Dewan Redaksi Media Group Ade Alawi/Media Indonesia
Dewan Redaksi Media Group Ade Alawi/Media Indonesia (Ade Alawi)

Ade Alawi

Dewan Redaksi Media Group

Pilar

Elon Musk

Pilar Jokowi teknologi investasi Investasi Asing elon musk Podium
Ade Alawi • 17 Mei 2022 05:11
DUA tokoh bertemu di Gedung Stargate Space X di Boca Chica, Amerika Serikat, Sabtu (14/5). Keduanya semringah, hangat, dan gayeng berdiskusi ringan. Sesekali terlihat derai tawa menguar dari keduanya. Mereka ialah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan pendiri Space X, Elon Reeve Musk FRS.
 
Banyak yang penasaran apa yang mereka bicarakan. Maklum, pria kelahiran Pretotria, Afrika Selatan, 50 tahun silam ini tengah menjadi buah bibir. Tak hanya tajir melintir sebagai orang terkaya di dunia versi Forbes dengan jumlah kekayaan mencapai USD282 miliar atau sekitar Rp4.051 triliun, Musk dikenal sebagai pengusaha yang memiliki segudang ide ‘gila’ alias tak lazim bagi orang kebanyakan. Salah satunya Musk ingin membawa manusia ke Planet Mars pada 2026, bahkan dia pun ingin wafat di sana.
 
Musk memiliki tiga perusahaan raksasa, yakni Tesla (mobil listrik), SpaceX (pembuat roket luar angkasa), dan Twitter (media sosial). Lima perusahaan lainnya yang menambah pundi-pundi kekayaan Musk ialah Paypal, Zip2, SolarCity, OpenAI, Neuralink, dan The Boring Company. Presiden Jokowi mengatakan kedatangannya ke Space X dalam rangka mengajak Elon Musk berinvestasi ke Indonesia. Gayung bersambut, peraih gelar sarjana ekonomi dan fisika mengaku senang dikunjungi orang nomor satu di Indonesia. Menurut dia, Indonesia ialah negara yang memiliki banyak potensi, termasuk populasi penduduknya yang salah satu terbesar di seantero jagat. Dia menegaskan akan menyambangi Nusantara nan indah ini pada November 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Baca:November, Elon Musk Janji Sambangi Indonesia Jika rencana investasi Elon Musk terwujud, tentu saja merupakan kabar gembira. Seluruh anak negeri patut bersyukur. Pasalnya, investasi Musk tak sekadar menambah kinclong investasi di Tanah Air, tetapi jelas akan memberikan nilai tambah. Tingkat kepercayaan dunia akan meningkat dan Musk bisa memberikan transfer teknologi ke putra-putri terbaik bangsa yang bekerja di perusahaan Musk.
 
Bisnis Musk ialah dunia baru. Dunia masa depan. Tantangannya jelas tidak ringan. Dibutuhkan pemikiran out of the box. Sebuah pemikiran yang tak hanya mendulang cuan, tetapi mencipatakan peradaban baru untuk umat manusia. Tradisi berpikir visoner yang nanti akan ditularkan Musk di Tanah Air diharapkan akan membuat anak muda Indonesia tak hanya berpikir hari ini, tetapi bagaimana masa depan nanti. Humanisme Musk yang memikirkan masa depan bumi akibat perubahan iklim yang tidak terbendung layak menjadi perhatian kita semua.
 
Investasi di Indonesia harus memberikan ‘sihir’. Indeks Kemudahan Berbisnis atau Ease of Doing Business (EoDB) di bumi pertiwi harus lebih meningkat lagi. Indeks itu dibuat oleh Bank Dunia. Peringkat yang tinggi menunjukkan peraturan untuk berbisnis yang lebih baik, lebih sederhana, tidak njlimet, dan tidak bikin stress investor, serta kuatnya perlindungan atas hak milik. Total ada sepuluh indikator untuk mengukur kemudahan berbisnis.
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah uring-uringan melihat peringkat EoDB di Indonesia belum banyak bergerak dalam tiga tahun terakhir. Penyebabnya ialah masih adanya hambatan yang membuat peringkat tersebut tidak meningkat.
 
“Ini yang sering dan secara detail dilihat oleh Presiden Jokowi, tentang apa yang menjadi penghalang dari EoDB kita, dari trading across border (ekspor-impor), salah satunya masalah bagaimana membayar pajak relatif singkat, efi sien, dan pasti,” ungkapnya dalam webinar bertajuk Akselerasi Indonesia Maju melalui Penanaman Modal dan Insentif Fiskal, pada 1 April 2021.
 
Selain itu, masalah lain yang menghambat EoDB adalah memulai bisnis (starting business), pengurusan izin (dealing with construction permit), pendaftaran aset (registering property), serta pelaksanaan kontrak (enforcing contracts). Hal-hal tersebut yang diukur dalam melihat apakah suatu negara menciptakan lingkungan yang sehat, kompetitif, dan sederhana.
 
Hal-hal di atas harus dituntaskan segara. Jika tidak, terget Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bahlil Lahadalia untuk meningkatkan peringkat kemudahan berbisnis Indonesia dari 73 ke 50 hanya mimpi di siang bolong.
 
Untuk mengurai kekusutan EoDB patut kita teladani jurus Elon Musk dalam Tesla Way: cepat, radikal, dan revolusioner. Inovasi adalah harga mati. “Beberapa orang tidak suka perubahan, tetapi Anda perlu meraih perubahan jika pilihan lainnya adalah bencana.” Tabik!

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif