Jakarta: Para peneliti dari IRCCS San Raffaele Scientific Institute di Italia berhsil mengobati dua pasien neuromyelitis optica (NMO) dengan transplantasi sel hematopoietik alogenik (alloHCT). NMO merupakan penyakit autoimun parah dan agresif.
Tanpa pengobatan, NMO dapat menyebabkan kecacatan serius, karena antibodi yang menyerang tubuh sendiri (AQP4-IgG) merusak sel-sel astrosit yang berfungsi sebagai pendukung di otak dan sumsum tulang belakang. Terapi untuk mengelola kondisi ini memang sudah ada, tetapi biayanya mahal, tidak selalu efektif, serta memiliki risiko tersendiri dan kekambuhan sering terjadi.
Dikutip dari laman sciencealert.com, transplantasi sel hematopoietik alogenik (alloHCT) bekerja menggunakan sel punca dari donor lain. Kemudian, digunakan untuk mengatur ulang sistem kekebalan tubuh pasien dan memprogramnya agar berhenti menyerang dirinya sendiri.
Kedua pasien berusia 28 tahun saat menjalani pengobatan dan hasilnya sangat luar biasa.
"Selama lebih dari 15 tahun masa pemantauan, kedua pasien tidak mengalami kekambuhan sama sekali, tanpa memerlukan obat penekan kekebalan tubuh secara berkelanjutan, disertai peningkatan kualitas hidup, serta antibodi penyebab penyakit yang hilang secara permanen," tulis para peneliti dalam jurnal mereka.
"Sistem kekebalan baru mereka tetap stabil dan menunjukkan tanda-tanda regulasi imun yang lebih baik."
Pasien laki-laki mengalami perbaikan fungsi neurologis dan telah memiliki dua anak sejak menjalani pengobatan alloHCT. Ia kini telah "kembali menjalani kehidupan normal", menurut para ahli.
Meski perubahan pada pasien perempuan tidak sedramatis itu, ia tetap "mencapai kualitas hidup yang baik" tanpa perlu obat tambahan lagi. Ia juga berhasil memulihkan sebagian fungsi lengannya.
Para peneliti menyebutkan hingga saat ini, belum ada terapi yang disetujui yang memungkinkan pasien bebas dari pengobatan. Sekaligus, tetap mempertahankan kendali penyakit yang stabil serta hilangnya antibodi penyebab penyakit secara total.
Pendekatan alloHCT sebelumnya telah digunakan untuk mengobati kondisi seperti kanker dan penyakit sel sabit, serta pernah dicoba pada sejumlah kecil kasus NMO. Namun, penelitian ini merupakan laporan dengan masa pemantauan terpanjang pada pasien alloHCT dengan NMO hingga saat ini, yaitu 15 dan 16 tahun.
Sebelum transplantasi sel punca dilakukan, pria dan wanita tersebut terlebih dahulu diberikan obat kemoterapi fludarabine dan treosulfan untuk membersihkan sel-sel B dalam sistem kekebalan tubuh mereka sebagai persiapan reset total. Sel B inilah yang memproduksi antibodi AQP4-IgG yang menyerang astrosit.
Begitu sel donor yang sehat dimasukkan ke dalam aliran darah, sel-sel tersebut akan berkembang biak dan membangun kembali sistem pertahanan tubuh dari awal tanpa kehadiran antibodi AQP4-IgG yang merusak.
Ini merupakan pilihan pengobatan yang drastis, dan banyak hal bisa saja tidak berjalan sesuai rencana saat sistem kekebalan tubuh dimatikan lalu diaktifkan kembali.
Namun, seperti yang ditunjukkan penelitian ini, jika dilakukan dengan hati-hati, metode ini mampu mengatasi cengkeraman berbahaya dari neuromyelitis optica. Perlu diingat, kedua pasien ini dipilih karena pendekatan pengobatan sebelumnya tidak berhasil pada mereka.
"Dalam lanskap terapi yang terus berkembang ini, alloHCT sebaiknya dipertimbangkan dalam kerangka kerja risiko-manfaat yang seimbang dan disesuaikan secara individual," tulis peneliti.
"Penggunaannya paling baik disediakan untuk pasien muda terpilih yang tidak dapat mentoleransi terapi standar dan memiliki penyakit agresif yang resistan terhadap pengobatan, atau disertai kondisi autoimun lain yang menyertainya."
Masa pemantauan yang panjang dalam penelitian ini menjadi bukti efek jangka panjang dari prosedur tersebut, meskipun jumlah sampelnya masih sangat kecil, yakni hanya dua orang.
Meski begitu, metode ini tetap berisiko. Setelah menjalani alloHCT, pasien pria mengalami defisiensi imun kronis yang membutuhkan suplementasi antibodi berkelanjutan, serta sempat mengalami pembengkakan kelenjar getah bening yang kemudian mereda dengan sendirinya. Sementara itu, pasien wanita mengalami kanker kandung kemih yang berhasil diatasi melalui operasi.
Penyebab kondisi yang dialami pasien pria masih belum dapat dijelaskan, dan kedua komplikasi tersebut tidak terbukti secara langsung disebabkan oleh transplantasi. Para peneliti berharap dapat mempelajari lebih lanjut mengenai bagaimana pilihan terapi ini dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan baru lainnya yang sedang berkembang.
Saat ini, kita mulai melihat berbagai jenis terapi "reset" sistem kekebalan tubuh yang didukung oleh bukti ilmiah, baik menggunakan sel donor maupun sel dari pasien itu sendiri. Seiring berkembangnya perbaikan dalam cara pemberian terapi ini dan minimnya risiko, pendekatan ini menjadi jalan yang menjanjikan untuk terus dieksplorasi.
"Temuan ini menunjukkan pada kasus-kasus tertentu yang terpilih, penggantian sistem kekebalan tubuh mungkin dapat mencapai kendali penyakit jangka panjang dan bahkan kemungkinan kesembuhan, meskipun penelitian dengan skala lebih besar masih diperlukan untuk memastikan keamanannya serta mengidentifikasi kandidat pasien yang tepat," tulis peneliti.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan