ILUSTRASI: Santri Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Padangpariaman, Sumbar, mengkaji kitab kuning/ANTARA/Iggoy el Fitra
ILUSTRASI: Santri Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Padangpariaman, Sumbar, mengkaji kitab kuning/ANTARA/Iggoy el Fitra (Candra Malik)

Candra Malik

Fasih Membaca Teks, Gagap Mengeja Konteks

Oase islam pondok pesantren toleransi beragama
Candra Malik • 29 Maret 2018 15:14
Beragama tidak perlu tegang. Justru agama seharusnya menjadikan kita tenang.
 
BELUM lagi saya mengangkat tangan untuk takbiratulihram, Ben sudah lebih dulu meloncat ke bawah sarung. Saya suruh menggeser badan, ia melesat lari tapi lantas merangsek ke atas gambar kubah. Saya sudah memulai salat Isya ketika Ben menaruh kepala dan pulas di ujung sajadah. Meski peci menyenggol tubuhnya, Ben bergeming tatkala saya bersujud. Hingga usai saya berzikir dan berdoa, kucing berbulu putih ini tidak juga terbangun. Saya tinggalkan Ben di situ. Sejak Tom menghilang, beberapa bulan sebelumnya - sepertinya berbaur dengan kucing-kucing di kampung; Ben yang menyusul diadopsi memang jadi kucing kesayangan orang rumah.
 
Di rumah, tak hanya anggota keluarga yang tinggal. Masih ada Jimbo, seorang videografer dan Jibon, seorang pelukis muda. Dua-duanya dari Banyuwangi. Sebelum mereka, pernah tinggal pula beberapa pemuda lainnya. Saya sering ke luar kota, namun sepanjang malam saya akan temani mereka jika sedang di rumah. Selain keduanya, masih ada pula yang datang dan pergi setiap hari. Kepada saya, mereka belajar tentang kehidupan; baik di dunia maupun di akhirat. Di sejumlah daerah, tersebar pula para salik yang sabar dan setia menunggu giliran saya kunjungi. Tak semua menempuh jalan tasawuf. Ada yang memilih displin kebatinan lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Tak semuanya pula pandai mengaji. Bahkan, kalau dibikin perbandingan, masih lebih banyak yang tidak paham alif ba’ ta’ dari pada yang fasih. Namun, itu tidak menghalangi kami bersaudara dalam keyakinan untuk mencintai Allah dan Rasulullah, serta sesama manusia. Kami menjadi semakin meyakini hal itu sejak mendengar kisah dari Kiai Hanif Amnany tentang mendiang Mbah Kiai Mustofa di Kertosono, Jawa Timur. “Ia ditanya oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, bagaimana mungkin seorang mursyid thariqat tidak bisa membaca kitab? Mbah Kiai Mustofa mengakui memang tak bisa membaca kitab tapi setiap ruas tubuhnya selalu berzikir.” Saya sedang mengunjungi Kiai Hanif di Pesantren Sunan Kepuh, Madiun, saat ia bercerita tentang Kiai Mustofa. Putra Kiai Slamet Arifin, mursyid Thariqat Naqsabandy Qadiry ini setia mengasuh 50 santri di di Klencongan, Kedungrejo, Pilangkenceng, Madiun. Selain itu, ia mengasuh sejumlah majelis umum di dalam dan luar pesantren. “Hampir tiap malam, saya keliling ke desa-desa untuk mengajak dan mengajari orang-orang membasuh muka. Wudu. Lalu, pelan-pelan saya ajak dan ajari salat. Lalu, saya ajak berbuat baik,” jelasnya. Sampai saat ini, Kiai Hanif mengampu 21 majelis. Selain itu, ia membuka diri bagi siapa pun 24 jam per hari.
 
Malam itu pun, Kiai Hanif dan santri-santrinya memasak untuk saya dan rombongan dari Solo. Nasi dan seluruh lauk dipapar di sebidang daun pisang. “Beginilah tradisi liwetan di pondok kami,” ungkap Ari, khadam Kiai Hanif. Jadilah kami makan bersama, duduk melingkari daun pisang yang menjadi piring bagi rezeki kami malam itu. Tak ada perbedaan strata kuliner antara kiai dan santri. Semua menggigit ikan asin dan mencolek sambal yang sama. Menjelang tengah malam, Kiai Hanif berpamitan hendak mengantar salah seorang santrinya pulang ke Bagelen, Purworejo. Sebentar kemudian, kami pun melanjutkan perjalanan ke timur.
 
Tak ada yang menegangkan dari cara kami beragama. Saya tidak meributkan apakah kucing yang ke mana-mana tak memakai sepatu, atau sandal, itu boleh menginjak sajadah, apalagi tidur pulas di atasnya. Muhammad SAW memang bersabda,” Kucing tidak najis. Ia sering kita jumpai di sekitar kita”, dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Namun, masih ada khilafiyah soal kotorannya. Saya juga tidak memukul anak-anakku ketika mereka tidak segera berangkat salat. Saya lebih menyukai dialog agar anak-anak beragama atas kesadaran sendiri, bukan paksaan. Juga supaya mereka merasakan sendiri nikmat hidayah.
 
Saya sempat membatin, apakah Kiai Hanif akan menyuruh kami segera ke masjid saat azan Isya’ dilantangkan, atau tetap duduk bersama kami. Ia ternyata memilih memuliakan tamu, ngobrol tentang berbagai hal seraya terus menebar senyum, bahkan juga menyantap liwetan bersama kami. Tak ada yang samasekali menegangkan dari cara kami beragama. Jangankan cuma kucing yang menginjak-injak sajadah ketika salat, yang lebih dari itu pun diterima dengan lapang dada. “Menjadi berbeda itu tidak apa-apa. Yang penting, kita jangan merasa lebih baik dan benar. Lebih baik, kita saling mendoakan selamat,” kata Kiai Hanif.
 
Dalam Suluk Badran, majelis agama dan budaya yang saya ampu di radius Solo, Jawa Tengah, saya juga pernah mengatakan, Allah menyediakan surga dengan banyak pintu. Dan tiap-tiap kita insyaallah akan memasukinya melalui pintu masing-masing. Oleh karena itu, kita tidak perlu berebut surga sampai sedemikian rupa mendorong sesama muslim ke neraka, membidahkan amal ibadahnya, mengkafirkan keimanannya, dan/atau memurtadkan keislamannya hanya gara-gara berbeda keyakinan. Agama dan cara beragama menjadi sedemikian menegangkan. Jika kita tak bisa hidup tenang, maka kitalah yang salah kaprah menerapkan agama.
 
Saya bolehkan dalang Ki Bagus Hadi Santoso membentang layar wayang kulit 9 x 4 m2 dan saya izinkan Ki Budi Gong menggelar seperangkat gamelan, memenuhi pendapa tempat pengajian. Saya juga tidak memersoalkan Prof Dr KH Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD, tidak berpeci saat menyampaikan mauidhah hasanah dalam wiyosan atau peringatan hari lahir ke 40 tahun saya di Pendapa Nusantara, Dukuh Badran, Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 25 Maret. Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan Selandia Baru itu memilih mengurai rambutnya yang panjang.

Bagi saya, dan ternyata bagi banyak orang lainnya juga, termasuk para kiai, beragama bisa luwes. Tidak harus menegangkan, apalagi memaksakan kehendak. Asalkan pagar pembatas tidak ditabrak, niscaya tidak akan ada yang rusak.

Kiai Nadirsyah berpetuah, kita sebaiknya mempelajari ilmu dan kearifannya pula. “Tidak cukup hanya menguasai satu displin ilmu, kemudian menilai displin ilmu lainnya,” jelasnya. Sebagaimana setiap hukum memiliki banyak pandangan hukum, setiap ilmu juga mempunyai banyak kearifan di dalamnya. “Kalau hanya pakai ilmu fiqh, saya mungkin akan sering menyalahkan Mbah Can yang berilmu tasawuf!”
 
Dalam urusan salat, contohnya, fiqh membahas tuntas tuma’ninah, yaitu diam atau berhenti sejenak pada setiap gerakan shalat. Namun, tidak dalam urusan khusyuk. “Nah, khusyuk berada di tasawuf,” paparnya. Jika tidak tuntas belajar namun justru meruncingkan perbedaan, siapa pun menempatkan agama dalam tuduhan biang kerok ketegangan antarumat. Padahal, kita sendiri yang sibuk mencari kesalahan dan keburukan orang lain dari pada menemukan kebenaran dan kebaikan orang itu. Fasih membaca teks namun gagap mengeja konteks. Mengolok kencing unta, lalai menyempurnakan istinja kemaluan sendiri.
 
Soal Kiai Nadirsyah yang memanggil saya Mbah Can, ada banyak argumen. Salah satunya, demi menuakan saya walaupun saya lebih muda secara umur darinya. Dalam keseharian, ada pula yang memanggil saya Gus, Kiai, Syekh, Mas, Dik, Om, Ayah, dan banyak lagi, saya menikmati saja aneka perbedaan cara memanggil itu. Allah juga memiliki banyak gelar dan nama. Perbedaan cara kita menyebutNya tidak kemudian menambah KeagunganNya atau malah mengurangi.
 
Bagaimana pun, agama itu teladan kebaikan dan kebenaran. “Ad diin an nashihah,” kata Nabi. Agama tak hanya berisi akidah dan ibadah, namun juga akhlaqul karimah dan muammalah. []

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID
 


 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif