Paparan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Syiffa Fauzia. Foto: BRIN
Paparan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Syiffa Fauzia. Foto: BRIN

Cuma 1 Jam! BRIN Bikin Alat Tes Cepat Zat Pemicu Kanker pada Minyak Sawit

Citra Larasati • 15 September 2026 13:49
Ringkasnya gini..
  • BRIN ciptakan alat uji cepat pendeteksi zat karsinogenik di minyak sawit murni lewat teknologi polimer pintar.
  • Inovasi ini bekerja bak kunci dan gembok. Jika mendeteksi zat pemicu kanker, sampel minyak otomatis berubah warna.
  • Uji lab yang awalnya butuh belasan jam kini dipangkas jadi 1 jam saja. Kualitas minyak sawit RI siap tembus global!
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan alat uji cepat untuk mendeteksi kontaminan 3-MCPD dan glycidol pada minyak kelapa sawit murni (refined palm oil). Inovasi berbasis molecularly imprinted polymers (MIP) tersebut memungkinkan deteksi kontaminan secara lebih cepat dan praktis, sehingga berpotensi mendukung pengawasan mutu dan keamanan pangan.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Syiffa Fauzia, memaparkan pengembangan alat uji cepat untuk mendeteksi dua kontaminan pada minyak kelapa sawit murni atau refined palm oil, yaitu 3-monochloropropane-1,2-diol (3-MCPD) dan glycidol.

Pemantauan kedua senyawa tersebut penting karena berdasarkan klasifikasi International Agency for Research on Cancer (IARC), keduanya berpotensi karsinogenik bagi manusia. Kondisi ini mendorong penerapan regulasi ketat, termasuk di Uni Eropa, terkait batas maksimum kontaminan dalam produk minyak nabati.

“Kontaminan tersebut terbentuk selama proses pemurnian minyak pada suhu tinggi. Meskipun metode laboratorium seperti kromatografi gas memiliki akurasi tinggi, prosesnya membutuhkan waktu dan biaya yang cukup besar,” kata Syiffa dalam webinar ORNAMAT ke-91, dikutip dari laman BRIN, Selasa, 15 September 2026.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Syiffa dan tim kelompok riset kimia analitik memanfaatkan teknik MIP. Teknik ini menghasilkan ruang pengenal pada struktur polimer yang ukuran dan bentuknya persis sama dengan molekul target, yaitu 3-MCPD dan glycidol, serta mengabaikan senyawa pengganggu dalam minyak.

“Prinsip MIP bekerja seperti kunci dan gembok yang sangat spesifik. Rongga dalam polimer dirancang untuk mengenali molekul target sehingga mampu memisahkan kontaminan dari matriks minyak dan mencegah hasil positif palsu,” jelas Syiffa.
 
Polimer tersebut kemudian dipadukan dengan nanopartikel perak (AgNPs) yang dimodifikasi dengan sistein. Interaksi kimiawi yang terjadi saat kontaminan terikat akan memicu penggumpalan nanopartikel dan menghasilkan perubahan warna dari kuning menjadi cokelat yang dapat diamati secara langsung.

Menurut Syiffa, rapid detection kit ini unggul dalam efisiensi waktu, sensitivitas, dan kemudahan penggunaan di lapangan. Proses pengujian, mulai dari pemisahan hingga deteksi warna, dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat.

“Jika pengujian laboratorium membutuhkan waktu hingga belasan jam, metode uji cepat ini dapat memangkas seluruh proses, mulai dari ekstraksi hingga pembacaan warna, menjadi sekitar satu jam dengan batas deteksi yang memenuhi standar internasional,” tegas Syiffa.

Pengembangan kit deteksi cepat berbasis MT-MIPs tersebut diharapkan dapat digunakan untuk pemantauan awal (early screening) di industri dan pengawasan oleh regulator. Inovasi ini turut mendukung jaminan mutu, keamanan pangan, dan daya saing minyak kelapa sawit Indonesia di pasar global. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan