NEWSTICKER
Ilustrasi/mdcom.id
Ilustrasi/mdcom.id (Charles Meikiansyah)

Charles Meikiansyah

Anggota DPR RI 2019-2024

Perang Melawan Covid-19

Pilar pandemik virus korona
Charles Meikiansyah • 23 Maret 2020 08:30
KETIKA muncul korona virus (covid-19) di Wuhan, warga dunia menganggap serangan virus ini tidak begitu membahayakan dan merupakan endemi yang sangat lokal. Terbatas di satu wilayah.
 
Evolusi dan mutasi virus korona dianggap hanya evolusi minor dari virus-virus yang telah muncul sebelumnya seperti H1N1, SARS, Ebola, dan sebagainya. Bahaya tapi sebaran dan dampaknya tidak semengerikan yang sekarang terjadi.
 
Kondisi yang demikian tidak banyak berubah setelah badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan covid-19 sebagai pandemi. Hal itu tercermin dari hampir seluruh negara yang gagap dalam menghadapi pandemi ini. Banyak negara tidak memiliki persiapan yang cukup dalam menghadapi pertumbuhan korban yang terjangkit korona, termasuk Indonesia.


Memang data awal dan sebaran korona selalui berjalan landai. Dalam satu minggu awal ditemukannya korban korona dalam satu negara, data dan sebaran wilayah yang terjangkiti bergerak lambat, hanya satu sampai dua orang di satu lokasi.


Hal ini yang menyebabkan negara-negara yang terjangkiti, terutama Indonesia tidak mengambil tindakan yang serius dan radikal. Hanya mengisolasi korban dan memberikan imbauan yang sifatnya normatif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Melonjak drastis Celakanya, pertumbuhan sebaran dan korban korona selalu mengikuti model pertumbuhan eksponensial ketika pertumbuhan di awal selalu bergerak landai dan akhirnya melonjak drastis.
 
Lonjakan yang drastis membuat kondisi krisis. Dan kita sekarang berada dalam kondisi yang demikian. Data seberan dan korban terus meningkat mengikuti model eksponensial ketika data dan sebaran korban tidak lagi berjalan landai tapi terus meningkat drastis.
 
Data terakhir (Minggu, 22/03/2020) menunjukkan jumlah korban positif 514 orang, 48 meninggal, dan 29 sembuh. Artinya tingkat mortalitiy rate korona di Indonesia sebesar 8,4 persen. Persentase yang besar apabila merujuk pada tingkat mortalitiy rate di China sebesar empat persen.
 
Lalu kapan data korban korona akan mulai turun? Pertanyaan yang membutuhkan kebijakan yang tepat dan cepat, serta membutuhkan kerjasama nasional dalam perang melawan korona. Semakin solid kerjasama seluruh elemen akan dapat menekan laju pertumbuhan korbannya.
 
Sekarang bukan waktunya berdebat untuk saling menyalahkan. Ucapan politisi Adlai Stevenson di New York Times tahun 1962 masih relevan untuk kondisi sekarang; would rather light a candle than curse the darkness (lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan).
 
Gotong royong nasional
 
Situasi krisis hari ini membutuhkan gotong royong nasional untuk bersama-sama melawan korona. Gotong royong paling mendasar dan penting adalah menerapkan social distancing secara serius dan tidak bisa ditawar lagi. Kita semua harus membantu negara dengan sebisa mungkin mengurangi mobilitas atau bahkan berdiam diri di rumah.
 
Dengan social distancing yang ketat kita berkontribusi sangat besar dalam menurunkan jumlah korban korona, bahkan sampai 40 persen. Hari ini berkoban demi negara tidak lagi harus berjuang dalam medan pertempuran tetapi cukup melaksanakan social distancing.
 
Kesediaan pemerintah, DPR, elit politik dan dunia usaha untuk bersama-sama mengurangi mobilitas dengan seruan work from home(bekerja dari rumah) harus diapresiasi. Namun, hal itu juga harus diimbangi dengan keseriusan kita semua untuk melaksanakannya.
 
Gotong royong nasional juga harus kita lakukan dengan bekerjasama menyukseskan kebijakan yang tengah diambil, yaitu memperbanyak dan mempercepat test korona (rapid test). Pemerintah harus mempercepat pengadaan kelengkapan lainya seperti alat pendekteksi dan obat. Di saat yang sama, masyarakat harus secara sukarela untuk memeriksakan diri apabila merasa gejala terjangkit korona.
 
Kami di partai Nasdem sudah melakukan gotong royong nasional dengan menginstruksikan social distancing, meliburkan seluruh tenaga ahli di fraksi partai Nasdem dan menggantinya dengan bekerj di rumah. Apabila pemerintah sudah siap dengan alat rapid test, Partai Nasdem juga siap menginstruksikan seluruh elemen dari tingkat paling bawah sampai pusat untuk melakukan tes korona.
 
Belajar dari Italia
 
Mitigasi korona hari ini tidak bisa dilakukan serampangan dan hanya mengandalkan kesukarelaan. Kita harus belajar dari Italia yang akhirnya melakukan kebijakan lockdown nasional setelah data korban menunjukkan lonjakan drastis. Keterlambatan pemerintah dalam mengambil kebijakan harus dibayar sangat mahal. Akibatnya, tidak hanya jumlah korban yang besar tetapi juga terjadinya kontraksi ekonomi yang dalam.
 
Keputusan pemerintah untuk mengambil mitigasi model Korea Selatan harus dilakukan secara serius. Sinergitas seluruh elemen menjadi kunci. Bahkan kalau perlu pemerintah pusat bisa melakukan intervensi kepada daerah untuk melaksanakan social distancing. Selain itu, pemerintah daerah juga harus bisa memaksa masyarakatnya untuk melaksanakan opsi tersebut.
 
Sikap yang sama harus dilakukan dunia usaha. Perusahaan sebisa mungkin mengurangi mobilitas sosial karyawan dengan stimulus dari pemerintah agar dunia usaha tidak mengalami kontraksi yang berat.
 
Tahun yang berat
 
Tahun ini adalah tahun yang berat, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia. Siklus pandemi 100 tahun-an datang tiba-tiba di tengah optimisme untuk kerja, kerja, dan kerja dalam mengejar ketertinggalan.
 
Meskipun menyisakan kesedihan dan kekhawatiran, korona memberikan cermin sekaligus hikmah bagi kita karena dengan korona kita bersatu. Korona juga menunjukkan kepada kita tentang lemahnya fondasi sistem kesehatan kita. Karena itu, pasca-korona kita harus melakukan restorasi sistem kesehatan nasional yang serius. Kita juga harus investasi besar-besaran pada vaccine innovation.
 
Ini penting karena seperti kata pendiri Microsoft, Bill Gates, threat of deadly over 10 million people in the next few decade, its most likely to be a highly infectious virus rather than war, not missiles but microbes (ancaman mematikan bagi lebih dari 10 juta orang dalam beberapa dekade ke depan bukanlah perang atau rudal, melainkan kemungkinan besar berupa virus yang sangat mudah menular dan mikroba). Maka, inovasi, kerjasama, dan perencanaan yang matang akan dapat meminimalisir risiko tersebut.
 
Selebihnya, tetap waspada, laksanakan karantina mandiri dan tetap lakukan social distancing secara ketat karena kita sedang berkontribusi bagi negara untuk memerangi pandemi. Kita akan mempu melewatinya dengan cepat tanpa banyak korban. Badai pasti berlalu. Semoga.[]
 

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif