi nyata komitmen dekarbonisasi, bukan hanya melalui regulasi.KEK Batang dipandang sebagai lokasi strategis untuk menguji model kemitraan transformatif yang tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga transfer teknologi, pengembangan industri hijau, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Kepala BSKLN Kementerian Luar Negeri RI Muhammad Takdir mengatakan diplomasi dekarbonisasi harus dibangun melalui kolaborasi lintas sektor.
"Diplomasi dekarbonisasi dilaksanakan dengan memperhatikan ekosistemnya. Kami melihat adanya potensi besar dari kalangan akademisi, dunia usaha, serta pemerintah daerah di Semarang dan sekitarnya untuk memperkuat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan," ujarnya.
Indonesia Ingin Jadi Mitra Strategis, Bukan Sekadar Penerima Investasi
Executive Director Synergy Policies Dr. Dinna Prapto Raharja menegaskan Indonesia ingin membangun posisi yang lebih kuat dalam kerja sama internasional terkait energi bersih.Menurutnya, terdapat tiga fokus utama yang menjadi perhatian dalam penyusunan strategi diplomasi dekarbonisasi.
Pertama, menilai kesiapan ekosistem KEK Batang memenuhi standar internasional sebagai Eco-Industrial Park.
Kedua, mengidentifikasi berbagai hambatan pada aspek regulasi, pembiayaan, dan kelembagaan yang masih menghambat percepatan transformasi industri hijau.
Ketiga, menjadikan pengalaman pengembangan KEK Batang sebagai modal diplomasi Indonesia dalam membangun kemitraan yang setara dengan Tiongkok.
"Indonesia tidak boleh hanya menjadi penerima investasi, tetapi harus mampu menjadi mitra strategis yang ikut menentukan standar industri hijau global," ujar Dinna.
Akademisi Soroti SDM hingga Teknologi Ramah Lingkungan
Forum tersebut juga menghadirkan berbagai akademisi dari UNDIP dan UNNES yang memberikan masukan mengenai implementasi industri hijau.Dr. Ganjar Samudro dari Teknik Lingkungan UNDIP menekankan pentingnya penerapan teknologi dekarbonisasi, ekonomi sirkular, dan sistem pengelolaan limbah yang realistis di kawasan industri.
Sementara itu, Guru Besar UNNES Prof. Sucihatiningsih D.W. Prajanti menyoroti perlunya peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal agar mampu mengikuti perkembangan industri hijau.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu dilibatkan secara aktif dalam menyiapkan sumber daya manusia melalui riset, inovasi, dan pelatihan berbasis kebutuhan industri.
Guru Besar Ilmu Ekonomi UNDIP Prof. Firmansyah juga menilai pembangunan kawasan industri hijau harus memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekitar melalui model simbiosis ekonomi antara kawasan industri, UMKM, dan wilayah penyangga.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi kebutuhan tenaga kerja dari para tenant di KEK Batang agar perguruan tinggi dapat menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri.
Kemlu Siapkan Diplomasi Berbasis Bukti Lapangan
Selain diskusi, peserta juga mengunjungi berbagai pusat inovasi di UNNES dan UNDIP.UNNES memiliki Rumah Inovasi yang membantu hilirisasi hasil penelitian menuju komersialisasi.
Sementara itu, UNDIP memperkenalkan Teaching Factory yang menghasilkan berbagai inovasi, mulai dari pengolahan air, teknologi pengelolaan limbah, mesin industri, hingga sistem pengolahan sampah menuju konsep kampus zero waste.
Seluruh hasil diskusi dan temuan lapangan akan menjadi bahan pendalaman dalam kunjungan ke KEK Industropolis Batang pada 7 Agustus 2026 bersama para tenant kawasan industri.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Luar Negeri berharap dapat menyusun rekomendasi kebijakan luar negeri yang lebih konkret sehingga diplomasi dekarbonisasi Indonesia tidak hanya hadir di forum internasional, tetapi juga didukung implementasi nyata di dalam negeri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda