Komite Eksekutif Presiden RI, Billy Mambrasar. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang
Komite Eksekutif Presiden RI, Billy Mambrasar. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang

Billy Mambrasar Spill 8 Faktor Kandidat Beasiswa Outstanding, Apa Saja?

Bramcov Stivens Situmeang • 27 September 2026 11:58
Ringkasnya gini..
  • Billy Mambrasar membagikan delapan faktor yang dapat membuat kandidat beasiswa terlihat outstanding.
  • Nilai akademik tidak harus sempurna karena rekam jejak, kepemimpinan, dan fokus isu juga menjadi faktor penting.
  • Kandidat juga perlu punya alasan memilih kampus, rencana pascastudi yang kredibel, serta menjadi diri sendiri saat wawancara.
Jakarta: Komite Eksekutif Presiden Republik Indonesia (RI), Billy Mambrasar, membagikan sejumlah faktor yang dapat membuat seorang kandidat beasiswa terlihat kuat atau outstanding dibandingkan pelamar lainnya. Dia menuturkan kandidat yang kuat tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik, tetapi juga rekam jejak hingga rencana setelah menyelesaikan studi.

Sebelum masuk ke berita utamanya, yuk kenalan dulu dengan siapa itu Billy Mambrasar. Simak selengkapnya dikutip dari laman alumni.itb.ac.id:

Siapa Itu Billy Mambrasar?

Komite Eksekutif Presiden RI, Billy Mambrasar
Komite Eksekutif Presiden RI, Billy Mambrasar. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang


Billy Mambrasar memiliki nama lengkap Gracia Josaphat Jobel Mambrasar. Pria kelahiran Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, 17 Desember 1988 itu dikenal sebagai pendiri Yayasan Kitong Bisa yang bergerak di bidang pendidikan informal bagi anak-anak kurang mampu, khususnya di Papua dan Papua Barat.

Perjalanan pendidikan Billy dimulai dengan menempuh jenjang S1 di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Master of Business Administration di The Australian National University dan dinobatkan sebagai Student of the Year pada 2015.

Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke Saïd Business School, University of Oxford. Billy juga tercatat sebagai penerima Beasiswa LPDP angkatan PK 128 untuk melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat dan menjadi anak asal Papua pertama yang berhasil menembus Harvard University.

Di luar pendidikan, Billy aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pembangunan. Melalui Kitong Bisa Foundation, ia berupaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu di Papua dan Papua Barat.

Billy juga pernah dipercaya menjadi salah satu dari 11 Staf Khusus Presiden Joko Widodo pada periode 2019-2024. Selain itu, ia pernah menjadi Duta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs Indonesia periode 2019-2021.

Pengalaman panjang menempuh pendidikan dan mengikuti berbagai program beasiswa membuat Billy memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi proses seleksi. Dari pengalamannya itu, ia menilai nilai akademik memang penting, tetapi bukan satu-satunya modal untuk menjadi kandidat yang kuat.

Billy mengatakan kesiapan akademik atau academic readiness memang menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan saat mendaftar beasiswa. Namun, bukan berarti calon penerima harus memiliki nilai akademik yang sempurna.

“Tadi kan dibilangnya academic readiness gitu, sebenarnya academic readiness itu tidak harus lalu sempurna, tetapi meyakinkan, maksudnya mungkin teman-teman berpikir oh kalau IP harus 3.5, 3.6, 4 itu yang bisa paling tinggi untuk mendapatkan beasiswa. Sebenarnya juga karena dari pengalaman saya mendaftar Australia Awards, IP kasar saya itu tidak yang tertinggi, atau paling tinggi, atau apalah gitu kan, masuk dalam ordinary lah, tetapi ada faktor-faktor lain, tadi selain academic readiness, ada juga track record yang kuat,” ujar Billy dalam acara Stadium General bertajuk “Motivasi Beasiswa untuk Talenta Bangsa” di YouTube Medcom.id, Sabtu, 26 September 2026.

Pengalaman tersebut dirasakan Billy ketika mengikuti berbagai program beasiswa, termasuk LPDP dan Australia Awards. Karena itu, ia menilai masih ada sejumlah aspek lain yang dapat memperkuat posisi seorang kandidat di tengah persaingan mendapatkan beasiswa.

Lantas, apa saja faktor yang dapat membuat seorang kandidat beasiswa terlihat outstanding? Simak selengkapnya di bawah ini.
   

8 Faktor Kandidat Beasiswa Outstanding

1. Academic Readiness Tidak Harus Sempurna

Faktor pertama adalah academic readiness atau kesiapan akademik. Billy menilai kemampuan akademik tetap penting untuk menunjukkan bahwa kandidat memiliki kesiapan mengikuti proses perkuliahan.

Meski begitu, nilai akademik tidak harus selalu sempurna dengan IP 3,5 hingga 4. Kandidat cukup memiliki kemampuan akademik yang meyakinkan karena aspek itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan kekuatan seorang pelamar.

2. Punya Track Record yang Kuat

Setelah kesiapan akademik, rekam jejak menjadi bagian lain yang perlu dibangun calon pendaftar. Kandidat sebaiknya sudah memiliki portofolio serta dampak nyata dari kegiatan yang selama ini dikerjakan.

"Track record itu bukan hanya ambisi, jadi, track record itu, teman-teman sudah ngapain portfolio-nya? kalau belum ngapa-ngapain, jangan apply di beasiswa dulu. Harus sudah ngapain nih, bersama saya telah membantu sekian ribu masyarakat, sekian ratus masyarakat untuk program X dan memberikan dampak Y selama rentang waktu Z, harus clear impact-nya itu apa, karena tanpa itu portfolio teman-teman kosong dan tidak bisa menjadi penerima beasiswa atau sulit bersaing dengan yang lain," beber Billy

3. Punya Pengalaman Leadership

Rekam jejak yang kuat juga perlu didukung kemampuan leadership. Menurut Billy, kepemimpinan bukan sekadar pernah menyandang jabatan sebagai ketua dalam sebuah organisasi.

Kandidat perlu menunjukkan bukti konkret bahwa dirinya pernah memimpin sebuah scope atau program. Pengalaman tersebut dapat memperlihatkan kemampuan seseorang dalam mengambil peran dan menjalankan tanggung jawab.

"Leadership itu bukti bahwa teman-teman telah memimpin sebuah scope, gak perlu menjadi ketua organisasi mungkin di BEM teman-teman cuma ketua divisi bukan ketua BEM nya, ketua divisi. Tapi dalam divisi tersebut teman-teman memimpin sebuah program dan program itu berjalan sekian lama, sekian periodenya, dan temen-temen akhirnya bisa mampu memimpin dan mendeliver scope tersebut, nah itu harus ada bukti konkretnya juga," jelas dia

4. Fokus pada Satu Isu

Selain pengalaman memimpin, konsistensi terhadap suatu isu juga dapat membuat portofolio kandidat semakin kuat. Billy menyarankan calon pendaftar memiliki masalah atau isu konkret yang memang konsisten diperjuangkan.

"Ada temen saya yang jack of all trades, jadi karena saking eksis banget, saking pengen aktif, semua diikutin, kegiatan lingkungan ikut, pemberdayaan perempuan ikut, UMKM ikut, terus pendidikan ikut, habis itu isu kemiskinan ikut. Jadi sebenarnya, what is your issue? apa isumu? apa masalahmu? apa problem yang kamu solve? Gak bisa semuanya diikutin, gak ada yang diseriusin, akhirnya gak ada portfolio, dan orang juga bingung isu kita apa," ujar Billy.

Ia mencontohkan pengalamannya mendirikan Kitong Bisa Foundation yang berfokus memperjuangkan akses pendidikan di Papua. Fokus tersebut membuat rekam jejak yang dibangun memiliki arah dan dampak yang lebih jelas dibandingkan sekadar mengikuti banyak kegiatan tanpa isu utama.

5. Memiliki Personal Story

Faktor berikutnya adalah personal story atau cerita personal yang dimiliki kandidat. Cerita tersebut dapat menunjukkan perjalanan hidup sekaligus hal yang membuat seorang pelamar berbeda dari kandidat lainnya.

Menurut Billy, kisah personal yang inspiratif dan menyentuh dapat menjadi kekuatan tersendiri. Namun, cerita tersebut tentunya perlu berasal dari perjalanan yang benar-benar dialami kandidat.

6. Jelas Memilih Universitas dan Jurusan

Cerita dan rekam jejak yang telah dibangun selanjutnya perlu sejalan dengan pilihan studi. Karena itu, kandidat harus mampu menjelaskan alasan memilih universitas maupun jurusan yang dituju.

"Kadang-kadang kan kalau mau nge-apply beasiswa itu tuh kita milih negaranya dulu, aduh aku pengen ke inggris, seru deh kalau melihat Big Ben, seru deh kalau melihat London Eye, terus aku pengen ngelihat Kastil di Scotland, tapi pas ditanya kenapa di universitas itu dan kenapa ngambil gelar itu gak dalam jawabannya. Jadi selalu berpikir mau ke luar negeri, mau ke negaranya dulu, tapi gak bisa ngejawab kenapa di universitas X dan kenapa jurusan Y harusnya di mulai dari situ," tandas Billy.

Dia menjelaskan pilihan itu tidak seharusnya hanya didasarkan pada keinginan untuk berkuliah di luar negeri. Kandidat perlu mengetahui alasan kampus dan jurusan tersebut relevan dengan pengalaman maupun tujuan yang ingin dicapai.

7. Punya Post Study Plan yang Kredibel

Alasan memilih program studi kemudian perlu diteruskan dengan rencana setelah menyelesaikan pendidikan. Billy menilai post study plan menjadi salah satu faktor yang dapat memperlihatkan keseriusan seorang kandidat.

Menurutnya, rencana yang tercantum dalam post study plan harus kredibel dan memiliki hubungan dengan track record serta pengalaman leadership yang sebelumnya telah dibangun. Dengan demikian, rencana pascastudi tidak sekadar berisi keinginan atau angan-angan yang belum memiliki dasar pengalaman.

"Jadi post study plan yang kredibel itu bukan yang berhayal-hayal, atau halu-halu ya, oh nanti setelah saya belajar jurusan ini, psikologi saya akan membuat sebuah pusat belajar psikologi, pusat ini yang paling besar yang paling berdampak, atau apalah gak bisa. Karena nanti akan dicek track record yang tadi di poin sebelumnya, bener gak ke arah situ udah pernah gak memimpin udah pernah gak bikin bukti, gak bisa ngarang-ngarang," tegas Billy.

8. Jadi Diri Sendiri Saat Wawancara

Seluruh rekam jejak dan rencana yang sudah disiapkan pada akhirnya perlu disampaikan dengan baik ketika memasuki tahap wawancara. Pada tahap ini, Billy mengingatkan kandidat untuk tetap menjadi diri sendiri.

Ia menyarankan pelamar menjawab pertanyaan dari hati dan tidak sekadar menghafalkan isi CV seperti robot. Dengan menjadi diri sendiri, kandidat dapat menyampaikan pengalaman, tujuan, dan rencana yang dimiliki secara lebih natural.

Persiapan Beasiswa Jangan Mendadak

Delapan faktor di atas tentunya tidak dapat dibangun hanya dalam waktu singkat menjelang pendaftaran. Karena itu, Billy menyarankan calon pendaftar mulai mempersiapkan diri setidaknya satu tahun sebelum mengikuti seleksi beasiswa.

Waktu persiapan diperlukan karena sejumlah persyaratan membutuhkan proses yang tidak sebentar. Tes IELTS, GRE, hingga komunikasi dengan calon supervisor riset menjadi beberapa hal yang perlu dipersiapkan sejak jauh hari.

"Jangan mendadak baru mau deadline sebulan, baru mau daftar sekarang. Apalagi mau deadline dua minggu lagi baru mau daftar, ya ga bisa lah," tegas dia.

Selain memenuhi persyaratan administratif, calon pendaftar bisa menggunakan waktu tersebut untuk memperkuat portofolio dan pengalaman leadership. Pemilihan jurusan dan universitas juga perlu dipertimbangkan agar selaras dengan rekam jejak serta rencana setelah kembali ke Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan