Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id (Syah Sabur)

Syah Sabur

Jurnalis Senior Medcom.id & Peneliti di Media Research Center (MRC)

Mana Lebih Horor, Korona atau Demam Berdarah?

Pilar Virus Korona
Syah Sabur • 09 Maret 2020 09:00
SETELAH Presiden Jokowi mengumumkan adanya dua warga positif korona atau covid-19 (plus temuan dua positif lainnya pada 6 Maret dan dua lainnya pada 8 Maret), tiba-tiba banyak pihak seperti diserang paranoia. Dalam sekejap, korona berubah jadi horor. Hanya sehari setelah itu, sejumlah daerah mengumumkan adanya temuan kasus korona.
 
Tidak jelas betul, apakah itu statusnya “orang dalam pengawasan”, “pasien dalam pengawasan”, “terduga” atau “positif korona”. Sebagian juga tidak jelas seperti apa riwayat dan kriteria orang-orang yang disebut terjangkit korona itu.
 
Media juga melaporkan adanya warga meninggal terkait korona di beberapa daerah. Setelah dicek, warga tersebut meninggal karena faktor lain, sama sekali tidak terkait korona. Ada juga orang berusia 65 tahun meninggal pada Jumat (6/3), tapi statusnya masih terduga korona. Yang jelas, hingga detik ini tidak ada satu pun pasien positif korona yang meninggal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Beberapa stasiun televisi pun memasang label breaking news untuk kasus korona. Ada juga stasiun televisi yang siaran langsung (live) berkali-kali dari rumah korban. Padahal, korban dalam kondisi stabil dan berada di rumah sakit, puluhan kilometer dari kediamannya. Media cetak dan media online juga sama. Kasus korona mendominasi pemberitaan selama berhari-hari.
 
Suasana seolah genting
 
Seolah ingin menambah kegentingan suasana, ada reporter yang memakai respirator. Alat yang agak mirip topeng itu biasa digunakan untuk menghindari semprotan cat, zat kimia atau gas, bukan untuk masker kesehatan.
 
Perekonomian pun langsung terkena dampaknya. Sebagaimana dilaporkan berbagai media, masyarakat menyerbu pusat belanja untuk memborong sembako. Apotek serta pusat grosir alat kesehatan dan obat-obatan di Pasar Pramuka, Jakarta juga tak luput dari warga yang memburu masker dan hand sanitizer (cairan pembersih tangan).
 
Polisi pun menemukan sejumlah pihak yang menimbun masker. Sebagian warga juga berupaya memproduksi masker secara ilegal.
 
Padahal, tidak semua orang perlu masker untuk menghadapi korona. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan orang yang perlu masker adalah orang yang sakit.
 
Imunitas tubuh
 
Bahkan, kontak langsung dengan pasien yang dinyatakan positif korona pun belum tentu menular. Kondisi kesehatan seperti imunitas tubuh sangat memengaruhi seseorang bisa tertular atau tidak.
 
“Harus diingat ya, tidak semua orang kontak itu menjadi sakit atau menjadi positif korona. Tergantung kondisi badan kita. Kalau kondisi badan kita baik, imunitas baik, ya ndak mempan. Ilmu virologi ya begitu, tergantung imunologisnya orang tersebut,” papar Menkes.

Empon-emponini menjaditrendingsetelah peneliti senior dari UnairSurabaya, Chairul Anwar Nidom, menyebutkan ramuan tersebut bisa mencegah korona.


Media juga melaporkan, banyak warga berburu jahe, kunyit, temulawak, dan sereh yang merupakan bahan ramuan empon-empon. Empon-empon ini menjadi trending setelah peneliti senior dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Chairul Anwar Nidom, menyebutkan ramuan tersebut bisa mencegah korona.
 
Sementara itu, lewat Instruksi Nomor 27 Tahun 2020, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Provinsi DKI menyetop sementara izin untuk acara yang melibatkan kerumunan massa. Izin tersebut meliputi pemakaian lokasi taman dan jalur hijau untuk shooting film, bazar, perlombaan, dan kegiatan sejenisnya. Aktivitas yang menggunakan konsep perkemahan, bedeng proyek, material dan sejenisnya juga dilarang.
 
"Selain itu, termasuk izin pemakaian lokasi taman pemakaman untuk shooting film," imbuh
Kepala Dinas PTSP DKI, Benni Agus Candra.
 
Car free day
 
Anehnya, Pemprov DKI tetap mengizinkan car free day (CFD). Padahal, selama CFD banyak orang berkumpul. CFD juga menyediakan semacam bazar yang memperdagangkan makanan-minuman dan bebagai barang.
 
Tak kurang dari Menkes yang menyesalkan adanya respons berlebihan setelah diumumkannya dua warga Indonesia yang dinyatakan positif korona. Menteri heran virus korona justru jadi komoditas yang luar biasa. Menurut Terawan, kehebohan berlebihan itu pula yang membuat harga masker meroket di pasar maupun situs daring.

Menteri heran virus korona justru jadi komoditas yang luar biasa.


Lalu, mengapa korona tiba-tiba jadi horor bagi masyarakat? Hal ini memang tidak lepas dari kasus yang bermula di China dan dalam sekejap jadi mendunia.
 
Hingga awal Maret, secara global, pihak berwenang telah mengonfirmasi lebih dari 92.000 kasus korona. Sebagian besar—lebih dari 80.000—berada di Tiongkok. Di seluruh dunia, lebih dari 3.162 orang meninggal.
 
Meskipun demikian, lebih dari 50 persen pasien korona di China berhasil sembuh. Dari total 80.651 kasus di China yang tercatat pada 7 Maret 2020, sebanyak 55.404 kasus di antaranya dinyatakan sembuh.
 
Korona di Indonesia
 
Lalu, bagaimana dengan data korona di Indonesia? Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) masih mendalami sembilan pasien dalam pengawasan (PDP). Hingga Minggu (8/3/2020), dari sembilan pasien, lima di antaranya positif korona. Pasien baru, pria berusia 55 tahun, pernah kontak dengan pasien pertama yang berasal dari Depok.
 
Selain itu, ada juga pasien positif korona lain, yang berusia pasien 36 tahun dan merupakan anak buah kapal (ABK) Diamond Princess yang berasal dari Hong Kong. Karena itu, kasusnya dinamai "imported cases".
 
Hingga kini total Kemenkes telah menerima PDP sebanyak 156 orang. Jumlah itu merupakan akumulasi dari 35 RS yang tersebar di 23 provinsi. Dari 156 orang itu, 5 di antaranya positif. Dengan adanya satu ABK Diamond Princess yang dinyatakan positif, total jadi enam orang positif korona.
 
Sekarang mari kita lihat data tentang demam berdarah (DB) di Indonesia. Menurut Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2020, terdapat 94 kasus kematian akibat DB sejak Januari hingga Maret 2020. Total kasus DB secara nasional mencapai angka 14.716.
 
Bahkan, pemerintah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) dengan jumlah kasus 1.074 dan 11 di antaranya meninggal. Secara keseluruhan di NTT terdapat 1.300 DB, 29 di antaranya meninggal.
 
Zona merah DB
 
Kemenkes menetapkan status zona merah kasus DB kepada tiga provinsi, yaitu NTT (29 kasus kematian), disusul Jawa Barat (15 kematian), dan Jawa Timur (11 kematian). Lalu, zona kuning dengan tujuh kasus kematian di Lampung, empat di Jawa Tengah, tiga di Bengkulu, dan tiga di Sulawesi Tenggara. Ada juga 14 provinsi dengan masing-masing satu kasus kematian.
 
Sementara itu di periode yang sama pada 2019 lalu terjadi 436 kematian akibat DB dengan total kasus mencapai 51.400. Secara keseluruhan pada 2019 total kasus DB mencapai 137.761. "Dan ada 917 orang meninggal akibat DB sepanjang 2019," kata Siti.

Sama seperti korona, DB juga belum ada obatnya.


Karena itu, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia Daeng Muhammad Faqih, dalam dialog di Metro TV (6 Maret 2020), meminta masyarakat untuk tidak berlebihan menyikapi korona. Dia mengingatkan kasus DB yang saat ini menjangkiti sejumlah daerah.
 
Menurut Daeng, sama seperti korona, DB juga belum ada obatnya. “Yang ditangani saat ini baru gejalanya dengan memberikan terapi cairan. Jadi, DB sebetulnya lebih bahaya dibanding korona karena kasusnya ribuan dengan ratusan korban tewas. Publik menganggap korona lebih bahaya karena merupakan hal baru,” katanya.
 
Ada juga hal yang kurang dicermati publik, yaitu fakta bahwa Indonesia berada di siklus akhir korona, yakni menjelang masuk musim panas/kemarau. Sejumlah pakar kesehatan dunia memprediksi, daya serang korona akan turun drastis di musim panas.
 
Belum lagi ada kabar baik bahwa peneliti China akan segera mengajukan hak paten obat hasil eksperimen yang mereka yakini bisa memerangi korona. Jadi, sangat mungkin dalam waktu dekat, obat korona tersedia di pasar.
 
Artinya, kita semua memang perlu mewaspadai korona tapi tidak perlu takut ketakutan secara berlebihan. Sebab, di lain pihak, kita menghadapi “horor” yang berlangsung hampir tiap tahun, yaitu DB, dengan jumlah korban yang jauh lebih besar.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif