NEWS

Mal Jakarta Mulai Andalkan Green Space untuk Tarik Pengunjung

Rizkie Fauzian
Jumat 21 Agustus 2026 / 14:46
Ringkasnya gini..
  • Konsep experience-led retail dan green space semakin diminati karena dinilai mampu menjawab perubahan kebutuhan konsumen dan tantangan perubahan iklim.
  • Okupansi ruang ritel Jakarta mencapai 78,2 persen pada semester I 2026, sementara pasokan mal tumbuh 1 persen secara tahunan menjadi 4,42 juta meter persegi.
  • F&B menjadi tenant paling aktif mengisi ruang ritel pada awal 2026, dengan sekitar separuh tenant baru berasal dari sektor makanan dan minuman.
Jakarta: Sektor ritel Jakarta terus menunjukkan pertumbuhan pada semester pertama 2026, meski performanya belum merata di seluruh kelas atau grade pusat perbelanjaan. Knight Frank Indonesia mencatat konsep experience-led retail atau ritel berbasis pengalaman semakin berkembang.

Konsep tersebut juga mulai mengarah pada pemanfaatan ruang yang mengedepankan keberlanjutan atau sustainability. Ritel dengan ruang hijau atau green space tidak lagi sekadar menjadi bagian dari komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.

Konsep tersebut mulai menjadi strategi pengelola ritel untuk merespons perubahan iklim, meningkatkan efisiensi operasional, serta memenuhi perubahan ekspektasi konsumen terhadap ruang yang lebih dekat dengan alam.

Selain itu, persaingan ruang ritel di Jakarta yang semakin ketat turut mendorong pengelola menghadirkan konsep yang lebih menarik bagi pengunjung.

Sejak 2023, Jakarta telah memiliki sejumlah pusat ritel yang mengantongi sertifikasi hijau meskipun jumlahnya masih terbatas. Setelah pandemi, sejumlah pusat ritel kelas A mulai mengadopsi konsep tersebut dan mencatat tingkat okupansi yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata ritel di Jakarta.

Berdasarkan kategorisasi Knight Frank, ritel bersertifikasi hijau dan ritel yang memiliki green space mencatat tingkat okupansi lebih tinggi dibandingkan ritel terintegrasi atau mixed use serta ritel konvensional.
 
Tingkat okupansi tersebut menunjukkan adanya perubahan minat pasar sekaligus adaptasi pengelola terhadap kebutuhan ruang ritel pada masa mendatang.

Sementara itu, sektor makanan dan minuman (F&B) menjadi tenant yang paling aktif masuk ke ruang ritel, khususnya pada pusat perbelanjaan yang mengusung konsep green space.

Tenant F&B lokal juga mendapat apresiasi dan semakin mendominasi ruang ritel sebagai bagian dari masuknya tenant baru.

Meski demikian, kinerja ritel kelas menengah ke bawah masih menghadapi tantangan sehingga pengelola perlu terus beradaptasi dengan dinamika pasar dan perubahan perilaku konsumen.

Secara keseluruhan, total pasokan pusat perbelanjaan di Jakarta pada semester I 2026 meningkat 1 persen secara tahunan menjadi 4.424.352 meter persegi. Pertumbuhan tersebut turut didorong oleh beroperasinya dua mal baru di Jakarta Selatan.

Rerata tingkat okupansi ruang ritel juga meningkat tipis menjadi sekitar 78,2 persen dibandingkan akhir tahun lalu. Sementara itu, rerata harga sewa meningkat sekitar 1,9 persen secara tahunan.

Dari sisi tenant, sekitar separuh tenant baru yang masuk ke ruang ritel pada awal tahun berasal dari sektor F&B. Selain itu, sektor fashion, beauty, jewelry dan accessories, lifestyle, serta entertainment juga masih aktif melakukan ekspansi.

Ekspansi peritel terus berlanjut untuk menciptakan ruang ritel yang lebih produktif sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

Salah satunya ditunjukkan oleh Joysparks Group melalui pengembangan ekosistem integrated retail yang menaungi tiga bisnis utama, yakni Star Department Store, Happy Harvest Supermarket, dan Lintas Bookstore.

Dalam waktu dekat, Joysparks Group menargetkan pengoperasian 10 gerai dan akan terus melakukan pengembangan dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan perubahan demografi dan adopsi teknologi turut mendorong evolusi ritel Jakarta menuju konsep experience-led retail.

“Perubahan demografi dan adopsi teknologi mendorong evolusi ritel Jakarta menuju experience-led retail, sekaligus membuka kembali peluang investasi pada aset ritel produktif, pada kelas tertentu,” ujar Willson.

Menurut dia, di tengah pertumbuhan pasar yang semakin selektif, konsep green retail dapat memberikan nilai tambah bagi pengunjung.

Ruang ritel yang menggabungkan fitur keberlanjutan sebagai bagian dari konsep experience-led retail dinilai berpotensi membuat aset ritel semakin produktif dan memiliki nilai jangka panjang.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan tidak lagi hanya mengandalkan fungsi transaksi, tetapi juga perlu menghadirkan pengalaman, kenyamanan, dan konsep ruang yang sesuai dengan perubahan kebutuhan konsumen.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KIE)

MOST SEARCH