NEWS
James Riady: Perumahan dan Pariwisata Bisa Dorong Ekonomi
Rizkie Fauzian
Jumat 11 September 2026 / 21:01
- James Riady menilai sektor perumahan memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi karena menggerakkan berbagai sektor pendukung.
- Pembangunan perumahan disebut dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus menggerakkan industri material bangunan, pembiayaan, infrastruktur, dan konsumsi rumah tangga.
- Selain perumahan, James Riady menyoroti teknologi dan AI serta pariwisata sebagai peluang yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Jakarta: Sektor perumahan dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia karena pembangunan rumah tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga dapat menggerakkan berbagai sektor pendukung.
Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia, James Riady, mengatakan pemerintah melihat setidaknya tiga peluang besar yang dapat bergerak lebih cepat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, yakni kecerdasan buatan (AI) dan teknologi, perumahan, serta pariwisata.
Hal tersebut disampaikan James dalam sambutan pembukaan KADIN Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut James, kondisi ekonomi global saat ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah tekanan, biaya modal yang masih tinggi, hingga ruang fiskal pemerintah yang terbatas.
Pembangunan infrastruktur fisik tetap diperlukan, tetapi membutuhkan biaya besar dan waktu yang panjang. Di sisi lain, pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan, layanan kesehatan, keterampilan, dan peningkatan produktivitas juga menjadi investasi jangka panjang.
James menilai Indonesia juga perlu mengidentifikasi sektor-sektor yang dapat bergerak lebih cepat untuk mengakselerasi pertumbuhan.
"Presiden Prabowo telah menetapkan sektor perumahan sebagai prioritas nasional utama," kata James.
Menurut dia, pembangunan perumahan memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang besar. Pasalnya, aktivitas pembangunan rumah dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus menggerakkan berbagai sektor ekonomi.
"Karena mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan industri material bangunan, pembiayaan, infrastruktur, hingga konsumsi rumah tangga," ujarnya.
Dengan demikian, pembangunan perumahan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan hunian, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan industri material, sektor pembiayaan, pembangunan infrastruktur, serta aktivitas konsumsi masyarakat.
James menempatkan perumahan sejajar dengan AI dan teknologi serta pariwisata sebagai sektor yang dinilai memiliki peluang besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Tantangannya, kata James, adalah mengubah potensi tersebut menjadi aktivitas ekonomi.
Ia mencontohkan bagaimana keindahan alam perlu dikonversi menjadi aksesibilitas, kemudian menjadi pengalaman wisata, pembelanjaan, investasi, hingga kemakmuran.
James juga menilai pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam. Ekosistem pendukung seperti penerbangan, perhotelan, pemasaran, ritel, transportasi, restoran, konektivitas, promosi digital, dan layanan perlu dikembangkan secara konsisten.
Labuan Bajo menjadi salah satu contoh. Destinasi tersebut telah dikenal secara global dengan pariwisata bahari, tetapi pertumbuhan wisatawan juga menghadirkan kebutuhan baru, seperti kapasitas hotel, kapasitas bandara, marina internasional, hingga infrastruktur bahan bakar.
James juga menekankan pentingnya pembangunan pariwisata di daerah. Menurut dia, masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya dibangun di Jakarta atau Bali, tetapi juga di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, hadir Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa.
Sumatera Barat dinilai memiliki kekayaan budaya, kuliner, sejarah, pegunungan, garis pantai, kepulauan, serta kawasan surfing yang berpotensi dikembangkan lebih jauh untuk terhubung dengan ekosistem ekonomi Samudra Hindia dan pariwisata internasional.
Sementara itu, Papua Tengah memiliki sumber daya alam dan lanskap yang potensial, meski masih menghadapi tantangan dalam pembangunan kelembagaan, infrastruktur, konektivitas, dan sumber daya manusia.
James menilai peran Kadin daerah menjadi penting karena berada dekat dengan peluang dan hambatan di lapangan serta memiliki hubungan dengan pelaku usaha yang dapat mengeksekusi berbagai peluang tersebut.
Dalam pariwisata, misalnya, keberadaan hotel, restoran, penerbangan, operasional wisata selam, transportasi, ritel, kuliner, kerajinan, hiburan, hingga UMKM dapat menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah.
"Pariwisata bukan sekadar tentang angka kedatangan wisatawan. Pariwisata adalah tentang lapangan kerja, pertumbuhan daerah, penerimaan devisa, kewirausahaan, dan optimisme bangsa," ujar James.
Ia berharap forum yang mempertemukan pemerintah, komunitas diplomatik, Kadin pusat dan daerah, kamar dagang asing, investor, serta pelaku usaha tersebut dapat menghasilkan gagasan yang lebih praktis dan dapat ditindaklanjuti.
Menurut James, gagasan tersebut tidak selalu harus berupa proyek besar. Pembukaan rute penerbangan baru, pembangunan marina, peningkatan konektivitas bandara, penataan kawasan perbelanjaan, penyesuaian kebijakan visa, hingga pengembangan produk pariwisata baru juga dapat memberikan dampak ekonomi.
Kadin, kata James, meyakini sektor pariwisata layak mendapatkan porsi lebih besar dalam strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada saat yang sama, perumahan tetap menjadi salah satu sektor prioritas yang memiliki potensi besar untuk menciptakan efek pengganda bagi perekonomian.
(KIE)
Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia, James Riady, mengatakan pemerintah melihat setidaknya tiga peluang besar yang dapat bergerak lebih cepat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, yakni kecerdasan buatan (AI) dan teknologi, perumahan, serta pariwisata.
Hal tersebut disampaikan James dalam sambutan pembukaan KADIN Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut James, kondisi ekonomi global saat ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang berada di bawah tekanan, biaya modal yang masih tinggi, hingga ruang fiskal pemerintah yang terbatas.
Pembangunan infrastruktur fisik tetap diperlukan, tetapi membutuhkan biaya besar dan waktu yang panjang. Di sisi lain, pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan, layanan kesehatan, keterampilan, dan peningkatan produktivitas juga menjadi investasi jangka panjang.
James menilai Indonesia juga perlu mengidentifikasi sektor-sektor yang dapat bergerak lebih cepat untuk mengakselerasi pertumbuhan.
Perumahan punya efek pengganda
Dalam konteks tersebut, James menyebut perumahan sebagai salah satu sektor yang telah ditetapkan pemerintah sebagai prioritas nasional."Presiden Prabowo telah menetapkan sektor perumahan sebagai prioritas nasional utama," kata James.
Menurut dia, pembangunan perumahan memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang besar. Pasalnya, aktivitas pembangunan rumah dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus menggerakkan berbagai sektor ekonomi.
"Karena mampu menciptakan lapangan kerja, menggerakkan industri material bangunan, pembiayaan, infrastruktur, hingga konsumsi rumah tangga," ujarnya.
Dengan demikian, pembangunan perumahan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan hunian, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan industri material, sektor pembiayaan, pembangunan infrastruktur, serta aktivitas konsumsi masyarakat.
James menempatkan perumahan sejajar dengan AI dan teknologi serta pariwisata sebagai sektor yang dinilai memiliki peluang besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pariwisata perlu didorong dari daerah
Selain membahas perumahan, James dalam sambutannya juga menyoroti besarnya potensi pariwisata Indonesia. Menurut dia, Indonesia sebenarnya telah memiliki sebagian besar aset pariwisata yang dibutuhkan, mulai dari pantai, laut, lokasi diving, ombak untuk surfing, gunung berapi, hutan, hingga kekayaan budaya dan kuliner.Tantangannya, kata James, adalah mengubah potensi tersebut menjadi aktivitas ekonomi.
Ia mencontohkan bagaimana keindahan alam perlu dikonversi menjadi aksesibilitas, kemudian menjadi pengalaman wisata, pembelanjaan, investasi, hingga kemakmuran.
James juga menilai pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam. Ekosistem pendukung seperti penerbangan, perhotelan, pemasaran, ritel, transportasi, restoran, konektivitas, promosi digital, dan layanan perlu dikembangkan secara konsisten.
Labuan Bajo menjadi salah satu contoh. Destinasi tersebut telah dikenal secara global dengan pariwisata bahari, tetapi pertumbuhan wisatawan juga menghadirkan kebutuhan baru, seperti kapasitas hotel, kapasitas bandara, marina internasional, hingga infrastruktur bahan bakar.
James juga menekankan pentingnya pembangunan pariwisata di daerah. Menurut dia, masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya dibangun di Jakarta atau Bali, tetapi juga di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, hadir Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa.
Sumatera Barat dinilai memiliki kekayaan budaya, kuliner, sejarah, pegunungan, garis pantai, kepulauan, serta kawasan surfing yang berpotensi dikembangkan lebih jauh untuk terhubung dengan ekosistem ekonomi Samudra Hindia dan pariwisata internasional.
Sementara itu, Papua Tengah memiliki sumber daya alam dan lanskap yang potensial, meski masih menghadapi tantangan dalam pembangunan kelembagaan, infrastruktur, konektivitas, dan sumber daya manusia.
James menilai peran Kadin daerah menjadi penting karena berada dekat dengan peluang dan hambatan di lapangan serta memiliki hubungan dengan pelaku usaha yang dapat mengeksekusi berbagai peluang tersebut.
Mendorong aktivitas ekonomi riil
James mengatakan pengembangan sektor-sektor tersebut pada akhirnya perlu diarahkan untuk menghasilkan aktivitas ekonomi yang nyata.Dalam pariwisata, misalnya, keberadaan hotel, restoran, penerbangan, operasional wisata selam, transportasi, ritel, kuliner, kerajinan, hiburan, hingga UMKM dapat menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah.
"Pariwisata bukan sekadar tentang angka kedatangan wisatawan. Pariwisata adalah tentang lapangan kerja, pertumbuhan daerah, penerimaan devisa, kewirausahaan, dan optimisme bangsa," ujar James.
Ia berharap forum yang mempertemukan pemerintah, komunitas diplomatik, Kadin pusat dan daerah, kamar dagang asing, investor, serta pelaku usaha tersebut dapat menghasilkan gagasan yang lebih praktis dan dapat ditindaklanjuti.
Menurut James, gagasan tersebut tidak selalu harus berupa proyek besar. Pembukaan rute penerbangan baru, pembangunan marina, peningkatan konektivitas bandara, penataan kawasan perbelanjaan, penyesuaian kebijakan visa, hingga pengembangan produk pariwisata baru juga dapat memberikan dampak ekonomi.
Kadin, kata James, meyakini sektor pariwisata layak mendapatkan porsi lebih besar dalam strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada saat yang sama, perumahan tetap menjadi salah satu sektor prioritas yang memiliki potensi besar untuk menciptakan efek pengganda bagi perekonomian.
(KIE)