Virus korona sempat memaksa Pemerintah Arab Saudi menutup Mekkah. Foto: AFP
Virus korona sempat memaksa Pemerintah Arab Saudi menutup Mekkah. Foto: AFP (Agus Maftuh Abegebriel)

Agus Maftuh Abegebriel

Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar RI untuk Arab Saudi 

Corona, Rabiah Adawiyyah, dan Ziarah Kubur

Pilar Virus Korona
Agus Maftuh Abegebriel • 13 Maret 2020 08:30
KONDISI globalized turmoil and turbulence (gonjang-ganjing global) saat ini merupakan dampak langsung dari corona yang “mendiaspora” di hampir semua negara. Ketakutan dunia terhadap virus pencabut nyawa ini telah begitu nyata, demonstrable dan burhani yang tak bisa disangkal. Tatanan dunia berubah mbuletly and ruwetly dalam waktu singkat akibat covid-19 ini.
 
Corona juga memiliki kekuatan geopolitic dan geostrategic dahsyat untuk memaksa semua negara gelisah dan “bersatu” menghadapi the common enemy – “musuh bersama”. Saya menyebut “jotosan” melawan corona ini dengan GW-OCC (Global War on Combatting Corona, baca: GuWe Ocece) perang global menghajar corona.
 
Sebagai orang yang pernah meneliti jejaring teroris internasional, istilah GW-OCC saya adopsi dari gerakan global untuk memerangi terorisme yang dikenal dengan G-WOT (Global War on Terrorism).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Salah satu misi G-WOT adalah menghentikan persenjataan teroris yang populer -ketika itu- dengan sebutan CBRN (Chemical, Biological, Radiological and Nuclear) Weapons yang dikategorikan dalam rumpun senjata pemusnah massal atau WMD (Weapon of Mass Destruction). Ziarah Kubur

Fenomena virus corona dalam perspektif santri sebenarnya inline pararel dengan tradisi keilmuan pesantren bahwa “ziarah kubur” bisa mengingatkan kematian. Corona adalah sinyal pengingat kematian.


 
Lupa kematian akan memunculkan qaswatul qalbi hati yang keras dan memproduk watak hedonisme duniawi yang overload. Pesan teologis dalam ziarah kubur adalah fenomena corona itu sendiri.
 
Para santri yang rajin mutala’ah pastilah mengenal karya Imam Al-Qurtubi yang memaparkan secara komprehensif dan komplit tentang kematian. Kitab tersebut berjudul Al-Tazkirah bi ahwali mauta wa umur al-akhirah yang dicetak dalam 3 jilid.
 
Sufi perempuan legendaris, Rabiah Adawiyah tidak pernah merasa takut kematian. Sufi yang dikenal sebagai peletak dasar tasawuf mahabbah (cinta) ini menganggap kematian adalah awal kebahagian yang sangat dinantikan. Awal perjumpaan dengan Allah, Sang Kekasih yang pernah terekspresikan dalam bait-bait syair:
 
??? ???? ??? ?? ??? ????? # ??? ??? ????? ?? ?? ????
??? ??? ??? ??? ?????? ????? # ??? ???? ?? ???? ???? ?????
 
Minni salamun ala man lastu ansahu, wa la yamullu lisaniy qattu an zikrihi, iza ghaba anni fainnal quluba maskanuhu, wa man yakunu fi qalbi fakaifa ansahu
Artinya: Salamku untuk Allah yang tak pernah aku bisa melupakan-NYA, lidahku pun tak pernah bosan untuk menyebut-NYA. Ketika DIA pergi dariku, hati inilah rumah-NYA, DIA yang selalu di hatiku, tak mungkin aku bisa melupakan-NYA.
 
Dinyanyikan Umi Kultsum
 
Perjumpaan Rabiah dengan “Sang Kekasih” direkam dalam sebuah lagu yang saya nyanyikan bersama mantan mahasiswa saya yang sekarang menjadi istri saya, Luluk Muniroh berjudul ar-Ridha wan Nur di KBRI Riyadh tahun 2018 dalam bingkai diplotainment (diplomacy-entertaiment), diplomasi sekaligus menghibur para WNI yang tinggal di Arab Saudi.
 
Lagu ini pertama kali dinyanyikan oleh salah satu “Syarifah” keturunan kanjeng Nabi Muhammad Sallallah alaihi wa sallama yaitu Umi Kultsum Kaukab as-Syarqi sang bintang timur. Pertama kali didendangkan tahun 1963 dan liriknya digarap oleh penyair Taher Abu Pasha.
 
Lho Umi Kultsum masih keturunan Kanjeng Nabi?
 
Setidaknya referensi yang pernah saya baca mengarah ke kesimpulan ini, yaitu kitab Kunuz Al-Ansab Wa Majma' Al-Adab. Saya juga minta tolong santri progresif alumni Futuhiyyah Mranggen yang sekarang sedang talabul ilmi di Kairo, Falih Vava untuk mutala’ah eksplorasi kitab Mu’jam Qobail Masr untuk melacak nasab Umi Kultsum ini. Tentang nasab Umi Kultsum akan saya uraikan dalam tulisan lainnya.
 
Kerinduan Rabiah Adawiyah
 
Kerinduan Rabiah Adawiyah kepada Allah disenandungkan oleh Umi Kultsum begitu sempurna dengan narasi:
Ya Habibar Ruh, Ta’ihun Majruh, Kulluhu Juruh, La’idzun bil Bab, Syauquhu da’ah, war Ridha Rehab, Yasymalu Muna (Wahai KEKASIH jiwaku, Hamba-MU penuh dosa telah terluka, penuh cabikan luka dan peluh dosa, Hamba-MU telah merasakan kenikmatan luar biasa berada di depan pintu-MU, Kerinduannya telah membawanya ke sini, kepasrahan telah gapai kepuasan dan merambah kesucian).
 
Umi Kultsum masih juga melanjutkan senandungnya dengan: ahduhul watsiq, wahatun najah, awwalut thariq, ila muntahah (janji tulus setianya sangat kuat melangkah menuju oase keselamatan, kematian ini awal perjalanan menuju Yang Maha Puncak, eternal in the past and eternal in the future).
 
Lalu apa munasabah atawa korelasinya dengan corona?
 
Dengan corona yang heboh ini, Allah mengingatkan kita terhadap kematian yang merupakan fase historical necessity, keniscayaan sejarah sebagaimana ziarah kubur juga diharapkan sebagai media pengingat kematian.
 
Kita hadapi corona dengan ikhtiar doa dan Mahabbah Cinta kepada Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad Sallallah alaihi wa sallama. Kita jadikan corona sebagai triger (pemantik) untuk mencintai Allah dan Rasul-NYA di atas yang lain. Halawatal iman (manisnya iman) hanya bisa dirasakan dengan Cinta Allah dan Rasul-NYA.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif