Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mengatakan, di era ini, siswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk mengeluarkan fakta. Tapi juga bisa memahami konteks informasi.
"Pendidikan harus memastikan siswa memiliki kemampuan untuk memahami dan menilai informasi yang diperolehnya," kata Stella dalam siaran Bersama Indonesia di Metro TV, dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
| Baca juga: Sambut 9.411 Mahasiswa Baru, PKKMB Unair 2026 Ditutup Bagi-Bagi Laptop hingga Aksi Yura Yunita |
Stella mengatakan kemajuan AI tidak seharusnya membuat siswa kehilangan kemampuan. Malah hadirnya AI dapat mempertegas perbedaan kemampuan manusia dengan teknologi.
"Jadi yang harus kita lakukan di pendidikan kita, apa pun jenjangnya, itu adalah proses," kata Stella.
Stella mencontohkan kemampuan siswa dalam membuat karya tulis. Menurut dia, siswa perlu mengalami sendiri proses menghasilkan karya, dengan tujuannya siswa dapat mengembangkan kemampuannya.
"Kalau siswanya tidak pernah menulis sendiri, membuat karangan sendiri, bagaimana bisa tahu karangan mana yang bagus atau tidak," ujarnya.
Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan pendidikan tinggi. Mahasiswa, kata Stella, perlu terbiasa memikirkan pertanyaan riset sendiri agar dapat menilai apakah pertanyaan yang dibuatnya sudah tepat.
"Mahasiswanya tidak pernah memikirkan pertanyaan riset, bagaimana bisa tahu apakah pertanyaan risetnya tepat atau tidak," kata Stella.
Karena itu, Stella tidak memandang AI sebagai sesuatu yang harus dijauhkan dari pendidikan. Teknologi tersebut tetap dapat digunakan, tetapi tidak menggantikan proses berpikir dan belajar.
"Kita bisa menggunakan alat apa pun termasuk AI-nya, tapi kita harus berproses," tegasnya.
| Baca juga: Salah Kaprah Internship Dokter, Pakar FKUI: Bagian Pendidikan Profesi, Bukan Sekadar Magang! |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda