NEWS

Capai Okupansi 86%, Mal Jakarta Tetap Menguat Meski Pasokan Baru Terbatas

Rizkie Fauzian
Rabu 22 Juli 2026 / 20:50
Ringkasnya gini..
  • Sektor ritel Jakarta tumbuh positif pada kuartal II 2026. Permintaan ruang usaha terus meningkat meski terbatasnya pasokan mal baru.
  • Okupansi pusat perbelanjaan di Jakarta mencapai 86,4 persen pada kuartal II 2026. Mal kelas high-end mencatat tingkat keterisian tertinggi hingga sekitar 95 persen.
  • Pasokan ruang ritel baru diperkirakan hanya bertambah sekitar 40.000 meter persegi di waktu mendatang.
Jakarta: Sektor ritel di Jakarta menunjukkan pertumbuhan positif pada kuartal II, meski tambahan pasokan mal baru masih terbatas, menurut laporan CBRE Indonesia.

Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus, mengatakan sektor ritel mengalami pertumbuhan cukup positif. Permintaan ruang usaha terus berlanjut seiring ekspansi retailer yang belum berhenti, sementara tambahan pasokan mal baru di Jakarta masih relatif sedikit.

"Permintaan masih berlangsung, ekspansi dari retailer juga masih berjalan. Di sisi lain, pasokan mal baru di Jakarta tidak banyak. Pada kuartal ini hanya ada satu proyek yang masuk, itupun bukan stand alone mall, tetapi lifestyle retail," ujar Anton dalam Media Briefing di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.

Anton menjelaskan beberapa waktu terakhir pengembang lebih banyak menghadirkan pusat ritel berukuran kecil dibanding membangun mal berskala besar. Kondisi tersebut membuat pasokan ruang ritel di Jakarta masih terbatas.

"Belakangan kalau kita lihat, retail center yang masuk itu kecil-kecil. Kita belum lagi melihat mal-mal besar seperti yang dulu dibangun," katanya.

Ruang ritel cenderung mengalami kenaikan okupansi

Berdasarkan hasil survei CBRE, penyerapan ruang ritel di Jakarta selama kuartal II mencapai sekitar 20.000 meter persegi. Penyerapan tersebut dinilai masih positif dan ikut mendorong tingkat okupansi pusat perbelanjaan di Jakarta berada di kisaran 86,4 persen.

Jika dilihat berdasarkan segmennya, pusat perbelanjaan kelas high-end mencatat tingkat okupansi tertinggi, yakni sekitar 95 persen. Sementara itu, mal kelas upper dan middle-up memiliki tingkat keterisian sekitar 85 persen, sedangkan segmen middle-low berada di kisaran 80 persen.

Anton menilai tingkat okupansi tersebut masih menunjukkan kondisi pasar yang sehat. Menurutnya, bahkan pusat perbelanjaan kelas menengah bawah masih mampu mempertahankan tingkat keterisian yang relatif tinggi.

“Kalo kita bandingkan dengan okupansi perkantoran, retail ini masih oke,” tuturnya.

Dari sisi harga sewa, mal kelas high-end mencatat harga sewa rata-rata mendekati Rp900 ribu per meter persegi per bulan. Sementara pusat perbelanjaan kelas upper berada di kisaran Rp500 ribu per meter persegi per bulan, segmen middle-up sekitar Rp300 ribu per meter persegi per bulan, dan kelas middle-low berada di kisaran Rp200 ribu per meter persegi per bulan. 

Secara keseluruhan, total pasokan ruang ritel di Jakarta saat ini mencapai sekitar 3,5 juta meter persegi dengan perkiraan pasokan baru yang terbatas, hanya sekitar 40.000 meter persegi dalam waktu mendatang.

Anton menambahkan, belum banyak pengembang yang memutuskan membangun mal baru karena masih melihat kondisi pasar. Akibatnya, proyek yang dikembangkan lebih banyak berupa pusat ritel berukuran kecil atau perluasan pusat perbelanjaan yang telah ada. (Syarifah Komalasari)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KIE)

MOST SEARCH