Saat kadarnya merosot drastis, tubuh rentan mengalami gangguan fungsi gerak, mulai dari keram menyiksa hingga kejang. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa, MSc menjelaskan bahwa kalsium membantu mengatur bagaimana saraf mengirimkan sinyal kepada otot.
“Kalsium tidak hanya dikenal sebagai mineral pembentuk tulang, ia juga membantu mengatur bagaimana saraf mengirimkan sinyal kepada otot,” jelasnya dari siaran pers IPB, Kamis, 5 November 2026.
Hipokalsemia: Ketika Kalsium Menurun
Secara sederhana, Widya mengurai, saraf dapat diibaratkan seperti “kabel listrik” yang mengirimkan sinyal untuk memerintahkan otot bergerak. Saraf memiliki ambang tertentu sebelum dapat menghasilkan impuls listrik.“Ketika kadar kalsium dalam darah terlalu rendah (hipokalsemia), ambang tersebut ikut menurun. Akibatnya, saraf menjadi lebih mudah menghasilkan impuls meskipun rangsangannya kecil.
Otot yang menerima impuls tersebut kemudian ikut berkontraksi secara berlebihan dan berulang tanpa dikehendaki,” jelas Widya.
Gejalanya pun tidak selalu berupa keram pada betis. Kekurangan kalsium yang cukup berat dapat ditandai dengan kesemutan di sekitar mulut atau ujung jari, kedutan otot, keram pada tangan dan kaki, hingga tangan yang tiba-tiba mencengkeram atau menekuk.
Tak Selalu Karena Kalsium
Namun, keram atau gerakan seperti kejang tidak selalu berarti kekurangan kalsium. Kekurangan magnesium atau natrium, dehidrasi berat, gangguan keseimbangan elektrolit, gula darah yang sangat rendah, penyakit pada otak seperti stroke, infeksi otak atau cedera kepala, efek obat atau keracunan, hingga gangguan ginjal dan hati yang berat juga dapat menimbulkan gejala serupa.Bukan Sekadar Asupan
Hipokalsemia sendiri tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan makanan berkalsium. Tubuh memiliki sistem yang mengatur kadar kalsium melalui kelenjar paratiroid, vitamin D, dan ginjal. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon PTH yang membantu mempertahankan kadar kalsium darah.Sementara itu, vitamin D dibutuhkan agar kalsium dari makanan dapat diserap dengan baik oleh usus. “Jadi seseorang dapat mengonsumsi kalsium, tetapi bila vitamin D sangat rendah, penyerapannya tetap tidak optimal,” terang Widya.
Penyakit ginjal berat juga dapat mengganggu keseimbangan kalsium dan fosfat, sementara gangguan saluran pencernaan dapat menyebabkan penyerapan kalsium tidak berjalan optimal.
Risiko hipokalsemia lebih tinggi pada orang yang pernah menjalani operasi tiroid, paratiroid, atau leher, mengalami kekurangan vitamin D, malnutrisi, penyakit ginjal atau hati kronis, kekurangan magnesium, serta gangguan penyerapan pada usus.
Cukupi Kebutuhan
Untuk menjaga kadar kalsium, kebutuhan sebaiknya dipenuhi terutama melalui makanan. Kebutuhan kalsium orang dewasa secara umum sekitar 1.000 mg per hari.Sumbernya dapat diperoleh dari susu, yogurt, keju, sarden, tahu yang diproses menggunakan kalsium, sayuran hijau, serta makanan atau minuman yang difortifikasi kalsium.
“Selain kalsium, kadar vitamin D juga perlu dipertahankan karena vitamin D membantu usus menyerap kalsium,” pungkasnya.