Pasar residensial nasional pada akhir 2025 berada dalam kondisi relatif stabil. Foto: Freepik
Pasar residensial nasional pada akhir 2025 berada dalam kondisi relatif stabil. Foto: Freepik

Pasar Rumah Akhir 2025 Stabil, Segmen Kecil dan Menengah Dominan

Rizkie Fauzian • 11 Maret 2026 17:19
Ringkasnya gini..
  • Pasar residensial nasional pada akhir 2025 relatif stabil dengan kenaikan indeks harga rumah sebesar 0,4 persen.
  • Data Pinhome menunjukkan rumah kecil dan menengah tetap menjadi penopang utama pasar properti
  • Pergerakan harga rumah di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan dinamika yang beragam, dipengaruhi faktor ekonomi, infrastruktur, hingga risiko lingkungan.
Jakarta: Pasar residensial nasional pada akhir 2025 berada dalam kondisi relatif stabil di tengah penyesuaian daya beli dan perubahan preferensi hunian masyarakat. Permintaan rumah tetap terjaga terutama pada segmen kecil dan menengah, sementara pasar sewa mulai menunjukkan peran yang semakin kuat.
 
Kondisi tersebut tercermin dari temuan Pinhome melalui Pinhome Home Sell Index (PHSI) dan Pinhome Home Rental Index (PHRI) pada kuartal IV 2025. Indeks Harga Jual Rumah Nasional pada kuartal IV 2025 tercatat naik tipis 0,4 persen dibandingkan kuartal III 2025.
 
Secara tahunan, pertumbuhan juga tercatat stabil di angka 0,4 persen dibandingkan 2024. Hal ini menunjukkan kondisi pasar yang relatif seimbang di tengah penyesuaian permintaan, daya beli, serta perkembangan ekonomi di berbagai wilayah.

Secara tahunan, rumah berukuran kecil tetap menjadi penopang utama pasar dengan pertumbuhan 0,8 persen. Sementara itu, rumah tipe 55–120 meter persegi naik 0,5 persen, dan tipe 121–200 meter persegi tumbuh 0,3 persen. Sebaliknya, rumah tipe besar dengan luas ≥201 meter persegi mengalami koreksi tipis sebesar –0,9 persen.
 
CEO dan Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan segmen rumah menengah dan kecil masih menjadi pilihan utama masyarakat.
 
“Segmen menengah dan kecil tetap jadi favorit masyarakat, sementara rumah besar mengalami penurunan yang berkaitan dengan kecenderungan konsumen menunda pembelian atau beralih ke opsi sewa di kota inti, serta peningkatan inventori di beberapa wilayah komuter,” ujar dia dalam laporan, Rabu, 11 Maret 2026.

Pergerakan harga di Jakarta dan wilayah penopang

Di DKI Jakarta dan wilayah sekitarnya, dinamika harga rumah menunjukkan pergerakan yang berbeda di tiap kawasan.

1. Jakarta Utara

Di Tanjung Priok, rumah tipe 55–120 turun -5 persen, sementara tipe 121–200 turun -3 persen di Tanjung Priok dan Cilincing. Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap banjir rob. Sebaliknya, rumah tipe ≤54 di Tanjung Priok naik 3 persen, menunjukkan ketahanan segmen rumah kecil.

2. Jakarta Barat

Di Kembangan, tipe ≤54 naik 3 persen karena harga yang lebih kompetitif. Sementara itu di Kalideres, rumah tipe 121–200 tumbuh 2 persen didukung konektivitas transportasi dan kedekatan dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

3. Jakarta Pusat

Kemayoran menunjukkan penguatan yang relatif merata, dengan tipe ≥201 naik 3 persen, tipe 55–120 naik 3 persen, dan tipe ≤54 naik 2 persen, meski tipe 121–200 turun -3 persen.
Sebaliknya di Johar Baru, tipe ≥201 naik 2 persen, sementara tipe 121–200 turun -2 persen, tipe 55–120 turun -3 persen, dan tipe ≤54 turun -2 persen.

4. Jakarta Timur

Rumah tipe 121–200 naik 3 persen di Ciracas dan 2 persen di Cakung, didukung peningkatan akses dan infrastruktur. Sementara itu, tipe 55–120 di Kramat Jati turun -3 persen setelah gangguan aktivitas ekonomi lokal.

5. Jakarta Selatan

Di Jagakarsa dan Pasar Minggu, terjadi koreksi selektif pada tipe ≤54 sebesar -2 persen, mencerminkan sikap pembeli yang lebih berhati-hati dan penyesuaian daya beli di segmen rumah kecil.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA