Inovasi ini memanfaatkan teknologi citra memakai kamera telepon seluler. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat bisa mengecek langsung kualitas daging sapi yang akan dikonsumsinya memakai handphone android berpatokan pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ditetapkan pemerintah.
"Sementara ini inovasinya masih kami fokuskan pada daging sapi karena tingkat akurasinya yang masih di posisi 84 persen," kata Kusworo mengutip siaran pers Undip, Jumat, 28 Mei 2021.
Ia mengaku sedang berupaya menaikkan tingkat akurasi supaya lebih proven. Setelah itu, akan dikembangkan untuk jenis daging yang lainnya.
Baca: Garamin, Aplikasi e-Koperasi Buatan Mahasiswa ITS untuk Bantu Petani Garam
Dalam orasi ilmiah perdana sebagai guru besar bertajuk 'Pemanfaatan Teknologi Citra Untuk Penentuan Kualitas Pangan', Kusworo mengatakan inovasi pemanfaatan teknologi citra untuk penentuan kualitas daging didasari kenyataan kalau kemampuan mengecek kualitas daging masih terbatas pada kalangan pakar dan praktisi teknis saja. Padahal, yang sehari-hari berhadapan dengan kondisi itu adalah masyarakat.
Makanya, untuk meningkatkan perlindungan konsumen, Kusworo memandang perlu ada inovasi yang sederhana dan dapat dioperasikan oleh masyarakat luas. Konsumen harus dihindarkan dari konsumsi daging sapi yang tidak berkualitas dan terjaga kemurniannya
"Dalam artian tidak dicampur dengan daging hewan lain. Tentunya dengan cara yang affordable," ujarnya.
Kusworo, yang menyelesaikan pendidikan S1 Fisika di FSM Undip dan menyelesaikan S2 dan S3 pengolahan citra di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, terdorong untuk merancang aplikasi yang mudah digunakan dan memiliki akurasi yang bisa dipertanggung jawabkan. Pilihan pada fasilitas kamera yang ada di android dilandasi pertimbangan hampir semua orang bisa mengoperasikan alat tersebut.
Sementara, pemakaian parameter SNI 3932 : 2008 tentang mutu karkas dan daging sapi. Sebab, itu adalah dasar legal yang ada saat ini.
Mengenai tingkat akurasi, ia menyebut ada beberapa faktor. Selama resolusinya di atas 4 mega pixel, alat tersebut masuk kategori layak dipakai. Namun, cara pemakaian dan teknisnya, seperti jarak antara obyek dengan alat saat pengambilan, kualitas pencahayaan, serta sudut pengambilan, juga bisa berpengaruh terhadap akurasinya.
Ia mengatakan, teknologi yang berkembang sangat pesat di segala bidang perlu didukung inovasi agar mampu membantu menyelesaikan permasalahan yang timbul. Teknologi citra diyakini mampu menguji kualitas pangan melalui proses analisis citra yang meliputi machine learning, visi komputer, pengenalan pola, dan kecerdasan buatan.
Baca: Teknologi Baru GeNose Bisa Deteksi Covid-19 Varian D64G
Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Bisnis dan Komunikasi FSM Undip itu menyatakan, implementasi teknologi citra untuk penentuan kualitas pangan sudah banyak dilakukan. Misalnya, penentuan kualitas untuk buah dan sayuran.
Namun, untuk daging yang nilai ekonominya cukup tinggi masih jarang. Dengan begitu, perlu didorong agar masyarakat luas bisa melakukannya secara mandiri.
Ia menerangkan, hasil dari ekstraksi ciri seperti marbling score, warna daging, dan warna lemak kemudian diolah dengan menggunakan rule base untuk mendapatkan klasifikasi kualitas daging berdasarkan SNI 3932:2008. Proses itu sangat cepat, namun terukur. Perangkat lunak yang digunakan adalah android studio dan openCV.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News