Tahun ini, peringatan Hakteknas terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan 31 tahun sejak N-250 Gatotkaca melakukan penerbangan perdananya. Peristiwa tersebut kemudian ditetapkan sebagai tonggak lahirnya Hakteknas.
Sejak saat itu, Hakteknas tidak hanya menjadi peringatan atas keberhasilan sebuah pesawat karya anak bangsa. Momentum ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk menciptakan teknologi sendiri melalui pengetahuan dan kemampuan putra-putri bangsa.
Bermula dari N-250 Gatotkaca
Perjalanan Hakteknas tidak dapat dilepaskan dari sejarah penerbangan N-250 Gatotkaca. Pesawat tersebut merupakan hasil rancangan anak bangsa yang berhasil mengudara di langit Bandung 31 tahun silam.Keberhasilan penerbangan tersebut menjadi peristiwa penting dalam perkembangan teknologi nasional. Dari momen ini kemudian lahir Hakteknas yang diperingati setiap 10 Agustus.
Tiga dekade lebih telah berlalu sejak N-250 Gatotkaca mengudara. Perkembangan teknologi dunia mengalami perubahan yang sangat cepat. Tantangan semakin kompleks dan standar inovasi global terus meningkat.
Meski begitu, semangat yang melatarbelakangi Hakteknas tetap sama. Indonesia terus didorong untuk menghasilkan teknologi melalui kemampuan dan pengetahuan anak bangsa.
Untuk mewujudkan hal itu, riset menjadi salah satu fondasi yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi dan inovasi. Lantas, seberapa penting peran riset dalam mendorong lahirnya teknologi dan inovasi di Indonesia? Ini Penjelasannya dikutip dari akun Instagram @lpdp_ri:
Riset Jadi Kunci Pengembangan Teknologi
Kemajuan teknologi tidak lahir secara instan. Di balik berbagai inovasi terdapat proses penelitian dan pengembangan yang membutuhkan waktu, sumber daya, serta dukungan yang berkelanjutan.Negara-negara yang memiliki ekosistem inovasi kuat umumnya menempatkan riset sebagai investasi jangka panjang. Sejumlah negara maju seperti Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman tercatat mengalokasikan belanja penelitian dan pengembangan atau R&D dalam porsi signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB).
Bahkan alokasi tersebut berada jauh di atas rata-rata negara-negara OECD. Kondisi ini menunjukkan penguatan riset menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kemampuan teknologi dan inovasi sebuah negara.
Indonesia juga terus menunjukkan perkembangan di bidang inovasi. Salah satu indikatornya dapat dilihat melalui posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII).
Peringkat Inovasi Indonesia Meningkat
Perjalanan Indonesia dalam meningkatkan kemampuan inovasi mulai menunjukkan hasil positif. Dalam enam tahun terakhir, posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII) naik cukup signifikan.Indonesia yang berada di posisi 85 dunia pada 2020 berhasil naik 30 peringkat menjadi posisi 55 pada 2025. Meski mengalami peningkatan, Indonesia masih harus bekerja lebih keras untuk mengejar negara-negara lain di kawasan ASEAN.
Dalam GII 2025, Indonesia berada di peringkat keenam ASEAN. Berikut posisi negara-negara ASEAN dalam Global Innovation Index 2025:
- Singapura: peringkat 5 dunia
- Malaysia: peringkat 34 dunia
- Vietnam: peringkat 44 dunia
- Thailand: peringkat 45 dunia
- Filipina: peringkat 50 dunia
- Indonesia: peringkat 55 dunia
Penguatan tersebut tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya peneliti dan perguruan tinggi, lembaga yang menyediakan pendanaan riset juga memiliki peran penting agar penelitian dapat terus berkembang.
Baca Juga :
Prabowo Kumpulkan 150 Peneliti BRIN di Istana, Intip Deretan Inovasi Canggih yang Dipamerkan!
Peran LPDP dalam Mendukung Riset
Salah satu pihak yang turut memberikan dukungan terhadap perkembangan riset nasional ialah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dukungan tersebut diberikan melalui Dana Abadi Penelitian.Dana Abadi Penelitian terus tumbuh setiap tahun sejak dibentuk pada 2020. Pada 2026, nilainya telah mencapai Rp13,99 triliun.
Dukungan LPDP tidak berhenti pada pendanaan penelitian. Dana tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan inovasi, publikasi dan kekayaan intelektual, hingga memberikan apresiasi kepada talenta riset terbaik bangsa.
Dalam menjalankan dukungan tersebut, LPDP berkolaborasi bersama Kemdiktisaintek, BRIN, dan Kementerian Agama. Besarnya dukungan terhadap riset nasional tersebut juga tercermin dari jumlah penelitian yang telah memperoleh pendanaan LPDP selama lebih dari satu dekade.
Ribuan Judul Riset Telah Didanai
Sejak 2013, LPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap 4.830 judul riset dengan total nilai mencapai Rp4,69 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak 2.312 judul riset telah dinyatakan selesai.Penelitian yang didukung juga menghasilkan berbagai capaian yang tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah. Tercatat ada 2.201 produk atau teknologi, 205 kebijakan atau model, 94 entitas usaha baru, 9.044 lulusan.
Selain itu, ada Rp156 Miliar aset yang dimanfaatkan, 91 masyarakat penerima manfaat, 38 lisensi, 4.004 hak kekayaan intelektual. Kemudian, tercatat Rp52 Miliar kontribusi mitra, 186 kemitraan baru, 7.743 publikasi ilmiah, serta 730 penghargaan dan pengakuan yang lahir dari dukungan pendanaan tersebut.
Capaian tersebut menunjukkan dukungan terhadap penelitian dapat menghasilkan berbagai keluaran yang memiliki manfaat lebih luas. Sejumlah hasil riset bahkan telah berkembang menjadi solusi yang dapat digunakan di tengah masyarakat.
Riset Berubah Jadi Solusi Nyata
Berbagai penelitian yang memperoleh dukungan telah menghasilkan inovasi di sejumlah bidang. Salah satunya ialah Floating Ocean Current Power Plant karya UNPATTI.Selain itu, terdapat alat deteksi gangguan otak iBrandU dari ITS, vaksin ikan nila oleh BRPBATPP, AgriSoil: Alat Deteksi Kesuburan Tanah dari Tel-U, prototipe Kereta Cepat Merah Putih dari ITS. Inovasi lainnya datang dari Mesin Batik BUTIMO dari UGM, Turbin Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik dari BRIN, Senjata Turet untuk Kapal Perang dari BRIN, bus listrik karya UI, serta mobil mitigasi bencana PATRIOT-NET dari Tel-U.
Berbagai hasil tersebut memperlihatkan riset tidak hanya menghasilkan angka, laporan, atau publikasi. Apabila mendapatkan dukungan dan dikembangkan dengan baik, penelitian dapat bertransformasi menjadi teknologi dan solusi yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Untuk menjaga semangat tersebut, dukungan terhadap peneliti juga diberikan dalam bentuk penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia.
Apresiasi untuk Peneliti Indonesia
LPDP bersama BRIN rutin memberikan penghargaan kepada para ilmuwan dan peneliti unggulan. Sepanjang 2025, total hadiah yang diberikan mencapai Rp3,75 miliar untuk 21 penerima.Apresiasi itu menjadi bagian dari upaya untuk mendorong para peneliti terus menghasilkan karya dan inovasi bermanfaat bagi bangsa. Dukungan terhadap riset, pengembangan inovasi, publikasi, kekayaan intelektual, hingga apresiasi bagi peneliti menjadi bagian penting dari perjalanan panjang teknologi Indonesia.
Semangat tersebut pada akhirnya kembali pada makna Hakteknas yang lahir dari keberhasilan N-250 Gatotkaca mengudara 31 tahun lalu. Peristiwa itu menjadi pengingat kemampuan teknologi anak bangsa telah memiliki sejarah panjang dan terus berkembang hingga saat ini.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda