Antara: ilustrasi
Antara: ilustrasi (Muhammad Faesal)

Muhammad Faesal

Ketua PP ISNU / Dosen FE Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Selamat Datang Peradaban Baru

Pilar virus corona
Muhammad Faesal • 21 Mei 2020 03:30
SELAMAT datang peradaban baru. Itulah kalimat yang layak kita ucapkan saat ini. Peradaban baru adalah peradaban yang mengajarkan manusia untuk menjunjung tinggi kemuliaan, wibawa, dan harkat serta martabat setiap individu. Bahwa setiap orang memiliki kedudukan yang sama berharga dan mulia.
 
Covid-19 yang mewabah di hampir semua negara ini telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat dunia, tidak terkecuali Indonesia. Masyarakat tersentak, kaget, bahkan sangat tidak siap dengan kehadiran wabah yang mematikan ini. Seluruh perhitungan dan analisa para ahli menjadi tidak berfungsi maksimal.
 
Program pemerintah maupun swasta pun berubah total. Covid-19 mengubahnya dan memicu lahirnya peradaban baru bagi umat manusia. Manusia ditakdirkan menjadi khalifah, pembawa perubahan dan pembentuk peradaban di muka bumi.

Manusia hadir untuk bertindak melakukan perubahan dan membangun peradaban yang diamanatkan oleh Allah SWT.


Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya sebagai khalifah, manusia tidak hanya dibebani dengan kewajiban-kewajibannya terhadap Tuhan sebagai Pencipta, tetapi juga harus memerhatikan segala kebutuhannya dalam mengemban misi kekhalifahannya. Sebab, jika kebutuhan hidupnya terganggu, maka tugas-tugas yang diembannya sebagai khalifah di muka bumi tidak dapat dijalankan dengan baik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Allah SWT berfirman di dalam al-qur’an surat Al-Qashash ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Ayat ini memberi isyarat kepada manusia (sebagai penentu perubahan dan peradaban baru) untuk senantiasa menyeimbangkan antara kebutuhan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Dunia dijadikan sebagai ladang kehidupan akhirat.
 
Sosok pembaharu
 
Dalam berbagai sejarah disebutkan bahwa para nabi dan rasul utusan Tuhan dan khususnya Nabi Muhammad SAW adalah sosok pembaharu. Penggagas dan penggerak perubahan dan peradaban manusia pada zamannya. Nabi Muhammad lahir sebagai The spiritual leader, nabi akhir zaman yang telah mengimplementasikan peradaban baru.
 
Salah satu pembaharauan yang diciptakan adalah prinsip kebebasan agama dan toleransi keagamaan melalui “Piagam Madinah”. "Piagam Madinah" inilah yang menjadi fakta sejarah atas realisasi hadirnya peradaban manusia berupa kebebasan berpikir dan kebebasan memeluk agama serta sikap saling toleransi.
 
Dalam perspektif sosial, perubahan dan lahirnya peradaban baru pasca Covid-19 harus didesain sebaik mungkin, tentu dengan desain yang sesuai dengan kebutuhan dan kemajuan zaman. Perubahan yang senantiasa melekatkan tradisi dan budaya keindonesiaan yang sudah menjadi ciri khas bangsa indonesia.
 
Para pemikir agama harus memutar otaknya menangkap dan menentukan ke arah mana perubahan baru ini akan dibawa. Sebagaimana di awal disebutkan bahwa Covid-19 telah mengubah tatanan dunia. Peradaban di mana manusia akan memiliki ketergantungan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi.
 
Sebut saja Merdeka Belajar, Sekolah Merdeka, Kampus Merdeka, belajar daring/online system, pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang digagas oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Model pembelajaran itu adalah salah satu bukti telah hadirnya peradaban baru.
 
Selain itu, Covid-19 telah memberikan kesadaran baru bagi kita sekaligus hikmah maha penting di mana penguasaan teknologi informatika adalah sebuah keniscayaan. Kaum muslimin sebagai penghuni mayoritas di bumi Indonesia ini berkewajiban beradaptasi dengan berubahnya tatanan kehidupan yang mendera manusia saat ini.
 
Umat tidak perlu terlalu lama berpolemik soal-soal teknis kehidupan, karena di hadapan kita sudah terpampang bahtera dunia yang menyediakan berbagai problematika dan juga amunisi kehidupan yang harus dipilih dan disortir agar kita tidak salah jalan.
 
Mutlak, kemajuan teknologi
 
Kepekaan terhadap kemajuan teknologi tidak perlu lagi dipermasalahkan, karena dia telah menjelma menjadi harapan baru bagi terjadinya perubahan peradaban dunia. Masyarakat harus benar-benar melakukan perubahan diri atau melakukan restorasi pemikiran dan perilaku. Tujuannya agar umat bisa menjadi subjek dalam proses perubahan peradaban baru pasca-Covid-19. Bukan hanya menjadi objek kehidupan dunia semata.


Pendidikan Islam berbasis pada teknologi juga menjadi sangat penting digerakkan. Produk pendidikan Islam kemudian mampu menjadi penentu perubahan peradaban manusia.


Dengan kata lain, kaum muslimin harus peka terhadap perubahan agar mereka tidak ketinggalan zaman. Dan basis perubahan peradaban baru pasca-Covid-19 adalah pendidikan.
 
Umat harus mau meninggalkan pendekatan dan cara-cara lama. Umat harus merespons perubahan dan perkembangan masyarakat sekarang dan masa depan. Masyarakat harus mau beradaptasi dan mengorientasikan dirinya pada pendalaman bidang keilmuan, sains dan teknologi, termasuk ilmu eksakta, fisika, biologi, matematika modern dan teknologi kedokteran.
 
Tidak berlebihan apabila bidang ilmu eksakta harus menjadi prioritas utama agar umat Islam mampu menyediakan embrio kader-kader bangsa yang menguasai teknologi dengan tetap mengedepankan jatidiri bangsa Indonesia. Pewaris bangsa yang memegang teguh budaya dan tradisi luhur identitas keindonesiaan kita.
 
Singkatnya umat Islam Indonesia harus mau melakukan perubahan, minimal dengan menjalankan kaidah fiqih: al-muhafadhotu 'ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).
 
Umat harus senantiasa mempertahankan budaya dan tradisi keindonesiaan yang sesuai dengan pandangan agama, namun juga harus mau menerima dan tidak alergi dengan setiap kemajuan dan perubahan teknologi yang semakin merajai dunia ini.
 
Perubahan peradaban pasca-Covid-19 pasti akan terjadi. Maka, penyemaian nilai-nilai peradaban baru senantiasa diarahkan pada terbentuknya masyarakat Islam Indonesia yang mampu menjadi pelopor dan menciptakan kehidupan masyarakat dengan prinsip tawassut (moderat), tawazun (seimbang), ta’adul (adil) dan tasamuh (toleran) dan islahiyah (reformis), dan maju.
 
Harapannya, semoga akan lahir peradaban baru yang mampu mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan serta menjunjung tinggi kebudayaan dan keindonesian kita. Amien Ya Rabbal A’alamien.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif