NEWS

Kurasi Tenant Jadi Kunci Daya Saing Pusat Ritel Jakarta

Rizkie Fauzian
Rabu 02 September 2026 / 18:28
Ringkasnya gini..
  • Persaingan ritel Jakarta semakin ketat sehingga pusat perbelanjaan perlu menyusun komposisi tenant yang lebih strategis.
  • Kurasi tenant dinilai penting untuk menyesuaikan pusat perbelanjaan dengan profil dan kebutuhan konsumen.
  • Data kunjungan, profil konsumen, perilaku belanja, dan kinerja tenant dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi tenant mix.
Jakarta: Persaingan bisnis ritel di Jakarta semakin berkembang. Pusat perbelanjaan tidak lagi hanya menjadi tempat untuk berbelanja, tetapi juga dituntut menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup konsumen.

Kondisi tersebut membuat strategi kurasi tenant atau tenant mix menjadi semakin penting bagi pengelola pusat perbelanjaan. Komposisi tenant yang tepat dinilai dapat menjaga relevansi mal, meningkatkan daya tarik pengunjung, sekaligus mendukung kinerja bisnis dalam jangka panjang.

Head of Retail Services Colliers Indonesia Sander Halsema mengatakan pemilik pusat perbelanjaan perlu membangun tenant mix yang disesuaikan dengan profil pelanggan, pola belanja, preferensi gaya hidup, serta posisi bisnis pusat perbelanjaan.

"Tenant mix yang lebih strategis dan sesuai dengan profil pelanggan, pola belanja, preferensi gaya hidup, serta arah atau posisi bisnis mal untuk jangka panjang," kata Sander.

Menurutnya, pemilihan lokasi juga menjadi pertimbangan penting bagi peritel yang ingin melakukan ekspansi. Lokasi yang dipilih perlu sesuai dengan target konsumen, memiliki potensi produktivitas penjualan, serta mendukung pertumbuhan bisnis ke depan.

Tingkat okupansi belum merata

Perkembangan sektor ritel Jakarta masih berlangsung secara bertahap. Berdasarkan temuan dan analisis Research Colliers Indonesia, tingkat ruang kosong pusat perbelanjaan pada kuartal II 2026 masih cukup tinggi di sejumlah wilayah.

Ruang kosong tertinggi tercatat di Jakarta Selatan di luar kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD), dengan estimasi sekitar 21 persen. Posisi berikutnya berada di Jakarta Utara dengan tingkat ruang kosong sekitar 20 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan pemulihan sektor ritel belum berlangsung secara merata. Perbedaan karakter kawasan, profil konsumen, hingga daya tarik masing-masing pusat perbelanjaan turut memengaruhi kinerja tingkat okupansi.
 

Baca Juga :

Mal Jakarta Mulai Andalkan Green Space untuk Tarik Pengunjung


Di tengah kondisi tersebut, pengelola mal perlu melakukan repositioning secara berkelanjutan dan lebih selektif dalam menentukan tenant yang akan mengisi ruang komersial.

Komposisi tenant tidak hanya mencakup anchor tenant, tetapi juga merek lokal dan internasional, restoran, layanan pendukung, serta konsep yang menawarkan pengalaman bagi pengunjung.

Strategi berbasis data

Kurasi tenant kini tidak lagi sebatas upaya mengisi ruang kosong. Pengelola pusat perbelanjaan perlu memahami karakter pengunjung untuk menentukan jenis usaha yang paling sesuai dengan kebutuhan kawasan.

Data mengenai jumlah kunjungan, profil konsumen, perilaku belanja, hingga kinerja penjualan tenant dapat menjadi pertimbangan dalam menyusun strategi tenant mix.

Pendekatan berbasis data juga dapat membantu pengelola menentukan penempatan tenant di dalam pusat perbelanjaan. Dengan demikian, setiap area dapat memiliki fungsi yang saling mendukung dan menciptakan alur kunjungan yang lebih baik.

Pada akhirnya, pusat perbelanjaan perlu membangun ekosistem ritel yang memiliki identitas dan alasan yang jelas bagi konsumen untuk datang kembali.

Penggabungan aksesibilitas, tenant yang relevan, kenyamanan, pengalaman gaya hidup, serta perencanaan berbasis data dinilai menjadi faktor penting untuk mempertahankan daya saing pusat perbelanjaan di tengah perubahan perilaku konsumen Jakarta.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(KIE)

MOST SEARCH