NEWS
Lokasi Bisnis Berubah, Aktivitas Kawasan Kini Jadi Pertimbangan Utama
Rizkie Fauzian
Kamis 30 Juli 2026 / 17:56
- Pelaku usaha kini lebih memilih kawasan dengan aktivitas yang hidup sepanjang hari dibanding hanya mengandalkan tingginya lalu lintas kendaraan.
- Colliers mencatat sektor makanan dan minuman masih menjadi penggerak utama permintaan ruang ritel, sementara peritel semakin selektif memilih lokasi usaha.
- Tren tersebut mendorong berkembangnya kawasan mixed-use yang menggabungkan hunian, komersial, pendidikan, ruang publik, dan fasilitas rekreasi dalam satu ekosistem.
Jakarta: Besarnya arus kendaraan tidak lagi menjadi pertimbangan utama pelaku usaha dalam memilih lokasi bisnis. Seiring berubahnya perilaku konsumen dan tren industri ritel, kawasan yang memiliki aktivitas beragam dan berlangsung sepanjang hari dinilai lebih mampu menghadirkan kunjungan yang stabil dan berkualitas.
Perubahan tersebut tercermin dari semakin berkembangnya konsep kawasan mixed-use yang menggabungkan fungsi hunian, komersial, pendidikan, ruang publik, hingga fasilitas rekreasi dalam satu area.
Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan pusat perbelanjaan kini berkembang menjadi destinasi gaya hidup yang menawarkan pengalaman, interaksi sosial, dan aktivitas komunitas.
"Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online," kata Ferry dalam paparan Quarterly Property Market Report Q1 2026.
Di sisi lain, ekspansi tenant baru masih berlangsung, terutama dari sektor makanan dan minuman serta ritel premium. Beberapa merek teh asal China membuka gerai pertamanya di Indonesia, sementara sejumlah merek parfum internasional juga mulai memperluas kehadiran di pasar domestik.
Menurut Ferry, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha tetap melihat Indonesia sebagai pasar yang menarik. Namun, mereka kini lebih selektif dalam memilih lokasi usaha, ukuran gerai, hingga format toko yang digunakan.
"Peritel menyesuaikan strategi, mulai dari ukuran gerai hingga pemilihan lokasi yang dinilai memiliki traffic berkualitas," ujarnya.
Keberadaan penghuni, sekolah, perkantoran, fasilitas olahraga, ruang publik, hingga pusat kuliner dinilai mampu menciptakan pola kunjungan yang lebih stabil dibanding hanya mengandalkan kendaraan yang melintas.
Di sisi lain, terbatasnya pasokan pusat perbelanjaan premium baru di Jakarta juga membuat lokasi komersial yang telah memiliki ekosistem kuat semakin diminati. Colliers mencatat belum ada tambahan mal premium baru pada kuartal I 2026, sementara proyek baru yang direncanakan baru akan hadir dalam beberapa tahun mendatang.
Pengembang juga menyiapkan proyek komersial baru, Strozzi Commercial, di koridor Symphonia Boulevard sebagai bagian dari pengembangan kawasan.
Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur mengatakan pelaku usaha kini lebih memperhatikan aktivitas yang terbentuk di dalam kawasan dibanding hanya melihat lokasi yang berada di jalan utama.
"Pelaku usaha bukan cuma melihat apakah lokasinya strategis atau tidak. Mereka juga ingin tahu apakah kawasannya hidup dan memiliki aktivitas yang terus bergerak setiap hari," ujarnya.
Strozzi Commercial akan dipasarkan dalam dua pilihan ukuran, yakni 5 x 16 meter dan 7 x 16 meter. Unit-unit tersebut ditujukan bagi beragam jenis usaha, mulai dari F&B, ritel, wellness, hingga layanan profesional.
Setiap unit dilengkapi mezzanine serta didukung jalan dengan right of way atau ROW selebar 36 meter dan 32 meter. Kawasan ini juga mengusung konsep double-layer parking guna meningkatkan kapasitas parkir bagi tenant maupun pengunjung.
Pengembang menyediakan dua opsi serah terima, yakni bare dan finish, sehingga pelaku usaha memiliki fleksibilitas dalam menyesuaikan desain interior, identitas merek, dan kebutuhan operasionalnya.
Strozzi Commercial dipasarkan mulai sekitar Rp4 miliar dan diposisikan sebagai bagian dari ekosistem Serpong CBD yang mengintegrasikan aktivitas masyarakat, aksesibilitas, serta beragam destinasi dalam satu kawasan.
Dengan model pengembangan tersebut, daya tarik sebuah lokasi usaha tidak lagi hanya ditentukan oleh banyaknya kendaraan yang melintas. Keberlanjutan bisnis semakin bergantung pada kemampuan kawasan menghadirkan aktivitas yang konsisten, pengunjung yang relevan, dan kebutuhan ekonomi yang tumbuh dari ekosistem di sekitarnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KIE)
Perubahan tersebut tercermin dari semakin berkembangnya konsep kawasan mixed-use yang menggabungkan fungsi hunian, komersial, pendidikan, ruang publik, hingga fasilitas rekreasi dalam satu area.
Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan pusat perbelanjaan kini berkembang menjadi destinasi gaya hidup yang menawarkan pengalaman, interaksi sosial, dan aktivitas komunitas.
"Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online," kata Ferry dalam paparan Quarterly Property Market Report Q1 2026.
Tenant F&B masih menjadi penggerak utama
Berdasarkan laporan Colliers, aktivitas penyewaan ruang ritel premium di Jakarta tetap berjalan meski tingkat kekosongan meningkat menjadi 4,2 persen pada kuartal I 2026 setelah penutupan salah satu department store di Mal Kelapa Gading 1.Di sisi lain, ekspansi tenant baru masih berlangsung, terutama dari sektor makanan dan minuman serta ritel premium. Beberapa merek teh asal China membuka gerai pertamanya di Indonesia, sementara sejumlah merek parfum internasional juga mulai memperluas kehadiran di pasar domestik.
Menurut Ferry, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha tetap melihat Indonesia sebagai pasar yang menarik. Namun, mereka kini lebih selektif dalam memilih lokasi usaha, ukuran gerai, hingga format toko yang digunakan.
"Peritel menyesuaikan strategi, mulai dari ukuran gerai hingga pemilihan lokasi yang dinilai memiliki traffic berkualitas," ujarnya.
Ekosistem kawasan menjadi nilai tambah
Selain jumlah pengunjung, pelaku usaha kini mempertimbangkan apakah sebuah kawasan memiliki aktivitas yang berlangsung secara konsisten setiap hari.Keberadaan penghuni, sekolah, perkantoran, fasilitas olahraga, ruang publik, hingga pusat kuliner dinilai mampu menciptakan pola kunjungan yang lebih stabil dibanding hanya mengandalkan kendaraan yang melintas.
Di sisi lain, terbatasnya pasokan pusat perbelanjaan premium baru di Jakarta juga membuat lokasi komersial yang telah memiliki ekosistem kuat semakin diminati. Colliers mencatat belum ada tambahan mal premium baru pada kuartal I 2026, sementara proyek baru yang direncanakan baru akan hadir dalam beberapa tahun mendatang.
Kawasan mixed-use semakin diminati
Tren tersebut mendorong pengembang memperkuat konsep kawasan mixed-use yang mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu kawasan. Salah satu contohnya adalah pengembangan Serpong CBD yang memadukan kawasan hunian, pusat komersial, fasilitas pendidikan, ruang terbuka, hingga area olahraga dan hiburan.Pengembang juga menyiapkan proyek komersial baru, Strozzi Commercial, di koridor Symphonia Boulevard sebagai bagian dari pengembangan kawasan.
Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur mengatakan pelaku usaha kini lebih memperhatikan aktivitas yang terbentuk di dalam kawasan dibanding hanya melihat lokasi yang berada di jalan utama.
"Pelaku usaha bukan cuma melihat apakah lokasinya strategis atau tidak. Mereka juga ingin tahu apakah kawasannya hidup dan memiliki aktivitas yang terus bergerak setiap hari," ujarnya.
Strozzi Commercial akan dipasarkan dalam dua pilihan ukuran, yakni 5 x 16 meter dan 7 x 16 meter. Unit-unit tersebut ditujukan bagi beragam jenis usaha, mulai dari F&B, ritel, wellness, hingga layanan profesional.
Setiap unit dilengkapi mezzanine serta didukung jalan dengan right of way atau ROW selebar 36 meter dan 32 meter. Kawasan ini juga mengusung konsep double-layer parking guna meningkatkan kapasitas parkir bagi tenant maupun pengunjung.
Pengembang menyediakan dua opsi serah terima, yakni bare dan finish, sehingga pelaku usaha memiliki fleksibilitas dalam menyesuaikan desain interior, identitas merek, dan kebutuhan operasionalnya.
Strozzi Commercial dipasarkan mulai sekitar Rp4 miliar dan diposisikan sebagai bagian dari ekosistem Serpong CBD yang mengintegrasikan aktivitas masyarakat, aksesibilitas, serta beragam destinasi dalam satu kawasan.
Dengan model pengembangan tersebut, daya tarik sebuah lokasi usaha tidak lagi hanya ditentukan oleh banyaknya kendaraan yang melintas. Keberlanjutan bisnis semakin bergantung pada kemampuan kawasan menghadirkan aktivitas yang konsisten, pengunjung yang relevan, dan kebutuhan ekonomi yang tumbuh dari ekosistem di sekitarnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KIE)