Sebagai support system utama, ketahanan keluarga menjadi kunci agar setiap anggotanya tetap waras dan sejahtera di tengah kerasnya tekanan hidup. Berangkat dari realitas sosial tersebut, Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (FPsi UNJ) turun gunung menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk "Psikoedukasi: Refleksi Ketahanan Keluarga pada Keluarga Pemulung" di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Menyasar para ibu pemulung, program ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa fondasi keluarga yang kuat bisa dibangun meski di tengah himpitan ekonomi. Lewat pendekatan psikologis yang merangkul dan partisipatif, peserta tidak dijejali teori semata.
Mereka diajak merefleksikan getirnya pengalaman hidup, saling curhat, hingga meracik strategi bareng untuk menaklukkan tantangan sehari-hari. Tim PkM FPsi UNJ ini dipimpin Mira Ariyani, bersama dosen Lussy Dwiutami Wahyuni dan Anna Armeni Rangkuti.
Tak hanya dosen, kolaborasi lintas generasi ini juga menggandeng mahasiswa Magister Sains Psikologi UNJ, Fanny Soraya Siregar dan Sabrina Ayu Maswati, serta relawan muda dari SMP Islam At-Taubah, Talitha Natzua Rania.
Dalam sesi utama, psikolog sekaligus dosen FPsi UNJ, Irma Rosalinda, membedah konsep Walsh Family Resilience Framework. Menurut Irma, keluarga bermental baja bukanlah mereka yang hidup mulus tanpa masalah, melainkan yang mampu beradaptasi, bertahan, dan melenting balik saat krisis menerjang.

PKM Fakultas Psikologi UNJ. Foto: UNJ
Ada tiga pilar utama untuk membangun keluarga resilien. Pertama, sistem keyakinan (belief systems) yang menuntun keluarga melihat hikmah positif dari setiap ujian.
Kedua, pola organisasi (organizational patterns) yang menitikberatkan pada pembagian peran dan keluwesan beradaptasi. Ketiga, komunikasi dan pemecahan masalah, yakni keberanian untuk bicara dan mencari jalan keluar bersama.
"Ketahanan keluarga tidak berarti bebas dari masalah. Justru keluarga yang tangguh adalah keluarga yang mampu mengubah tantangan menjadi kekuatan melalui komunikasi yang sehat, saling mendukung, dan memiliki harapan bersama dalam menghadapi setiap perubahan," ujar Irma.
Suasana kumpul bareng ini berlangsung hangat. Para ibu pemulung tak canggung berdiskusi, mengisi kuesioner resiliensi, dan menumpahkan unek-unek mereka.
Baca Juga :
Presiden Prabowo Perintahkan Pembaruan Buku Ajar SD-SMA, Minta Kualitas Fisik dan Materi Ditingkatkan
Ketua Tim PkM FPsi UNJ, Mira Ariyani, menegaskan, mengedukasi kelompok rentan tentang ketahanan keluarga adalah investasi sosial bernilai tinggi.
"Melalui psikoedukasi ini kami ingin menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki modal psikologis untuk bangkit. Harapannya, para peserta semakin mampu membangun komunikasi yang sehat, saling mendukung antaranggota keluarga, serta memiliki kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan dan tekanan kehidupan," kata Mira.
Bagi FPsi UNJ, kegiatan ini adalah bukti bahwa Tridarma Perguruan Tinggi bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ini adalah tentang memastikan ilmu psikologi punya dampak langsung bagi akar rumput.
"Pengabdian kepada masyarakat bukan hanya menghadirkan pengetahuan dari kampus kepada warga, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama. Kami memperoleh banyak pelajaran dari pengalaman hidup para peserta, sementara mereka mendapatkan penguatan psikologis yang diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah bentuk kolaborasi yang memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat," ujarnya.
Ke depan, program edukasi membumi semacam ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak kantong-kantong masyarakat rentan. FPsi UNJ membuktikan bahwa ilmu psikologi tidak boleh eksklusif terjebak di menara gading kampus, melainkan harus hadir sebagai solusi konkret yang adaptif, memberdayakan, dan mencetak keluarga Indonesia yang bermental baja.
Baca Juga :
Kehilangan Orang Tua di Usia 14, Putra Maluku Ini Raih Gelar Magister dan Jadi Valedictorian di Inggris
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda