Saat tampil di ajang Clash of Champions (COC), Kafka cukup mengandalkan kemampuan merekam gambar secara visual di kepalanya. Lewat pengamatan berulang dan fokus penuh, cara sederhana ini terbukti sangat ampuh tanpa perlu membuat kode yang membingungkan.
Pengalaman Kafka ini memberikan sudut pandang baru tentang cara kerja otak dalam mengingat sesuatu. Bagi sebagian orang, memaksimalkan ingatan visual dan pemahaman konsep alami justru jauh lebih efektif daripada memakai metode yang rumit.
Memory Palace Bukan Satu-satunya Cara
Teknik memory palace selama ini sering dianggap sebagai satu-satunya trik paling sakti untuk menghafal ratusan data dengan cepat. Padahal, pengalaman Kafka menunjukkan bahwa merekam bayangan visual secara langsung di pikiran juga tidak kalah hebat.“Kalau peserta lain biasanya pakai metode loci (memory palace), kalau saya pribadi seperti merekam apa yang ada di layar saja. Di kepala saya cuma ada potongan gambar dari layar yang langsung saya beri nomor,” ungkap Mahasiswa Kedokteran Militer Universitas Pertahanan (Unhan), Kafka Bintang Timora, dalam siniar Boss Mama di kanal YouTube Sabrina Anggraini, dikutip Minggu, 6 September 2026.
Kehebatan ingatan visual ini terbukti saat ia harus mengingat posisi dan koordinat gambar secara tepat. Tanpa perlu mengubah data menjadi kata-kata, bayangan gambar tersebut sudah langsung tersimpan rapi di dalam otaknya.
Pakai Strategi yang Masuk Akal, Bukan Hafalan Mentah
Ketika menghadapi materi hafalan yang sangat menumpuk dengan waktu terbatas, Kafka tidak pernah memaksakan diri. Ia lebih memilih membagi fokus dan menggunakan strategi yang masuk akal agar otak tidak kelelahan.“Agak tidak masuk akal kalau menghafal 100 resep beserta ukurannya, jadi lebih baik hafal beberapa dari setiap kategori,” kata Kafka saat menceritakan strateginya di tantangan flavor formula.
Terasah Sejak Kecil sebagai Penghafal Al-Qur’an
Di balik kemampuannya merekam gambar dengan cepat, Kafka rupanya sudah melatih daya ingatnya sejak kecil lewat hafalan Al-Qur'an. Ia mulai menghafal sejak TK dan berhasil menyelesaikan juz 30 saat kelas 5 Sekolah Dasar (SD) melalui program sekolahnya.“Lima tahun itu sebenarnya menghafalnya pelan-pelan sekali, tetapi memang jadi lebih melekat di kepala,” ujar Ibunda Kafka, Indri Meilani.
Kebiasaan ini terus berlanjut hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), saat ia menambah hafalan juz 29 serta juz 1 bersama guru privat. Sekarang, di tengah padatnya jadwal kuliah kedokteran militer, Kafka tetap menyempatkan diri untuk mengulang hafalan atau muroja'ah.
“Kalau lagi ada waktu luang, misalnya baru selesai kelas, saya sempatkan mengulang hafalan sekitar 10 menit,” kata Kafka.
Kebiasaan mengulang ayat demi ayat inilah yang secara tidak langsung mengasah ketajaman ingatan visual Kafka. Latihan rutin ini pulalah yang membantunya dengan mudah ‘merekam’ berbagai informasi saat mengikuti kompetisi memori. (Talitha Islamey)
Baca Juga :