Meski demikian, pasar rumah sekunder dinilai masih cukup bertahan di tengah tekanan ekonomi. Flash Report Mei 2026 dari Rumah123 mencatat harga rumah sekunder nasional masih tumbuh sebesar 0,1 persen secara bulanan (MoM) dan 0,8 persen secara tahunan (YoY) pada April 2026.
Sebanyak 11 kota tercatat masih mengalami pertumbuhan harga rumah tahunan positif. Kota dengan kenaikan tertinggi antara lain Denpasar sebesar 2 persen, Bogor 1,8 persen, dan Surakarta 1,5 persen.
Stabilnya harga rumah sekunder terjadi di tengah perlambatan sektor properti nasional. Sebelumnya, Bank Indonesia melaporkan penjualan properti residensial primer pada kuartal I 2026 terkontraksi hingga 25,67 persen secara tahunan.
Kondisi ini menunjukkan perbedaan tren antara pasar primer dan sekunder. Jika pengembang rumah baru menghadapi tekanan biaya pembangunan dan penjualan, pasar sekunder masih ditopang kebutuhan end-user, harga yang lebih fleksibel, serta kesiapan unit untuk langsung dihuni.
Kawasan penyangga Jabodetabek juga masih menjadi pusat aktivitas pencarian properti. Tangerang mencatat proporsi listing enquiries terbesar secara nasional sebesar 15,1 persen, disusul Jakarta Selatan 11 persen dan Jakarta Barat 9,3 persen.
Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, mengatakan saat ini konsumen semakin rasional dalam membeli rumah.
"Pembeli dinilai lebih sensitif terhadap cicilan KPR serta lebih mempertimbangkan kesiapan hunian, aksesibilitas kawasan, hingga potensi kenaikan nilai properti dalam jangka panjang," jelas dia dalam keterangan tertulis, Kamis, 14 Mei 2026.
Menurutnya, kawasan suburban seperti Tangerang, Bekasi, dan Bogor masih menjadi pilihan utama karena menawarkan harga yang relatif lebih terjangkau dibanding pusat kota, ditambah dukungan infrastruktur yang terus berkembang.
Di sisi lain, segmen rumah kecil dengan luas bangunan hingga 60 meter persegi menjadi kategori dengan pertumbuhan harga tertinggi secara tahunan. Surakarta mencatat kenaikan median harga mencapai 23,5 persen pada segmen tersebut.
Sementara itu, Bank Indonesia masih mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dengan inflasi April 2026 tercatat sebesar 2,42 persen secara tahunan. Kondisi ini dinilai masih memberikan ruang bagi pasar properti untuk menjaga momentum, khususnya pada segmen pembeli end-user.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News