Billy Mambrasar dok Instagram @billymambrasar
Billy Mambrasar dok Instagram @billymambrasar

Billy Mambrasar Ungkap Konteks Utuh Pidato Prabowo: Desa Tetap Terdampak Dolar, Tapi Lebih Lama

Ilham Pratama Putra • 20 Mei 2026 09:45
Ringkasnya gini..
  • Billy Mambrasar menilai pernyataan Prabowo soal masyarakat desa tidak memakai dolar memiliki dasar teori ekonomi pembangunan.
  • Dampak kenaikan dolar lebih cepat dirasakan masyarakat perkotaan karena lebih terhubung dengan barang impor hingga pasar global
  • Billy menegaskan masyarakat desa tetap terdampak pelemahan rupiah, namun efeknya lebih lambat.
Jakarta: Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto soal masyarakat desa 'tidak memakai dolar Amerika' menjadi perbincangan di media sosial. Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Papua Kabinet Merah Putih, Billy Mambrasar, menyebut potongan pernyataan itu mesti dilihat secara utuh.
 
Billy menilai ucapan Prabowo memiliki dasar teori ekonomi pembangunan yang kuat bila dipahami secara utuh. Dia mengatakan publik seharusnya tidak hanya mengambil satu potongan kalimat tanpa memahami konteks lengkap pidato Kepala Negara.
 
Menurut dia, dalam ilmu ekonomi pembangunan, terdapat teori yang menjelaskan mengapa dampak kenaikan dolar lebih cepat dirasakan masyarakat perkotaan dibandingkan dengan pedesaan. Ia mengutip teori peraih Nobel Ekonomi W. Arthur Lewis dalam Dual Economy Theory atau Dual Sector Model. 

"Teori ini menjelaskan bahwa negara berkembang seperti Indonesia memiliki dua struktur ekonomi yang berjalan secara bersamaan, yakni sektor tradisional pedesaan dan sektor modern perkotaan,” papar Billy dalam unggahan akun Instagramnya @billymambrasar dikutip Selasa, 19 Mei 2026.
 
Ia menjelaskan sektor tradisional pedesaan umumnya berbasis pertanian lokal, hasil kebun, pasar tradisional, dan ekonomi subsisten yang keterhubungannya dengan pasar global maupun sistem keuangan internasional masih terbatas. Sementara itu, sektor modern perkotaan dinilai jauh lebih sensitif terhadap gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
 
“Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar biasanya lebih cepat memukul sektor modern perkotaan. Misalnya barang impor, elektronik, pendidikan luar negeri, tiket internasional, hingga industri manufaktur dan pasar modal. Karena itu, ketika dolar naik, masyarakat perkotaan kelas menengah ke atas biasanya lebih cepat merasakan dampaknya,” ujar Billy.
 
Ia menegaskan pernyataan Presiden bukan berarti masyarakat desa sama sekali tidak terdampak kenaikan dolar. Namun, efeknya cenderung datang lebih lambat dibandingkan dengan masyarakat kota.
 
 
Baca juga: Bukan Sekadar Nama di Buku Sejarah, Inilah Daftar Ilmuwan Dunia Paling Terkenal

 
“Bukan berarti masyarakat desa tidak merasakan dampaknya. Ingat ya, bukan berarti tidak, tapi lebih lama,” tegas dia.
 
Billy juga mengaitkan hal itu dengan teori Purchasing Power dan Consumption Basket Theory. Menurut dia, setiap kelompok masyarakat memiliki pola konsumsi berbeda sehingga efek pelemahan rupiah juga dirasakan dengan cara berbeda.
 
“Rumah tangga berpenghasilan rendah umumnya membelanjakan pendapatannya untuk kebutuhan dasar seperti beras lokal, singkong, ikan, sayur, dan jasa informal lokal. Karena keranjang konsumsi mereka lebih banyak berasal dari produk domestik, maka dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi sering kali tidak langsung terasa dalam jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang, nanti akan terasa,” jelas dia.
 
Billy menilai secara akademis pernyataan Prabowo tidak dapat dimaknai sebagai penyangkalan terhadap dampak kenaikan dolar bagi masyarakat desa. Menurut dia, yang disampaikan Prabowo adalah perbedaan kecepatan dampak antara masyarakat kota dan desa dalam struktur ekonomi Indonesia yang masih dualistik.
 
“Jadi secara akademis, Presiden Prabowo bukan menafikan bahwa kenaikan dolar tidak berdampak sama sekali ke masyarakat desa. Tapi dalam struktur dualistik Indonesia, maka dampak tersebut lebih cepat dirasakan oleh masyarakat kota dibandingkan dengan masyarakat desa yang ekonominya masih berbasis lokal dan subsisten,” tutur Billy.
 
Di akhir pernyataannya, Billy mengingatkan publik agar memahami pidato pemimpin negara secara menyeluruh. Masyarakat diharapkan tidak hanya mengambil potongan pernyataan tertentu untuk kemudian disimpulkan secara dangkal.
 
“Karena itu, dalam memahami pidato seorang pemimpin, kita perlu melihat konteks utuh dan memahami perspektif teorinya. Bukan hanya memotong satu kalimat lalu menyimpulkan secara dangkal,” ujar dia
 
Baca juga: Tanpa Obat dan Operasi, Terapi Magnet 5 Hari Ini Bisa Tingkatkan Komunikasi Anak Autis

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA