"Kami berharap penelitian ini dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan kandidat neuroprotektif berbasis bahan alam yang dapat diteliti lebih lanjut,” ujar Ketua Tim Karen Gabriella Angelina Lubis dalam keterangan tertulis, Senin, 14 September 2026.
Tim mengembangkan sistem co-amorphous berbasis kurkumin dan asam askorbat sebagai kandidat neuroprotektif untuk penyakit Alzheimer. Kurkumin berpotensi sebagai senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Namun, pemanfaatan kurkumin masih menghadapi kendala karena kelarutan dan bioavailabilitasnya rendah. Kondisi tersebut dapat membatasi jumlah kurkumin yang tersedia untuk mencapai target biologisnya, termasuk otak.

Tim Mahasiswa Farmasi Unpad. DOK Unpad
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim mengembangkan sistem co-amorphous dengan mengombinasikan kurkumin dan asam askorbat. Sistem ini dibuat melalui metode evaporasi pelarut dan kemudian diuji melalui sejumlah metode, antara lain molecular docking, uji kelarutan dan permeabilitas, serta karakterisasi fisikokimia menggunakan PXRD, DSC, FTIR, dan SEM.
Potensi neuroprotektifnya kemudian diuji pada tikus Wistar yang digunakan sebagai model Alzheimer. Pengujian dilakukan menggunakan metode Morris Water Maze untuk mengevaluasi memori spasial.
Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologi menggunakan pewarnaan hematoksilin-eosin (H&E) untuk mengamati kondisi jaringan otak. Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan fungsi memori spasial pada kelompok tikus model Alzheimer yang menerima perlakuan berupa sistem co-amorphous kurkumin-asam askorbat.
Hal itu dituangkan dalam penelitian berjudul Neuroproteksi Alzheimer Berbasis Sistem Co-Amorphous: Rekayasa Kurkumin-Asam Askorbat melalui Docking Molekuler dan Validasi In Vivo”. Penelitian dilakukan oleh Karen Gabriella Angelina Lubis, Rosa Agnestasia Tambunan, Chelsea Angela, Amalia Dayana Fuziah, dan Fawwaz Siradjuddin Haris di bawah bimbingan Prof. Dr. apt. Iyan Sopyan, M.Si.