Noorca M. Massardi: Penulis bersama alm Ajip Rosidi dan Nani Wijaya (isteri).
Noorca M. Massardi: Penulis bersama alm Ajip Rosidi dan Nani Wijaya (isteri). (Noorca M Massardi)

Noorca M Massardi

Penyair, jurnalis, anggota Lembaga Sensor Film

Ajip: Jenius pada Zamannya, pada Zamanku, dan pada Zaman (Bagian 1 dari 2 tulisan)

Pilar Obituari
Noorca M Massardi • 01 Agustus 2020 15:00
SAYA mengenal langsung Kang Ajip Rosidi ketika sastrawan/budayawan itu menjabat Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ 1972-1981) pada usianya yang ke 34. Pengarang asli Sunda kelahiran Jatiwangi, Senin, 31 Januari 1938, itu sudah sangat terkenal sejak 1950-an. Sebelum generasi saya lahir.
 
Artinya, sejak Ajip sekolah dasar umur 12 tahun, dan melejit pada saat SMP, ketika usianya masih 16 tahun. Ketika itu, ia sudah diakui sebagai sastrawan nasional, karena karya-karya prosa dan puisinya banyak dimuat di pelbagai media sastra dan kebudayaan, sejajar dengan karya-karya Angkatan Pujangga Baru, Angkatan Balai Pustaka, dan Angkatan 1945, yang usianya belasan, bahkan puluhan tahun di atasnya.
 
Yang menarik, setiap kali bertemu dengan orang Jawa Barat, Kang Ajip selalu berbasa Sunda, termasuk dengan saya dan kembaran saya Yudhistira ANM Massardi, yang kebetulan lahir di Subang, Jawa Barat. Ketika itu, kami masih luntang-lantung di Jakarta, antara Tanah Abang, Kebayoran Blok M (Gelanggang Remaja Bulungan Jakarta Selatan), dan Cikini Raya (TIM).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Saat itu, kami memang tengah merintis karir dan bercita-cita “muluk” untuk menjadi “pengarang terkenal”, baik di bidang sastra (prosa puisi) maupun drama (penulisan lakon, aktor, dan sutradara). Maklum, saat itu kami masih berusia 18 tahun, dan lagi senang-senangnya berkhayal, dalam perut lapar, sambil memandang ke langit tinggi. Kantor DKJ terletak di lantai dua sebuah gedung bertingkat, di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya 73. Di ruangan yang “berwibawa” itu selain berkenalan dengan Kang Ajip, kami juga berjumpa dan sesekali berseloroh atau “diejek” oleh Wahyu Sihombing (“Bapak Teater Remaja”), sastrawan Ramadhan KH yang menjabat Sekretaris DKJ, dan beberapa anggota DKJ terkenal lainnya. Ketika itu, tentu saya tak pernah membayangkan, bahwa suatu hari kelak, pada 1990-1993, saat berusia 36 tahun, saya bisa terpilih menjadi anggota DKJ, sekaligus Ketua Komite Teater, dan kemudian menjadi Ketua DKJ (lebih tua dua tahun dari Kang Ajip), meneruskan kiprah para tokoh ternama itu.
 
Dan, sekadar catatan, salah satu milestone saya sebagai Ketua DKJ adalah berhasil membawa rombongan seniman/budayawan melakukan rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi I DPR RI di Senayan, untuk menyampaikan petisi yang saya buat, yang ditandatangani semua sastrawan/budayawan terkemuka saat itu. Kami mengadukan perihal pelarangan pentas di TIM, bagi Bengkel Teater Rendra, Teater Koma N. Riantiarno, Swara Mahardhika Guruh Soekarnoputra, dan Orkes Melayu Soneta Rhoma Irama.
 
Selanjutnya, kami mendatangi Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Laksamana Soedomo, ketika kekuasaan rezim militer Orde Baru Presiden Soeharto masih sangat kuat dan represif, pada 11 Desember 1990. Hasilnya? Soedomo mengizinkan mereka semua pentas kembali di TIM, walau pada pelaksanaannya masih tetap dipersulit oleh aparat keamanan di bawahnya.
 
Sepanjang sejarah, kedatangan para seniman ke DPR RI itu hanya dapat terulang kembali, pada 17 Februari 2020, ketika saya memimpin rombongan seniman, menyampaikan keluhan kepada Komisi X. Dalam sebuah RDPU kami menyampaikan ihwal penghancuran dan rencana komersialisasi kompleks PKJ-TIM oleh Pemda DKI, tanpa konsultasi dengan para seniman, termasuk dengan Kang Ajip sebagai salah seorang penggagas dan pendirinya yang masih hidup.
 

Kiprah dan kehebatan Ajip
 

Sebelum mengenalnya secara pribadi, tentu saya sudah tahu kiprah dan kehebatan Kang Ajip sebagai pengarang dan pegiat sastra, walau tidak banyak karyanya yang sempat saya baca hingga kini. Sebagai salah seorang penggagas dan pendiri Taman Ismail Marzuki (TIM), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Akademi Jakarta (AJ), dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ – kini Institut Kesenian Jakarta – IKJ), Kang Ajip sudah menulis puluhan buku, baik puisi, cerita pendek, esei, novel dan pelbagai telaah serta sejarah sastra dan budaya, termasuk sastra Sunda. Kang Ajip juga “mengayomi” para pelukis terkemuka Indonesia saat itu, dengan selalu membeli beberapa karya pelukis yang tidak terjual, atau yang memerlukan dana saat mereka berpameran di TIM, agar mereka bisa menyambung hidup dan berkarya selanjutnya.
 
Kebiasaan berbahasa Sunda Kang Ajip dan Kang Atun (Ramadhan KH) di DKJ pada masa itu, ternyata sempat menimbulkan “masalah.” Apalagi, berdirinya PKJ-TIM pada 1968, itu awalnya memang dimotori banyak orang Sunda. Mulai dari Gubernur DKI Ali Sadikin, Ilen Surianegara, Ramadhan KH, dan Ajip Rosidi. Bahkan, mungkin tak banyak orang tahu, bahwa konsep Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) yang melahirkan TIM, DKJ, AJ, dan LPKJ, itu berasal dari tulisan Kang Ajip yang sebelumnya telah dimuat di Majalah Bulanan Intisari.

Jadi, ketika Kang Ajip kemudian diminta datang untuk menghadap Bang Ali, bersama sejumlah tokoh Sunda dan seniman/budayawan lainnya, Bang Ali mengaku sangat terkesan pada tulisan Kang Ajip.

Beberapa saat setelah Bang Ali dilantik Presiden Soekarno menjadi Gubernur DKI pada 1966, Bang Ali meminta konsep dan gagasan tentang apa yang bisa dia lakukan sebagai gubernur, untuk membantu kiprah para seniman budayawan Jakarta, yang saat itu selalu berkumpul di bilangan Pasar Senen, Jakarta Pusat. Menyambut tawaran itu, karena belum tahu apa yang dimaksudkan dan diinginkan oleh Bang Ali, Kang Ajip pun menyerahkan tulisannya di majalah Intisari tersebut.
 
Jadi, ketika Kang Ajip kemudian diminta datang untuk menghadap Bang Ali, bersama sejumlah tokoh Sunda dan seniman/budayawan lainnya, Bang Ali mengaku sangat terkesan pada tulisan Kang Ajip. Bang Ali yang menyetujui sepenuhnya gagasan dalam tulisan itu, lalu meminta Kang Ajip dan kawan-kawan, untuk menjabarkan tulisan itu menjadi proposal kongkret yang diserahkan beberapa waktu kemudian.
 
Setelah Pemda DKI menyetujui proposal itu, Bang Ali pun membangun PKJ TIM dengan seluruh ekosistemnya, di atas lahan sembilan hektare, yang sebelumnya dikenal sebagai Taman Raden Saleh dengan Planetarium-nya, milik Keluarga Pelukis Raden Saleh. PKJ TIM pun diresmikan pada 10 November 1968.
 
Walaupun kondisi seluruh bangunan “sementara” itu tidak sesuai dengan keinginan para seniman-budayawan, baik secara arsitektur maupun fasilitas ruangan dan akustiknya, toh, wilayah bebas untuk berekspresi dan berkreasi secara gratis bagi para seniman-budayawan DKI dan Nasional, itu dapat terwujud. Dan kemudian mengilhami seluruh provinsi lain di Indonesia, untuk juga membangun pusat kesenian dan dewan kesenian serupa.


“Permintaan saya hanya satu: kalian harus mengurus sendiri PKJ TIM dengan sebaik-baiknya. Pemda DKI akan memberikan subsidi sepenuhnya. Tapi jangan pernah melibatkan saya, dan saya juga tidak akan pernah ikut campur dalam urusan kalian, karena saya tidak tahu apa-apa soal kesenian dan kebudayaan,” kata Bang Ali, sebagaimana selalu dikisahkan Kang Ajip kemudian.


Permintaan Bang Ali
 

PKJ TIM pun kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan dan sejarah seni budaya Indonesia modern, yang pertumbuhan dan prestasinya memuncak dan mendunia, pada periode 1970-1990. Situasi dan kondisi itu masih tetap eksis, kendati pamornya terus menurun, sampai tiba-tiba kompleks itu dihancurkan mulai akhir 2019 hingga awal 2020, pada masa Gubernur Anies Baswedan, dan ambyar hingga sekarang. “Permintaan saya hanya satu: kalian harus mengurus sendiri PKJ TIM dengan sebaik-baiknya. Pemda DKI akan memberikan subsidi sepenuhnya. Tapi jangan pernah melibatkan saya, dan saya juga tidak akan pernah ikut campur dalam urusan kalian, karena saya tidak tahu apa-apa soal kesenian dan kebudayaan,” kata Bang Ali, sebagaimana selalu dikisahkan Kang Ajip kemudian.
 
Ihwal kebiasaan berbasa Sunda Kang Ajip yang sempat menimbulkan kegundahan itu ceritanya begini. Suatu hari, Kang Ajip mendengar gosip ihwal adanya kecurigaan dari seorang sastrawan-budayawan terkemuka non-Sunda, yang diam-diam berkirim surat kepada Akademi Jakarta. Dia “mengeluhkan” atau “melaporkan” bahwa, PKJ TIM-DKJ akan atau telah “di-sunda-kan” oleh Kang Ajip dkk.
 
“Tuduhan ‘sundanisasi’ PKJ TIM-DKJ itu sangat menyakitkan, terutama karena datangnya dari sastrawan budayawan terkemuka yang sangat dekat dengan saya dan yang selalu saya hormati (Kang Ajip menyebutkan sebuah nama). Tentu saja tuduhan atau kecurigaan itu saya bantah. Kalau toh banyak tokoh Sunda terlibat pada awal pemebentukan dan pendirian PKJ-TIM-DKJ, itu memang sudah kehendak sejarah. Tidak ada niat dan maksud sama sekali dari kami orang Sunda, untuk menguasai apalagi “menyundakan” PKJ TIM-DKJ. Tuduhan itu sangat konyol dan naif, apalagi datangnya dari budayawan terkenal, hanya gara-gara kami selalu berbasa Sunda di lingkungan PKJ-TIM, setiap berkomunikasi dengan sesama orang Sunda,” kata Kang Ajip dalam suatu percakapan di rumahnya di bilangan Pejaten, di hadapan saya dan banyak teman, pada Minggu sore, 10 Februari 2020.
 
Ternyata itu merupakan perjumpaan terakhir saya dengan Kang Ajip. Namun, ihwal kebenaran ada tidaknya tuduhan “sundanisasi” itu, biarlah budayawan dimaksud itu sendiri, yang mengklarifikasinya, bila yang bersangkutan sempat membaca tulisan ini.
 
Kedekatan saya dengan Kang Ajip, bahkan kemudian dengan keluarganya, pada belasan tahun belakangan ini, boleh disebut terjadi secara kebetulan. Pada akhir 2005, dalam salah satu liburan rutin ke Bali, saya sempat mampir ke Ubud.
 
Putera kelima Ajip
 
Di ARMA Galeri, milik Agung Rai, saya berkenalan dengan Rangin Sembada, yang biasa dipanggil Bada. Bada, yang ternyata merupakan putra kelima Kang Ajip, saat itu tengah menjadi pengelola acara di ARMA Galeri. Keberadaan Bada, yang sempat lama tinggal dan sekolah di Jepang --mengikuti sang ayah, Kang Ajip Rosidi (yang sejak 1981 diundang sebagai Guru Besar Tamu Bahasa Indonesia di Osaka)-- di desa Ubud itu, mungkin ada hubungannya dengan putri bungsu Kang Ajip, Titis Nitiswari, yang membuka warung makan “Ige Lanca” di Jalan Ubud Raya, di seberang Neka Galeri. Dan saya sempat beberapa kali makan di situ, sebelum tahu siapa pemiliknya.
 
Pada Februari-Maret 2006, begitu ada kesempatan dan rezeki, saya memutuskan untuk tinggal sementara di Ubud, karena ingin menyelesaikan bab akhir novel September, yang proses penulisannya sempat terhenti hampir empat tahun. Sebelumnya, naskah itu sempat dimuat sebagai cerita bersambung di harian Media Indonesia, dengan judul Perjalanan Darius, namun dihentikan di tengah jalan, ketika kisahnya sudah memasuki pengungkapan ihwal siapa sesungguhnya yang berada di balik kudeta bulan September, sebelum memasuki bab terakhir.
 
Untuk bisa tinggal di Ubud, tentu saya harus menghubungi Bada, satu-satunya orang yang saya kenal di sana. Ternyata, Bada sudah berhenti dari ARMA Galeri, dan saat itu tengah mengelola warung makan “Biah Biah,” di Jalan Gautama, milik seorang warga Jepang, yang juga seorang perupa, Jun Sakata, asal Yokohama.
 
Jun kabarnya sudah memutuskan untuk tinggal di Ubud hingga akhir hayatnya. Namun, saat itu Bada mengatakan akan berlibur ke Jepang untuk beberapa lama. Sehingga, villa yang disewanya di banjar Kutuh Kaja, Ubud, kosong.
 
Saya pun diizinkan tinggal di lantai atas villa itu selama dua bulan, Februari-Maret, secara gratis, ditemani dua ekor anjing milik Bada, yang selalu mengawal saya selama di rumah. Villa itu berdiri di tengah lahan luas dengan kontur tanah naik turun, dengan banyak pohon besar dan rindang, yang bila magrib tiba, suasananya sangat sepi, gelap, dan cukup menyeramkan. Apalagi saya hanya tinggal sendirian.
 
Pada kesempatan itulah, saya kemudian berkenalan dengan putra keempat Kang Ajip, Nundang Rundagi, yang tengah bolak-balik urusan bisnis, Sumba-Lombok-Bali-Magelang-Jatiwangi-Jakarta. Saya juga kemudian berkenalan dengan Ruslan Wiryadi, asal Cikarang, Bekasi, pemilik dan pendiri majalah gratis Ubud Community, serta Dewa Putu Suardana, keponakan pemilik villa, yang setiap kali datang merawat dan membersihkan kompleks itu.
 
Selesai merampungkan September pada 11 Maret 2006, saya mengirimkan naskah itu ke Penerbit Tiga Serangkai, Solo. Alhamdulillah, buku itu bisa terbit sesuai waktu yang saya minta, dan launching-nya dilakukan pada awal Oktober 2006 di Jakarta Pusat, dengan pembahas Kochi Kaoru, akademisi dari Tokyo, teman Yudhistira, yang baru saya kenal.
 
Sejak itu, saya selalu berkomunikasi melalui telepon genggam, baik dengan Bada maupun dengan Nundang. Lalu, ketika saya mendapat kesempatan diajak kerjasama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud, untuk menyiapkan dan menggelar acara Anugerah Kebudayaan, saya pun berkenalan dengan arkeolog Titi Surti Nastiti, yang bekerja di salah satu Direktorat, dan ternyata adalah putri kedua Kang Ajip.
 
Maka komunikasi dengan putra-putri Kang Ajip pun terjalin, kadang dalam basa Sunda, kadang dalam Bahasa Indonesia. Apalagi kemudian saya dan Rayni N. Massardi, makin sering bolak-balik Jakarta-Bali, hampir tiap dua bulan sekali. Bahkan ketika ke Lombok pun, kami sempat berjumpa dengan Nundang, yang kebetulan sedang mampir di sana. (Bersambung) []
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif